Sabtu, 16 Februari 2008

Pesantren Ilmu Giri

JAWA POS, Senin 11 Februari 2008, memuat opini berjudul Madrasah Hijau Indonesia tulisan Dr Saleem H. Ali, wakil Dekan Pendidikan Tinggi di University of Vermont’s Rubenstein School of Emvironment.
Dalam tulisan itu ia menulis tentang bentuk gerakan lingkungan hidup yang dipelopori Nasrudin Anshory di pedalaman Jawa Tengah yang komitmennya terhadap bumi tidak didasarkan pada buku-buku teks konservasi dari Barat.
Tak ada yang salah pada tulisan Saleem H. Ali’itu.
Tetapi, ada hal kecil yang perlu diluruskan.
Lembaga penggiat lingkungan hidup tersebut sebenarnya bukan madrasah dalam pengertian umum.
Sebenarnya sejenis pesantren atau lebih tepat disebut "Pesantren Budaya Ilmu Giri". Kebetulan sayalah yang diminta mencari nama pesantren itu. Diberi nama Ilmu Giri karena yang diajarkan adalah ilmu model budaya giri (gunung).
Yang diajarkan di situ adalah ilmu mencintai alam dan lingkungan berdasarkan tradisi nenek moyang.
Sejak didirikan lima tahun lalu, santrinya adalah masyarakat di sekitar pesantren. Jumlahnya 840 kepala keluarga yang bukan hanya mengaji agama, tapi juga mengaji alam dengan cangkul. Mereka mudah diajak mencintai lingkungan karena bahasa yang dipakai menggunakan idiom lokal (Jawa). Tempatnya yang benar bukan di pedalaman Jawa Tengah, melainkan di puncak salah satu "pegunungan seribu", tepatnya di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di lereng-lereng gunung itulah masyarakat kembali menggarap tanah warisan. Ahli waris yang baik tidak boleh membiarkan tanah warisan para pahlawan menjadi lahan tidur yang tidak produktif.
Cinta warisan itu bertemulah dengan nilai-nilai agama, sebagaimana firman Tuhan, "Allah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menyuruh kamu memakmurkan bumi" (QS. Hud, ayat 61).Dari sini lahir sejenis teologi, berupa perpaduan antara perintah Tuhan untuk memakmurkan bumi dengan naluri dan cita mulia manusia untuk hidup sejahtera.
Teologi seperti itu bukan diajarkan sebagai kata-kata yang dihafalkan, tapi lebih diupayakan menjadi etos yang menggerakkan kerjanya. Kini kerja nyata masyarakat sekitar pesantren telah mengubah lereng gunung yang tandus itu menjadi hutan sekaligus lahan pertanian yang bisa dipetik hasilnya.Barangkali itulah sebabnya banyak menteri dan peneliti datang ke Pesantren Ilmu Giri, termasuk Saleem H. Ali pada November 2007.
Dalam rangka menggerakkan masyarakat peduli alam itu, Jumat 15 Februari 2008, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM-UGM), yang dipercaya Unesco sebagai pusat program pembangunan dan pendidikan berkelanjutan mengadakan rapat konsolidasi Regional Centres of Expertise (RCE) Yogyakarta.
Tidak kurang dari 14 lembaga, yayasan, dan komunitas yang diundang, mulai Walhi Yogyakarta sampai pengurus Komunitas Code Utara. Pesantren Ilmu Giri diwakili KH Nasrudin Anshory. Saya ikut mendampingi.Di bawah pimpinan Dr Joko Prastowo MSi, dialog berjalan lancar.
Hampir tidak ada perdebatan karena semua bertekat bulat untuk membantu masyarakat.Ada istilah yang dimunculkan oleh pimpinan sidang, yaitu "empati". Istilah "empati" dan "altruisme" memang tidak populer di negeri ini. Meskipun demikian tidak berarti masyarakat tidak punya sensibilitas kemanusiaan.
Toh dari budaya Jawa sendiri, ada ungkapan menehana teken marang wong kang wuta (berilah tongkat kepada orang buta).
Maksudnya, menggiatkan umat untuk sadar, cerdas, dan berdaya di tengah percaturan hidup.
Nah, kerja yang digagas Unesco dan LPPM-UGM ini kalau benarbenar terwujud adalah manifestasi dari adagium lokal (Jawa) di atas.
Bukankah itu altruisme ala Indonesia? Apalagi program pembangunan dan pendidikan berkelanjutan mempunyai visi hamemayu hayuning bawana (mewujudkan kemakmuran dan keindahan alam semesta).
Ternyata, Unesco, UGM, Walhi, Ilmu Giri, dan komunitas lainnya jika bergandeng tangan dan berniat ikhlas untuk kemanusiaan, menjadi tidak mempunyai alasan untuk berbeda. Apalagi memperuncing perbedaan. Di sini ilmu gunung dan ilmu pesisir menjadi satu visi. Bahkan Barat dan Timur menjadi satu tujuan: sejahtera dalam kebersamaan. (*)

Tidak ada komentar: