Minggu, 24 Februari 2008

Banyak isyu tentang krisis pangan dunia 2009, iklim global, 'rencana' bencana-bencana nasional dst, tapi saya kira Indonesia akan mencapai kecermelangannya di tahun 2009.
Perkara hutang luar negeri sebenarnya cukup mandatkan pada Kongres Akuntan Nasional, minta mereka berdiskusi kemudian kasih rekomendasi yang menunjukkan betapa simpelnya sesungguhnya masalah itu untuk kita atasi kalau kita mau.
Masalah kepemimpinan, kita berlimpah-limpah calon Presiden dan Pemimpin Nasional. Tinggal ambil dari teritori mana, golongan apa, parpol, suku, Agama dan apapun saja yang sangat siap dengan kandidat-kandidat Presiden. Bahkanpun kaum Selebritis sangat siap memimpin Indonesia, terbukti dengan begitu banyak urusan yang dipercayakan kepada mereka.
Yang paling nyata adalah semakin tercapainya Persatuan Nasional menjelang 2009. Kita bangsa bersuku-suku, tapi cita-cita satu. Kita berbagai-bagai budaya, tapi gawang kehidupan satu. Kita punya banyak Agama, ragam nilai, pilihan-pilihan di segala sisi kehidupan, tapi obsesi kita satu.
Anak-anak kita boleh pilih masuk kuliah di Fakultas Kedokteran, Ekonomi, Tehnik, bahkan Tarbiyah dan Ushuludin: namun harapan hidupnya satu.
*****
Satu cita-cita itu ialah menjadi kaya. Ada kerbau, ada macan, berang-berang, buaya, cacing, badak dan jutaan macam hewan lagi, tapi cita-citanya sama: ingin terbang dengan pakaian kemewahan.
Macam-macam profesinya, macam-macam permainannya, beragam-ragam kostum dan ayat-ayatnya, namun obsesinya menyatu secara nasional, ialah menjadi kaya. Memang ada klise-klise aplikatif: ingin mengabdi kepada bangsa dan Negara. Ingin berbakti kepada Agama dan masyarakat. Dan mungkin benar awalnya memang bercita-cita seperti itu, tetapi begitu ketemu pintu-pintu gerbang keuangan: mulai penuhlah kepala oleh cita-cita tunggal itu.
Kalau anak-anak kecil dikasih iklim: ingin menjadi dokter, insinyur, Presiden. Tapi ujungnya sama saja, yaitu menjadi kaya. Milih jadi orang kaya meskipun tidak jadi dokter, daripada sebaliknya. Kalau kerja 6 hari menjadi 5 hari, kelak kita runding bagaimana dalam seminggu kita kerja sehari saja dan libur 6 hari, kita sepakati asalkan gaji tetap seperti semula.
Orang memilih tidak kerja tapi dapat gaji daripada kerja tapi tak dapat gaji. Kalau sampai kerja tak dapat gaji maka ayat-ayat tentang hak buruh, HAM dlsb bertaburan di langit dan bumi. Tapi kalau terpaksanya kita balik: tidak kerja tapi dapat gaji, sebenarnya itu yang diam-diam lebih OK dalam hati.
Uang berlimpah jauh lebih menarik dibanding Tuhan. Korupsi jauh lebih dipercaya disbanding hakekat dan metabolisme rejeki. Kalau melebar sedikit: orang diam-diam sudah makin sanggup meragukan Tuhan, tapi tak seorangpun memiliki keberanian untuk meragukan Demokrasi. Orang lebih tertarik pada kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak daripada digniti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kejayaan materi dibanding kemuliaan hidup.
*****
Sejumlah orang akan membantah kalimat-kalimat ini. Tapi saya sendiri sudah terlalu tua untuk mampu membantah hal itu. Saya sudah udzur dan ditipu mentah oleh fakta-fakta kehidupan, sehingga sampai menjelang kepala-6 saya belum memulai apapun untuk memperjuangkan karier saya: jangankan lagi untuk menegakkan kebenaran.
Tentu saja kalau yang dimaksud karier adalah berkuasa, kaya dan terkenal: sudah lama - menurut ukuran saya dengan hidup tempe sambal dan menikmati cuci kaos piring: saya tidak memiliki problem apa-apa. Tapi yang saya maksudkan karier adalah mandat kekhalifahan dengan konten dan skala yang jelas yang sudah lama saya siapkan namun tidak ada gejala bahwa sejarah manusia ini memerlukan kualitas kesejahteraan hidup semacam itu.
Menjadi kaya adalah isi utama kepala manusia Indonesia. Dan untuk itu dipilih cara dan jalan yang paling bodoh dan malas: akting menjadi pemimpin, ustadz, artis, wakil rakyat, lembaga zakat infaq atau apapun. Jangan kawatir, tentu saja orang juga menikmati hubungannya dengan Tuhan, kenyamanan bernasionalisme, kesantunan social, estetika dlsb, tetapi itu semua sekunder. Yang primer di kepalanya adalah harus ada kenyataan bahwa ia berlimpah atau sekurang-kurangnya aman di bidang keuangan. Yang dimaksud aman itu takarannya begini: "Wah, rugi saya, ada proyek basah banget tapi gagal memenangi tender...."
Padahal dia tidak rugi apapun. Tidak rugi pun merasa tidak aman. Aman adalah laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Dasar moral ilmu ekonomi di seluruh muka bumi ini sejak awal memang curang.
Di luar kaya, unsur lain popular juga: powerfull and famous, berkuasa dan terkenal. Tapi kekuasaan dan popularitas juga membawa visi missinya sendiri: merangsang manusia untuk lebih kaya dan lebih kaya.
*****
Kekuasaan adalah jalan paling popular untuk mencapai cita-cita tunggal itu. Maka tidak ada agenda apapun yang lebih diutamakan dibanding apapun dalam kehidupan bangsa Indonesia melebihi agenda politik. Siang malam, tiap bulan, tiap tahun, headline, ngrumpi, obrolan gardu, apapun saja sesungguhnya berpangkal dan berujung pada agenda politik.
Di sebuah Propinsi saya diajak ketemu oleh seorang Walikota, di saat lain oleh sekelompok pemuda dari suatu komunitas, juga di malam lain seorang pemimpin pembela kaum muskin urban – semuanya untuk agenda yang sama: yakni membicarakan nasib ribuan orang yang berumah di bawah jalan tol.
Tatkala ajakan itu disampaikan kepada saya, saya benar-benar sibuk menonton televisi yang menayangkan berita bahwa Pak Gubernur Propinsi itu sedang naik podium menyatakan akan mencalonkan diri menjadi Presiden mendatang. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis dan shalat taubat kepada Allah gara-gara seekor onta terpeleser nun jauh di sana namun masih di wilayah tanggung jawab kekhalifahannya. Ia begitu merasa bersalah. Agenda Pak Umar benar-benar berbeda dengan agenda Pak Gubernur.*****

Jumat, 22 Februari 2008

Recent Posting "The Conductors"






ChicLicious
Februari 18, 2008
Nonton “The Conductors”
Diarsipkan di bawah: Brainstroming ajah!, movie freaks — chic @ 2:17 pm

Untuk entah berapa hari ini postingan dari tempat lain saya tampilkan secara live disini...
ketika pertama baca postingan ini darah biru ayas langsung bergolak...
nasionalisme lokal yang bergelora membaca postingan dan komentar dari orang lain(bukan aremania)lebih orsinil, nggak subyektif, tentang AREMA dan AREMANIA serta hubungannya dengan Indonesia, budaya dan kompleks.... silakan baca & komntar sendiri,
Edannya kayak sudah diskenario saja sama Sang Maha Sutradara, kala baca postingan ini penjual VCD didepan Warnet SMS nyetel lagunya arema De-cross dengan kencengnya, klop sudah. sampek begidik...
sengaja nggak ayas link karena saking responnya dengan postingan ini. Kedua, ini nemu dan kesasar, takutnya nanti sudah hilang atau sulit nyarinya.
kalau lihat versi aslinya ngelink aja ke blognya langsung,


selamat menikmati....
Pintu Bioskop sudah dibuka...



Hari Sabtu pagi, 16 Februari kemaren saya mengorbankan jatah bangun siang weekend saya untuk nonton film “The Conductors” di Blitz Megaplex Grand Indonesia (jam 10 pagi aja gitu mulainya). Film ini dibuat oleh Andi Bachtiar Yusuf lewat Bogalakon Pictures. Hari itu ada first commercial release film itu sendiri (setelah premiere-nya di JiFFest bulan Desember tahun kemaren). Diputar untuk umum tanggal 20 Februari 2008 nanti.

Kenapa saya bisa nonton film ini? Kebetulan diajak sama anak-anak Juventini Indonesia yang kebetulan dapet undangan gratis dari Bola Vaganza. Ya saya ikut deh, pengen tau aja seperti apa film yang katanya “ngga biasa” itu.

Jam 10 kurang, saya (dan anak-anak Juventini) udah nonggol di Blitz GI. Masih sepi banget. Sampai setengah 11 filmnya belum mulai juga. Saya melihat anak-anak lain asik bercakap-cakap dengan komunitas pencinta bola lainnya. Ada yang dari Milanisti, ada yang dari Pasopati-nya Solo, ada Jakmania juga kayaknya… Saya sih ngga kenal dengan komunitas-komunitas itu… hihihi.. jadi saya asik melihat-lihat poster-poster film yang lagi ditayangin ajah.

Acaranya sendiri baru dimulai jam 11 kurang (huaaaaah… Endonesah banget yah… ngaret!). Mungkin karena yang dateng sedikit. Undangannya terbatas kali ya? atau mungkin komunitas-komunitas yang lain udah nonton pas premiere di JiFFest kemaren itu (dan saya ngga tau apakah ketiga tokoh yang ada difilm itu juga dateng atau ngga).
Dimulai dengan acara games yang kurang seru, sampai perkenalan dengan sang sutradara, akhirnya filmnya diputar juga.
Bercerita tentang 3 orang yang berprofesi sebagai konduktor dan suka duka mereka dalam menggeluti bidang itu.

Adalah Addie MS (ngga perlu saya cerita toh siapa dia…), A.G. Soedibyo, - seorang dosen di Fisipol jurusan Komunikasi UI, konduktor untuk UI Choir - yang kuliah di UI pasti tau deh, dan Yuli Soemphil - konduktor untuk suporter Aremania, yang menjadi fokus film bergenre dokumenter ini.

Awal film, kita sudah disuguhi bagaimana massa Aremania itu di stadion dengan Yuli sebagai sang konduktor memimpin mereka melakukan koreografi-koreografi sederhana tapi cantik lengkap dengan lagu-lagu dan yel-yel mereka (sayangnya kebanyakan lagu-lagu itu masih mengganti lirik dari lagu-lagu yang populer dan lebih sayangnya lagi harus ada kata-kata “ngga pantes” seperti “tj****k” di dalam lagu tersebut…).

Lalu berganti dengan sosok Pak Dibyo dan bagaimana dia mengendalikan ribuan anak baru UI yang ingin bergabung dalam UI Choirs, dan terakhir menampilkan sosok Addie MS dan Twilite Orchestra-nya.

3 mosaik ini lah yang mendatangi penonton sepanjang film ini. Dan sketsa wawancara dengan para tokoh itu mengenai bagaimana awal dan akhirnya mereka menjalani profesi tersebut sampai sekarang, suka dukanya dan opini mengenai profesi itu sendiri.

Sosok paling menarik dalam film ini, buat saya sih adalah Yuli Soemphil tentu saja. Seseorang yang “bukan siapa-siapa”, tamatan Aliyah yang tidak pernah mengenyam pendidikan kuliah, sehari-hari berjualan galon air mineral yang masih berharap punya pekerjaan tetap dikemudian hari nanti.

Well, sangat sederhana. Tapi di stadion, semua massa Aremania yang jumlahnya sekian puluh ribu orang itu, bisa memusatkan perhatian hanya untuk seorang Yuli yang memimpin yel-yel Aremania, yang bukannya hanya sekedar teriak-teriak, tapi bernyanyi dan menari.

Saya bukan Aremania, suer deh!! Selain saya bukan orang Malang, wong Sriwijaya FC aja saya ngga nge-fans kok. Padahal double winner loh tahun ini, hihihihi dan padahal lagi saya lahir dan gede di Palembang… wehehehehe..

Tapi beneran, saya amazed ngeliat penampilannya Aremania itu. Asli cantik!! Sayang sekali harus dikotori dengan kerusuhan yang berakhir dengan merusak stadion milik kesebelasan lain yang notabene adalah tetangga juga . Sayang benerrrrr!!!!

Dan akhirnya, tau apa yang menyatukan ketiga tokoh yang berbeda itu? Lagu Indonesia Raya!! Wooow! Beda bener kalo mendengar lagu tersebut dibawakan secara Choir, secara Orchestra, dan dinyanyikan secara gegap gempita di stadion sepak bola. Suatu perpaduan yang indah dari masing-masing tokoh yang disebut “pemimpin” itu. Well done!!

All in all, film ini bisa jadi persfektif baru di dunia film Indonesia. Saya sudah jenuh liat film horor. Sumpah!! Cukup menarik buat hiburan akhir pekan (dan saya jadi tau kayak apa massa Singo Edan itu.. hehehe). Kemaren ngga bisa banyak nanya sama sang sutradara, jadi saya ngga tau apa yang melatarbelakangi Mas Yusuf bikin film ini. Cuma satu pertanyaan yang masih menggelitik saya, ini film kan Indonesia banget, kenapa sih judulnya harus pake bahasa inggris???

39 Komentar »

eh.. juventini ya ?saya juventino….hehehehkemarin menang 1-0 dari asromaselamat selamatfree kick nya delpiero ciamik deh
Komentar oleh funkshit — Februari 18, 2008 @ 4:43 pm

koment lagi..tadi baca baru sampe juventini aja uadh koment 1. “tj****k” << href="http://funkshit.ariprasetyo.com/" rel="external nofollow">funkshit Februari 18, 2008 @ 4:46 pm

eh,, boleh hetrik ngga tho ??klo nda bole nda papa kok
Komentar oleh funkshit — Februari 18, 2008 @ 4:46 pm

hai chic…..hehe, pertama kali liat judulnya, gw kirain tuh film inggris, eh, taunya indonesia ya?
Komentar oleh steelheart — Februari 18, 2008 @ 5:14 pm

@funkshit
1. juventini? bukaaaaan… saya cuma ikut-ikut sajah… hehehe2. tj****k? duuuh, tanya ma yang bisa suroboyo-an deh… hihihihi3. ngga ada, cuma nyeritain kisah 3 tokoh itu (Addie MS, AG Sudibyo & Yuli Soemphil). Berhubung Yuli itu konduktornya Aremania, ya cuma Aremania aja yang diceritain (eh, ada Jakmania nya juga ding, nyelip dikit)4. hetrik? boleh *asal jangan pertamax*, tapi sekali lagi ditendang aki ismet loooh… *kiding* hahahaha
@steelheart
maka dari itu saiah protes! :p kenapa juga judulnya mesti nginggris gituh?
Komentar oleh Chic — Februari 18, 2008 @ 5:15 pm

Neng Chic… Ane kagak suka nonton pelem Indonesia… kagak ngerti. KAGAK ADA TEKSNYA!!!
Komentar oleh Cabe Rawit — Februari 18, 2008 @ 6:00 pm

@cabe rawit
film ini pake teks kok… bahasa inggris tapi… hihihihi
Komentar oleh Chic — Februari 18, 2008 @ 6:20 pm

Hemm…aku ketemu sutradaranya pas nonton CJ7 di blitz kemarin.Pengen nonton Tapi gag tau film ini bagus gag yaa? *pikirpikir dulu*
Komentar oleh Sarah — Februari 18, 2008 @ 6:25 pm

jupentini detektit…ahahahahahaini film kira2 ntar di kediri bakal diblacklist gak ya? kayak film the jak kan diblacklist di bandung tuh…
Komentar oleh arya — Februari 18, 2008 @ 11:16 pm

waduh, sudah berprasangka buruk kamu juventini. untung bkn. soal pertanyaanmu yg terakhir, emang kira2 alternatifnya apa? sang konduktor? konduktor juga kan bkn bahasa indonesia? apa, dong?
Komentar oleh zen — Februari 19, 2008 @ 12:50 am

Indonesia Raya memang bikin hati bergetar, nurani berasa Maknyessss…
Komentar oleh Mas Kopdang — Februari 19, 2008 @ 8:02 am

@SarahWaaah Mas Yusuf ngapain di Blitz sampe sore? hihihihi
@AryaKediri? Mungkin… hehehehe@ZenEmang kalo saya Juventini kenapa Mas? hahahahaha…Konduktor itu bahasa Indonesia loooh, cuma kalo liat di kamus konduktor bisa banyak arti. tapi kalo kata lainnya untuk konduktor musik sih Dirijen. ga komersil ya? hahahahaha
@Mas Kopdangbetul sekali Mas…
Komentar oleh chic — Februari 19, 2008 @ 9:23 am

Wah, jadi kepingin nonton. Apakah sedang diputar di bioskop atau dijual dalam bentuk VCD. Dimana bisa baca artikel mengenai Yuli yang fenomenal itu ?
Komentar oleh Robert Manurung — Februari 19, 2008 @ 12:24 pm

WAH PERTANYAAN KITA KOK SAMA YAK?
Komentar oleh daeng limpo — Februari 19, 2008 @ 1:11 pm

Ko ga dibilang segh yang Juventini itu suaminya ???
Komentar oleh JoEy D`JuVe — Februari 19, 2008 @ 2:26 pm

@Robert Manurungdiputar di bioskop resmi nya tanggal 20 Feruari Pak, kan udah saya sebut di posting.artikel mengenai Yuli bisa tanya pak dhe gugel kali yaaaa… heeeee
@daeng limpopertanyaannya yang mana ya Pak? soal judulnya pake bahasa inggris? hehehehe
@JoEy D’Juvekan biar misterius.. daku kan penyusup di juventini… hihihi*sampe rumah dijitak nih kayaknya*
Komentar oleh chic — Februari 19, 2008 @ 3:05 pm

waaaa… musti nonton nih…
ya… lumayan buat ngobatin… (nggak bisa nonton langsung 3 tahun)HIKS..
reaches me on:YM ID: fajarmono@yahoo.com.sghttp://www.friendster.com/fajarmonohttp://www.fajarmono.wordpress.com/http://www.flickr.com/photos/fajarmono
Komentar oleh fajarmono — Februari 19, 2008 @ 3:06 pm

ga dijitak… mo di kelitikin aja ampe biar “Si Kecil” kaya main Rodeo an…
oh iya…
SaYaNk Bikin Tulisan tentang “Si Kecil” Donk… kasi di folder sendiri… biar aku bacanya ikut senyam senyum makin kangen sama “Dia”… buat obat kalo Ayah lagi pusink ama kerjaan…
Komentar oleh JoEy D`JuVe — Februari 19, 2008 @ 3:32 pm

klo sudah ikut2 an juventini.. saya anggap juventini jgua eh btw,, ini pilem berdasar ama kerusuhan nya aremania kemarin itu ya ? cepet juga bikin nya..
*lalu apa aremania nya setuju dengan dibikin nya pilem ini, kan citra mereka jadi keliatan tambah jelek itu
Komentar oleh funkshit — Februari 19, 2008 @ 4:06 pm

terus terang, aku gak suka film indonesia. gak tahu kenapa. jadi ya saya pasti nggak akan nonton gimana Addie MS berakting. ngebayangin saja deh.
Komentar oleh jalansutera — Februari 19, 2008 @ 5:00 pm

@fajarmonoAremania ya Mas? hehehe
@funkshitga kok, ga soal kerusuhan. Ini fokusnya lebih ke Yuli Soemphil, sang konduktornya…
@jalansuterafilm nya ga pake akting kok Pak, lah film dokumenter soalnya…hehehesayah juga nontonnya gratisan…
Komentar oleh chic — Februari 19, 2008 @ 5:15 pm

aremaaaa aremaaaa kita di sini aremaaaagak usah nonton filmnya, kestadio aja, langsung ketemu sama yuli
Komentar oleh amicol — Februari 19, 2008 @ 10:56 pm

He heh.. mas yusuf itu sama isteri + baby nya,katanya sih mau nonton Cloverfield..Kaya’nya film itu bagus juga *bersiapSiap mau nonton*
Komentar oleh Sarah — Februari 20, 2008 @ 1:06 am

Kayaknya sy tertarik melihat film dokumenter ini…Bagus diputar buat anak2 muda, sehingga nasionalisme meningkat yah.
Komentar oleh aRuL — Februari 20, 2008 @ 1:27 am

“..Cuma satu pertanyaan yang masih menggelitik saya, ini film kan Indonesia banget, kenapa sih judulnya harus pake bahasa inggris???..”
abis Conductor apa bahasa indo nya? Kondektur? Konduktor? .. jadi laen kan.. hehe makanya musti pake bahasa inggris!
Komentar oleh Viky — Februari 20, 2008 @ 2:15 am

iya nih, yang nentuin jduul niru2 cincha lawra… sok2 pake enggris!
Komentar oleh antobilang — Februari 20, 2008 @ 3:56 am

Alternatif tontonan baru nih. Eh, tj****k = **ancu*?
Komentar oleh -=«GoenRock®»=- — Februari 20, 2008 @ 4:22 am

selaen ngefans ama cinca lawrrhaaa, kan biar kalo pas ke fest2 kmane2 gak perlu pake diinggrisin lagi, lagian biar meneer2 dan noni2 yg tinggal di negeri kita bisa ntn lg kaleeeeee
Komentar oleh cemong — Februari 20, 2008 @ 4:57 am

pengen liat aksi temen2 aremania..yang buat pelem kan komentator bola…eniwei, lam nal yah..
Komentar oleh tehaha — Februari 20, 2008 @ 8:27 am

@amicolyaaah… salam kenal aja yah Mas buat Yuli…
@Sarahiya betul! Cloverfield sepertinya bagus, saya juga siap-siap mo nonton nih… bareng??? hihihihi*belum nonton Jumper juga… hiks*
@aRuLbetuuuuul… dan semoga sepak bola Indonesia ngga rusuh lagi…
@Vikyemang bahasa indonesia-nya ngga ada ya Bang… hihihi… Iya sih, kalo tak pikir-pikir kok ya ngga komersil.. heeeee Ma kasih Bang udah mampir, JJF tahun ini main lagi kah?
@antobilangchincha lawra??? oh mai gaaaat!!! again???
@GoenRockyaaah kira-kira seperti itu lah kata-katanya… *eh saya ngga salah nulis toh?*
@cemongsepertinya emang begitu tujuannya… apa karena kemaren buat JiFFest ya?
@tehahaooh Mas Yusuf itu komentator juga ya? hmmmmm…salam kenal juga
Komentar oleh chic — Februari 20, 2008 @ 9:04 am

nanti kalo sudah pada ntn, kasi komen ya….“kalau suka beritau teman, kalau tidak suka ajak musuh2 untuk nonton,”
Komentar oleh yusuf — Februari 20, 2008 @ 9:42 am

Non, ada pesan dari blog sebelah:
..ditunggu jawabannya
Komentar oleh Mas Kopdang — Februari 20, 2008 @ 11:00 am

ntar coba ditonton deh..
*agak males nonton film indo*
Komentar oleh cK — Februari 20, 2008 @ 11:53 am

keknya menarik. ntar nunggu di rental terdekat aja nontonnya
Komentar oleh nico — Februari 20, 2008 @ 2:47 pm

kalau kamu mau kasih nilai 1 - 100… film ini kamu kasih nilai berapa..?
Komentar oleh alfaroby — Februari 20, 2008 @ 2:54 pm

Kayaknya bagus ya ? Boleh masuk daftar tontonan nich
Komentar oleh Gyl — Februari 20, 2008 @ 3:28 pm

Maaf.
Komentar oleh Mas Kopdang — Februari 20, 2008 @ 5:01 pm

@YusufHaduh… dikunjungin Bapak Sutradara, ma kasih kunjungannya Mas…ditunggu film berikutnya…
@Mas KopdangPesan diterima Mas… matur nuwun..
@cKsok atuh dicoba Mbak Chika… hehehe
@nicoloooh hargailah buatan dalam negeri Mas…
@alfarobyhmmmm? 75 deh! hehehehe *abis dikunjungin sutradaranya niiih*
@Gylsilahkan dicoba nonton….
Komentar oleh chic — Februari 21, 2008 @ 10:24 am

yaah…jadi nyesel baget nggak jadi nonton, kemaren aku juga dapet tiketnya…hiks pas acara malah nggak bisa nonton.. :((makasih yang reviewnya..

Rabu, 20 Februari 2008

NATO

kakean omong...



Hari ini rupanya saya malas bicara...
berimbas pada sesi nulis, bicara dan menulis hampir seperti mati rasa, nggak ada yang ingin dituangkan, ya akhirnya cukup sedikit cerita...
malas bicara dan menulis karena ada keinginan lain dan kebutuhan yang lebih menguat... yaitu inginnya atau sedang konsentrasi pada PRAKTEK.
Mempraktekkan beberapa hal yang selama ini saya konsepkan atau saya tuliskan.
Supaya nggak jadi bumerang jargon yang selama ini saya ciptakan untuk mengkritik teman-teman, apa itu?
GARANG di TULISAN JARANG DIPRAKTEKKAN Atau dalam kata lain NATO (No Action Talk Only) yang diplesetkan jadi No Action Tex Only.
He... he..

Selamat berjuang
menegakkan kata-kata sendiri...

Senin, 18 Februari 2008

Kalah Strat


Hari ini saya kalah strat.
maksudnya?
Baru saja kemarin saya proklamirkan untuk merubah kebiasaan pagi hari dengan menulis... ternyata saya kalah start...
lho kok bisa
iyya... ketika bangun, sisa pemikiran yang jernih terus bergelayut dalam hati dan pikiran, bahkan ketika masih ndoprok di kamar kecil, pikiran jalan terus, kalau mau sudah siap untuk dituangkan, kurang fokus itu apa... terlalu sibuk dengan fasilitas, mungkin...
Tadi setelah bersih-bersih, buka pintu mall, biasanya langsung menghidupkan komputer, setel musik dan (seharusnya nulis...) tapi diluar dugaan listrik padam mendadak... njeglek, waduh!!! tapi ketika saya lirik listrik tetangga masih hidup, saya sedikit tenang, saya hidupkan lagi dari meterannya... alhamduliillah beres. cuma... ada beberapa bagian yang nggak hidup, ketika saya hidupkan dari MCB pembagi (karena besarnya daya dan penggunaan, listrik di SMS dishare beberapa bagian) kalau saya biarkan berarti saya kurang tanggap, kalau saya nunggu ahlinya berarti ini bisa lama, kalau langsung saya betulkan sendiri, saya bukan ahli listrik, jadinya saya amati dulu, saya lihat jalurnya dan saya analisa.
Secara umum listrik nyala, cuma bagian ini yang nggak nyala, kalau dipaksa mati semua, berarti kemungkinannya cuma bagian ini yang konslet atau kelebihan beban. Kalau dicarikan kabel altrenatif terlalu lama dan panjang waktu cari jalur dan perangkatnya... akhirnya saya deteksi dulu, ini konslet atau kena apa? Saya matikan semua, saya cabut stop kontak yang terhubung dengan jalur itu, kemudian saya hidupkan pusatnya, ternyata bisa... jadi seandainya konslet bukan dari kabel pusat yang tak terlihat alias tertanam dalam tembok, kalau ini yang terjadi tentu menyulitkan.
Lalu saya hidupkan satu persatu, saya mulai dari yang urgen dulu, alias yang paling penting, yaitu server.. ternyata hidup... Alhamdulillah.. lalu satunya, hidup juga, lalu satunya, hidup juga, satunya lagi... normal dah.
ternyata begitu simpel, sayang sekali kalau saya tadi menyerah duluan, bisa nggak jalan bisnis saya hari ini.
Terus... saya cek penggodok air saya, kok nggak masak-masak. kalau yang satu ini saya nyerah, pasalnya setelah saya utak-utik tetap nggak nyala, kalau saya ngotot betulkan ini, bisa habis sisa hidup saya, dan ini nggak begitu urgen, masak air nggak bisa, langsung saja beli tehnya di sebelah. Rutinitas saya segera bisa jalan terus.
setelah teh jadi, saya minum... nge'dep komputer lalu..
bingung...
apa yang mau saya tuliskan???
tengar-tenger beberapa saat
setelah saya pikir sejenak, ya itu tadi kalimat pembuka di atas, saya kalah strat, kalah start sama listrik yang error, kalah strat oleh pemasak air yang rusak dan satunya lagi kalah start sama kebiasaan lama yang ternyata nyusul dan menyalip dengan cepat dari belakang.
Waktu pesan teh di warung sebelah, tergeletak koran baru, dan orang pada asyik baca koran, saya jadi ikut-ikutan baca, jadilah pikiran saya asyik dengan berita hari ini, sehingga....
Kacaulah out line saya hari ini, apa yang akan saya tuliskan hari ini menguap begitu saja.
Sehingga tulisan saya jadi gini.. ni... menggelinding tanpa arah yang jelas.
Tapi saya akan terus jalan, sejelek-jeleknya (ini saya edit, saya berusaha meninggalkan bahasa negatif) bagaimanapun bentuknya tulisan saya pagi ini saya telah menulis kan? wahai yang pintar-pintar ajari dhong bikin out line... bikin fokus, sehingga tulisan bisa bagus.

Tapi saya janji.. hari ini juga nggak nunggu besok, saya susul lagi start hari ini saya mau nomor satu hari ini, bukan hanya sekedar nyampe di finish.
mana suporternya...
kasih dukungan dhong!

Minggu, 17 Februari 2008

Itu mah biasa...

Apa yang baik teruskanlah
apa yang kurang bermanfaat efektifkanlah
apa yan kurang jelas tinggalkanlah
apa yang buruk segera rubahlah

Biasanya setelah bangun pagi kebisaan otomatis saya adalah kekamar kecil wudlu sekalian mandi terus sholat, dan... ini titik bagusnya, saya sudah tidak terbiasa tidur lagi atau bangun kesiangan (beberapa bulan lalu kebiasaan bangun kesingan akibat kecapekan muncul lagi)

Setelah terbiasa kembali bangun pagi, tinggal isinya yang perlu ditata, kemarin setelah bangun biasanya bersih-bersih tempat kerja sambil nunggu yang piket pagi hari datang, ketika yang piket pagi hari sudah datang... saya telah menghidupkan 2 computer, yang satu computer server untuk menghidupkan suasana saya setel musik, yang kedua salah satu computer di warnet saya hidupkan, pertama untuk memancing langganan, kedua sambil baca koran via internet, lumayanlah penghematan, daripada beli koran terus lebih baik yang ada ini dimanfaatkan.

Awalnya kurang terbiasa sih, baca koran itu nikmatnya pada timing pertama di pagi hari, bau kertas dan tintanya berbaur dengan minuman kita, sekaligus bau badan sebelum mandi adalah kenikmatan sendiri apalagi ditemani rokok... seperti merdeka hidup ini, itu idiom yang sering diulang-ulang beberapa kawan tentang hidup nikmat itu bagaimana, bergaya layaknya bos yang nggak dituntut jam kerja, padahal bos saja ya nggak kayak gitu gambarannya.
Tapi lama-lama terbiasa juga, beberapa kebiasaan buruk atau yang nggak efektif saya rubah dengan bangun lebih pagi, kemudian bangun langsung minum kopi sambil merokok baca koran harian, ini juga sudah berubah, saya sudah tidak merokok sekaligus gak ngopi, sekarang paling minum teh, ternyata minum teh menyehatkan. Tidak merokok apalagi, walau sedikit aneh (tapi simaklah, Islam itu dulu datang dianggap asing atau aneh, nanti lama-lama diakhir zaman akan dianggap asing/aneh juga) dulu remaja seperti saya merokok dianggap aneh, sekarang sebaliknya kalau ada pemuda seperti saya apalagi yang mukanya muka smoker kayak gini, kerjaannya (melukis, berpikir, berkreasi) identik dengan rokok nggak merokok dianggap aneh, justru itulah saya nggak ngerokok he.. he (gitu aja pake bahasa riwayat islam, padahal cuma mau dianggap beda) oke, saya suka yang beda memang, beda yang positif lho. kalau mau lihat cerita lengkapnya bagaimana saya bisa berhenti merokok beserta strateginya di sini.

Yang jelas, telah saya buktikan bahwasanya sebenarnya bisa!!! kita keluar dari belenggu diri sendiri, keluar dari kebiasaan kebiasaan buruk kita, hanya rutinitas pagi yang cuma berapa menit itu kalau saya rubah sudah berapa waktu dan finansial yang saya investasi ulang dengan baik.
Satu, waktu saya bertambah, daripada tidur, kelihatannya cuma berapa jam... tapi kalau di hitung kali berapa hari hidup didunia ini, pasti jadi banyak hari. Kalau kita manfaatkan jadi tambah umur yang lebih bermanfaat, itu yang namanya do'a umur panjang dikabulkan.

Langganan koran berhenti, lumayan uangnya bisa disodaqohkan, kalau mau baca, lebih dari sepuluh koran diinternet masih bisa. Uang rokok, pernah saya hitung uang rokok kalau kita investasikan... dalam waktu dua tahun kita sudah bisa naik haji oy..., walaupun saya merokok pakek uang sendiri lho (saya merokok sejak sering dapat order lukisan) mulai SMA, berarti hampir 10 tahun yang lalu, seharusnya saya sudah naik haji lima kali???
lagi, saya keluar dari dari sisi syubhat dalam hidup saya... rokok sampai sekarang masih diperdebatkan. Nggak usah berdebat masalah hukumnya, tapi saya lebih enjoy ketika sholat dan berkomunikasi denganNya mulut saya nggak bau sengak ketika mengucapkan lafal-lafalNya... Yang jelas secara finansial lebih untung orang nggak merokok (jujur), lebih sehat (jujur) lebih manis (he he) orang yang gak merokok, lebih disukai camer (calon morokewut) kecuali kalo camernya dukun.

Ok, to the poin, hari ini saya nggak ingin kita perang masalah pilihan merokok vs nggak merokok, koran vs koran online, bangun pagi atau bangun siang atau malah gak bangun sekalian(?), tapi yang ingin ditekankan adalah sebenarnya bisa kita merubah kebiasaan, dan nggak usah lihat motifnya yang sebagian orang bilang alah gitu aja diperdebatkan, wong masalah rokok, koran , bangun pagi aja omongnya kayak bahas situasi negara yang gawat saja.
Sekali lagi jangan lihat sederhananya, nggak akan besar orang yang meremehkan hal-hal kecil lho, ini menurut junjungan kita kanjeng Nabi SAW.

So... mulai rubahlah apa yang kurang baik seremeh apapun, dan jangan anggap remeh, apa yang anda lakukan akan jadi besar bila kita lakukan dengan serius dan kita investasikan untuk kebaikan. Karena tiada yang pasti didunia ini kecuali perubahan itu sendiri, kalau kita nggak mau berubah, kita akan dilindas sejarah, dan itulah yang bisa kita rubah... kebiasaan, kepercayaan, ilmu dan pengetahuan. Itu yang bisa kita rubah.

Kita nggak bisa merubah taqdir, kita nggak bisa merubah bentuk fisik kita, kecuali penampilannya, kita nggak bisa merubah besarnya otak kita, kecuali isinya, kita nggak bisa merubah gender kita, laki-laki atau perempuannya tapi kita bisa merubah yang namanya kejantanan kita, banyak sekali laki-laki yang kayak perempuan alias gak jantan, demikian juga banyak juga perempuan yang jadi jago mengalahkan pejantan-pejantan yang lembek cengeng dan loyo...

So... mulailah berubah... rubahlah kebiasaan-kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik... nggak usah terlalu ekstrim, dari hal-hal yang kecil dulu saja, nggak usah dipaksakan, mulailah merubah satu-persatu saja, jangan langsung dirubah semua, bukannya nggak mungkin, malah jarang berhasilnya, satu saja, bayangkan kalau tiap hari... sudah 365 kebiasaan buruk kita rubah dalam setahun, setahun... kalo puluhan tahun, nggak mustahil kita bisa mendekati taqdir kita mencapai kesuksesan.

Inilah hal terkini yang sedang mulai saya rubah, baca koran di pagi hari... mulai saya rubah dengan ini..ni menulis... kenapa? Ya karena kondisi terkini, saya baru saja mendapatkan ilmu kalau bisa kita masukkan hal positif-positif dalam pikiran dan batin kita, dan hati-hati dengan yang kita isikan dalam pikiran dan batin kita apalagi di pagi hari, koran adalah sumber informasi, sebaliknya rupanya koran juga sumber berita terkini, lah koran itu banyak bahasa negatifnya, beritanya bombas, negatif, semisal kerusuhan, tragedi dll sebagian ada sih berita positif, tapi prosentasenya lebih besar negatifnya, coba simak, kaji, dan hitung, berapa banyak berita negatif yang kita masukkan dalam otak kita tiap hari... pagi baca koran kerusahan... siang kerja dengar gosip tetangga... sore lihat infotainment mengobok-obok bobrok rumahtangga orang, malam sebelum tidur rasan-rasan kelakuan teman. Sharing... ini akan mempengaruhi pikiran kita, kalo TV sudah lama saya talak.

Makanya saya rubah kebiasaan baca koran dengan sebaliknya menulis... lho? Kok gitu. Ya namanya merubah ya saya coba yang jelas kebalikannya, saya yakin ada baiknya, pertama saya belajar menulis... bayangkan kalau sebulan saja menulis dipagi hari...

30 tulisan yang masih fresh dipagi hari saya buat, dan 30 tulisan akan diapresiasi dan dikoreksi banyak pihak, daripada baca koran, (bukannya koran gak penting lho, tapi kalau sudah jadi ketagihan, sudah gak efektif namanya) ini sama dengan bikin koran sendiri. balas dendam, kalau dulu dimakan koran pada saatnya saya akan makan koran lho?

Tidak mustahil tulisan saya akan semakin baik. Dalam setahun ada 365 tulisan saya yang semakin bermutu, kalau dikodifikasi jadilah buku... buku akan menjembatani kita jadi orang berilmu saya akan jadi ilmuan karena menciptakan buku... kalau kebiasaan itu saya teruskan saya akan jadi jutawan dari hasil buku-buku itu... lalu kalau tulisan ini saya teruskan akan jadi nggak mutu karena terlalu menghabiskan waktu silahkan dilanjutkan sendiri mimpi saya dipagi hari ini..

Semoga jadi salam kehangatan yang bermutu
Sebagaimana sinar mentari yang mulai merambat, hangat...

yang terasa nyantol di hati...


bila mata bertemu mata
akan datang rasa kasih.
Bila hati bertemu hati

akan datang rasa sayang.
Tapi bila dahi bertemu dengan ....

sajadah,
akan terasa kebesaran Sang Ilahi
yang selalu nyantol di hati...

DIAN SASTRO, PELEPAS DAHAGA, PERS, SENSOR DAN FILM PORNO




Belakangan ini nyaris saya pengen hiatus. bukan karena terlalu sibuk, karena sibuk adalah aktualisasi. Bukan karena ikut-ikutan Kang Kurtubi atau Bu Enny. Bukan karena tidak punya ide tulisan, karena dikepala saya sangat banyak hal yang ingin saya tulis. Cuman sepertinya isi kepala ini tengah seperti benang kusut. Yang jika saya tuliskan, hanya akan membuat kusut yang membacanya. sampai akhirnya hari ini, seorang selebritis yang tengah populer di kalangan blogger belakangan ini karena telah melepaskan dahaga banyak para pria muncul di detik.com.
Ya, mulai dari baca blog mas imam, ngintip blognya tika yang tengah merindukan lahirnya blog-blog pelepas dahaga bagi wanita, lalu wanita itu nongol dan bicara tentang film maker indonesia yang tidak akan membuat film porno, sehingga tidak perlu ada Lembaga Sensor Film. Akhirnya ada ide ringan yang ingin saya sampaikan.
Beberapa waktu lalu, masih menggantung di listing tulisan yang saya ingin tulis, otak saya telah bertanya-tanya, masih adakah media atau pers yang obyektif, yang menulis berita dengan ketidakberpihakan ditengah kekuatan pemilik, pengusaha dan penguasa.Dibanyak negara, terutama di negara maju, kekuatan pers telah lama menjadi kekuatan yang luar biasa setelah kekuatan legislatif, eksekutif dan legislatif. Dan sekarang, kekuatan yang satu ini semakin kuat saja dengan tumbuh pesatnya teknologi informasi. Issue tentang konsep peperangan dan penjajahan memang telah lama bergeser. Sudah tidak asik lagi perang pake senjata. Perang pakai senjata sekarang justru menjadi trend untuk media hiburan alias perang-perangan. Sekarang peperangan telah bergeser pada perang informasi.
Sebuah perang yang sangat berbahaya. Tidak mematikan jasad, tapi mampu mematikan pemikiran dan jiwa. Perang yang mampu mencuci otak orang, melakukan mobilisasi, bahkan mampu menghilangkan kesadaran orang tentang kebaikan dan kebenaran. Kekuasaan pers memang luar biasa. Makanya jangan kaget banyak pihak tertarik untuk terlibat dalam industri ini. Sometimes tidak dalam perspektif bisnis yang ingin mencari keuntungan, tapi untuk keperluan yang lain, meski industri ini malah menghabiskan uang.Ketika Alm. Soeharto berkuasa, lalu jatuh, eforia tentang kebebasan pers yang selama ini terpenjara menjadi menguak, sampai akhirnya departemen penerangan dibubarkan. Gus Dur, presiden saat itu membuka gerbang kemerdekaan pers. Namun di acara kick andy, Andy Noya pun menggugat Gus Dur sebagai orang yang bertanggungjawab atas kemerdekaan (baca : kebablasan) pers di Indonesia.
Ya. Sadar atau tidak kemerdekaan pers telah berubah menjadi kebablasan pers. Tidak penting kita memperdebatkan ini karena contohnya sudah terlalu banyak. Lihat saja tabloid-tabloid yang bahkan lebih brutal daripada stensilan Enny Arrow yang untuk pertama kali saya baca dengan takut-takut waktu sedang bimbingan test di Bandung setelah lulus SMA. Semua berbicara atas nama kebebasan pers. Gerbang itu sudah terbuka. Andai ada sebagian dari rekan-rekan pers yang juga ikut menghujat lahirnya media-media yang tidak bertanggungjawab, tapi kemerdekaan pers toh ujung-ujungnya menjadi bumerang yang oleh pelaku pers yang benar-benar berada dalam koridor positif kemerdekaan pers itu sendiri, karena tidak mampu membatasi media-media rusak tersebut. Dan jika tidak hati-hati, konsepsi kapitalisme itu akan terjadi di dunia pers.
Ya. Seorang teman dalam diskusi menyampaikan. Kapitalisme itu akan mati oleh kapitalisme itu sendiri. Dan saya fikir, hal yang sama akan terjadi di dunia pers kita.
Lalu apa hubungannya dengan komentar jeng Dian di detik.com?
Belakangan para sineas tengah menggugat keberadaan lembaga sensor. LSF oleh komunitas sineas yang menamakan Masyarakat Film Indonesia menganggap LSF tidak menjalankan tugas dengan benar. LSF hanya tukang potong film yang tidak melihat esensi potongan tersebut, yang bisa membuat keutuhan film dan pesan yang ingin disampaikan menjadi tidak sampai. Dan oleh karena itu, LSF sebaiknya diganti dengan Lembaga Klasifikasi Film.
Salahkan teman-teman MFI? Jelas tidak. Saya setuju bahwa “dalam perspektif pekerja film” memotong tanpa melihat esensinya, bisa merusak esensi itu sendiri, seperti sebuah tulisan yang dipotong ditengah-tengah (mengutip istilah Jeng Dian). Saya setuju, sebagaimana komentar Riri Riza, bahwa LSF belum menjalankan tugasnya karena masih ada anak-anak dibawah umur bisa menonton film yang bukan pada umurnya. UU perfileman sudah tidak sesuai dengan jamannya. Semua, demi masa depan perfilman Indonesia. Setuju untuk itu.
Lalu apa masalahnya?
Permasalahannya adalah perspektif tersebut bisa kurang tepat jika dilihat dari perspektif pemerintah yang harus pertanggungjawab untuk masa depan rakyat, bukan hanya masa depan masyarakat film. Dalam kondisi dimana hukum belum berjalan dengan baik, kesadaran masyarakat belum ter-konstruk dengan baik, anak-anak di banyuwangi bisa dengan gampang mendapatkan korek api mainan yang jika dihidupkan bisa mengeluarkan gambar porno, VCD bajakan masih bertebar dimana-mana, aturan tentang batas umur menonton film toh juga kalah dengan kepentingan industri yang ingin ruang bioskopnya penuh, maka keinginan yang baik ini menjadi tidak sederhana untuk diterapkan. Bahkan, ketika misal lalu LSF menjadi lembaga Klasifikasi Film, mengklasifikasikan film sesuai tingkat umur dan kepantasannya, lalu bioskop dengan ketat mengecek KTP para penontonya agar anak-anak yang belum cukup umur tidak bisa menonton film 17 tahun keatas, tetap saja tidak bisa dibatasi sedemikian rupa. Kenapa? Ya, karena pembuatan KTP toh masih bisa dikadali. Anak-anak yang belum layak pegang KTP masih bisa punya KTP. Atau yang agak pinter bisa bikin KTP sendiri menggunakan Adobe Photoshop. dan masih banyak penyelewengan yang bisa dilakukan.
Mengutip komentar Jeng Dian bahwa dia dan teman-teman MFI tidak akan membuat film porno, saya mungkin bisa percaya. Tokoh-tokoh seperti Nia Dinata, Riri Riza, atau seperti Pak Dhe Totot, Mas Iman, saya percaya bahwa mereka tidak ingin membuat industri film kita kebablasan seperti itu. Tapi, permasalahannya, siapa yang menjamin tidak lahirnya sutradara baru yang bikin Vivid Interactive versi Indonesia, lahir artis secantik Jeng Dian namun mau jadi artis porno, mengingat UU Perfilman mengizinkan hal itu, dan LSF toh cuma akan bisa melakukan klasifikasi? Sama halnya dengan tokoh-tokoh pers yang katanya idealis atau media-media besar sekelas Kompas atau Tempo yang akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika media kacangan seperti Tabloid Bibir Mer dan sebagainya hadir atas nama kebebasan pers.
Ini pendapat pribadi. Saya bukan pro LSF, bukan pula bagian dari MFI. (ngimpi kali gue yah hueihiuehiue). Walaupun saya sadar sulit untuk membuktikan kepada orang lain bahwa saya objektif, saya tidak subyektif dalam kultur masyarakat yang masih memandang “siapa yang bicara” ketimbang “apa yang disampaikan”. Mungkin tokoh-tokoh MFI perlu baca tulisan tukang caping yang satu ini Dalam sebuah kondisi, seorang teman pernah mengingatkan saya untuk “diam” dan “tidak berkontribusi”. Karena terlibat aktif, sedikit aktif, akan menimbulkan persepsi banyak orang. Begitu pula ketika saya bilang sebaiknya saya keluar arena karena saya paling tidak bisa tidak berkontribusi apa-apa, disarankan tidak dijalankan. Karena mengambil tindakan tersebut juga dianggap sebuah kontribusi. Dengan bahasa yang berbeda, seorang teman juga pernah bilang “Ini masalahnya sudah tentang elu Do. Mau sebenar apapun yang lu niatkan, sampaikan, dan lakukan, ya salah. Pulpen miring pun bisa jadi alat kesalahan ketika yang melakukan itu adalah elu”.
Saya hanya bisa garuk-garuk kepala. Begitu kuat paham “siapa” di masyarakat ini. Berbeda adalah salah dan berdosa.So, kembali ke tema tadi, maka dalam melihat sesuatu, memang dibutuhkan orang yang mampu melihat secara “kaffah”. Secara utuh. Secara menyeluruh. Kita tidak bisa hanya memandang dari 1 sudut pandang saja. Karena ketika kita berada dalam kebenaran manusia, maka kebenaran hanyalah sebuah perspektif. Saking luar biasanya manusia, bahkan hal paling sakral sekalipun seperti agama bisa dianggap sebagai sebuah produk imajinasi belaka.
So? Memang tidak gampang untuk mengambil sebuah keputusan ketika ini sudah menyangkut hajar hidup orang banyak. Disinilah dibutuhkan sebuah kebijaksanaan. Yang mampu memposisikan segala sesuatu dengan pas. Tepat. Sesuai. Namun begitu lah tugas sang khalifah.

tahu sedikit... bicara banyak???

Saya ngertinya dulu cuma action… dalam setiap langkah selalu saya iringi kepercayaan.
Percaya kalau saya bisa, percaya kalau kita mau pasti ada jalan keluarnya.. percaya kalau selama kita nggak melakukan kesalahan pasti dibimbing olehNya… petunjuk datang dengan sendirinya…
Kepercayaan itu sebanding dengan kwalitas iman seseorang, kalau orang bilang percaya atau beriman adanya Tuhan ternyata dalam kenyataannya mereka nggak berani bercita-cita tinggi karena kurang percaya dengan kemampuan dirinya maka sebatas itulah kwalitas seseorang dinilai.
Dan kepercayaan itu bukan hanya sekedar dikata-kata atau bualan saja, tapi definisi iman yang sesungguhnya, disamping keyakinan kuat yang tertanam dalam hati, diikrarkan dengan kata-kata juga diparaktekakkan dalam bentuk karya nyata bukan sekedar angan-angan kosong atau bualan gombal mukio belaka.
Akhirnya mau tidak mau kalau sudah percaya ya harus mau berusaha dan karena kepercayaannnya yang tinggi itu pula usahanya juga maksimal, karena buat apa berusaha kalau yakin gak akan berhasil.

Setelah itu pasti ada nekatnya karena modalnya cuma kepercayaan yang tinggi dan mau melangkah, kekurangannya di ilmu, ya akhirnya babak belur juga, diperjalanan sering jatuh bangun, tapi ya lumayan juga ada seninya. Kehidupan ini nggak ada manis kalau nggak ada pahit, demikian juga nggak ada itu sebetulnya pahit kalau kita lakukan dengan keihlasan, kita telan sebagai pil atau obat yang semakin membuat kita kuat.

Dari modal terus melangkah itulah sepertinya kita dibimbing sampai mendapatkan ilmu dan akhirnya saya menemukan komunitas TDA yang punya rumusan BDSA (Belife, Dream, strategi & Action)
Percaya / iman, Mimipi/Cita-cita, Strategi/ilmu, Action. Jadi itu urutannya.
Pertama yang harus diobarak-abrik adalah kepercayaan kita tentang ilmu dan wawasan tentang kehidupan dan fungsinya hidup sampai apa itu kekayaan dan kaya itu, apa itu berusaha. Dls
Kemudian membangun mimpi, harus mimipi dan cita-cita itu harus dibangun kalau perlu diwujudkan dalam bentuk nyata, bisa ditulis, bisa divisualkan dalam bentuk gambar dan lain sebagainya.
Semakin berguru semakin saya praktekkan mimpi saya itu saya proklamirkan dikhalayak supaya direspon dan disaksikan banyak pihak… itu akan memacu semangat dan apa itu istilahnya loA (nanti kita pelajari yang satu ini), sekali lagi saya itu tahunya cuma mempraktekkan apa yang saya yakini benar…
jadi ilmunya menyusul belakangan.
Dan belakangan ini saya mendapatkan banyak sekali bahasa-bahasa yang sesuai dengan yang telah kita lakukan selama ini dan bahasanya lebih mudah dicerna, sehingga beberapa hal saya sampaikan dalam bentuk yang berbeda.
Nanti saya urai satu persatu
Ingatkan ya… yang sudah kita sentul adalah Beliefe and Dreams, selanjutnya kita ublek-ublek Strategi and Action.
Hon ma’af juga kalau pembahasannya sepotong potong atau juga meloncat-loncat, ya..itu tadi.. saya ini sementara ini tahunya cuma action, kalau nanti saya tahu ada strategi nulis dan membahas yang baik akan segera kita benahi tulisan saya.
Salam perjuangan…
Selamat menikmati hidupa ini.

Sabtu, 16 Februari 2008

Pesantren Ilmu Giri

JAWA POS, Senin 11 Februari 2008, memuat opini berjudul Madrasah Hijau Indonesia tulisan Dr Saleem H. Ali, wakil Dekan Pendidikan Tinggi di University of Vermont’s Rubenstein School of Emvironment.
Dalam tulisan itu ia menulis tentang bentuk gerakan lingkungan hidup yang dipelopori Nasrudin Anshory di pedalaman Jawa Tengah yang komitmennya terhadap bumi tidak didasarkan pada buku-buku teks konservasi dari Barat.
Tak ada yang salah pada tulisan Saleem H. Ali’itu.
Tetapi, ada hal kecil yang perlu diluruskan.
Lembaga penggiat lingkungan hidup tersebut sebenarnya bukan madrasah dalam pengertian umum.
Sebenarnya sejenis pesantren atau lebih tepat disebut "Pesantren Budaya Ilmu Giri". Kebetulan sayalah yang diminta mencari nama pesantren itu. Diberi nama Ilmu Giri karena yang diajarkan adalah ilmu model budaya giri (gunung).
Yang diajarkan di situ adalah ilmu mencintai alam dan lingkungan berdasarkan tradisi nenek moyang.
Sejak didirikan lima tahun lalu, santrinya adalah masyarakat di sekitar pesantren. Jumlahnya 840 kepala keluarga yang bukan hanya mengaji agama, tapi juga mengaji alam dengan cangkul. Mereka mudah diajak mencintai lingkungan karena bahasa yang dipakai menggunakan idiom lokal (Jawa). Tempatnya yang benar bukan di pedalaman Jawa Tengah, melainkan di puncak salah satu "pegunungan seribu", tepatnya di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di lereng-lereng gunung itulah masyarakat kembali menggarap tanah warisan. Ahli waris yang baik tidak boleh membiarkan tanah warisan para pahlawan menjadi lahan tidur yang tidak produktif.
Cinta warisan itu bertemulah dengan nilai-nilai agama, sebagaimana firman Tuhan, "Allah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menyuruh kamu memakmurkan bumi" (QS. Hud, ayat 61).Dari sini lahir sejenis teologi, berupa perpaduan antara perintah Tuhan untuk memakmurkan bumi dengan naluri dan cita mulia manusia untuk hidup sejahtera.
Teologi seperti itu bukan diajarkan sebagai kata-kata yang dihafalkan, tapi lebih diupayakan menjadi etos yang menggerakkan kerjanya. Kini kerja nyata masyarakat sekitar pesantren telah mengubah lereng gunung yang tandus itu menjadi hutan sekaligus lahan pertanian yang bisa dipetik hasilnya.Barangkali itulah sebabnya banyak menteri dan peneliti datang ke Pesantren Ilmu Giri, termasuk Saleem H. Ali pada November 2007.
Dalam rangka menggerakkan masyarakat peduli alam itu, Jumat 15 Februari 2008, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM-UGM), yang dipercaya Unesco sebagai pusat program pembangunan dan pendidikan berkelanjutan mengadakan rapat konsolidasi Regional Centres of Expertise (RCE) Yogyakarta.
Tidak kurang dari 14 lembaga, yayasan, dan komunitas yang diundang, mulai Walhi Yogyakarta sampai pengurus Komunitas Code Utara. Pesantren Ilmu Giri diwakili KH Nasrudin Anshory. Saya ikut mendampingi.Di bawah pimpinan Dr Joko Prastowo MSi, dialog berjalan lancar.
Hampir tidak ada perdebatan karena semua bertekat bulat untuk membantu masyarakat.Ada istilah yang dimunculkan oleh pimpinan sidang, yaitu "empati". Istilah "empati" dan "altruisme" memang tidak populer di negeri ini. Meskipun demikian tidak berarti masyarakat tidak punya sensibilitas kemanusiaan.
Toh dari budaya Jawa sendiri, ada ungkapan menehana teken marang wong kang wuta (berilah tongkat kepada orang buta).
Maksudnya, menggiatkan umat untuk sadar, cerdas, dan berdaya di tengah percaturan hidup.
Nah, kerja yang digagas Unesco dan LPPM-UGM ini kalau benarbenar terwujud adalah manifestasi dari adagium lokal (Jawa) di atas.
Bukankah itu altruisme ala Indonesia? Apalagi program pembangunan dan pendidikan berkelanjutan mempunyai visi hamemayu hayuning bawana (mewujudkan kemakmuran dan keindahan alam semesta).
Ternyata, Unesco, UGM, Walhi, Ilmu Giri, dan komunitas lainnya jika bergandeng tangan dan berniat ikhlas untuk kemanusiaan, menjadi tidak mempunyai alasan untuk berbeda. Apalagi memperuncing perbedaan. Di sini ilmu gunung dan ilmu pesisir menjadi satu visi. Bahkan Barat dan Timur menjadi satu tujuan: sejahtera dalam kebersamaan. (*)

Senang memulai, senang mempelopori...

Orang itu hobi atau kesenangannya macem-macem...
cuma ada yang kesenangannya itu bikin orang lain susah
ada juga yang kesenangannya itu disamping membuat senang dirinya sendiri juga mbuat orang lain ikut senang
kesenangan itu biasanya bisa jadi virus yang menjangkit
yang bisa mempengaruhi orang
kalau virus tersebut baik, maka kita akan terus mendapatkan tuahnya selama virus itu menjangkit dan menjangkiti orang lain...
demikian juga kalau virus itu jelek, langsung atau tidak langsung menjangkiti orang lain, selama menyebar pada orang lain, kita kena getahnya juga.

Mencoba barang baru biasanya membuat kita senang.
seperti baju baru... sepatu baru... mobil baru... pacar baru ...bojo baru he...he...(???) He he ...

Memulai sesuatu yang baik juga membuat kita semangat
kebetulan akhir-akhir ini saya sedang demam dan demen ngeblog (membuat dan mengutak-atik blog)
dan rupanya kesenangan terbaru saya ni menyebar bak virus pada teman-teman seantero negeri ini (kami punya negeri sendiri hi...hi...)
Cuma saya perlu menilik ulang kebisaan ini akan jadi virus baik atau malah sebaliknya... kalau jadi virus yang baik, oke. kalau sebaliknya berarti perlu ditinjau ulang.
kalau saya tilik sedikit, sepertinya ini virus yang baik
saya lihat orang-orang besar pada bikin blog
saya tiru kelakuan orang-orang besar yang baik-baik
mereka menyebarkan virus kebaikan lewat blog-blognya

daripada...
kebisaan chating yang beberapa hari kemarin sedang mengganas ditempat ini
saya kurang sreg saja melihatnya
saya kurang bisa melihat sisi baiknya
masalahnya yang terlihat memang justru jeleknya

mari kita ulas sedikit

kalo diperhatikan gaya chatingnya anak-anak ini jelek sekali... mereka mulai belajar bohong, ada yang laki ngaku perempuan ada yang pr ngaku lk dst bahkan tak jarang yg hombreng, 2 jarang yg serius, andaikan serius tujuan dan manfaatnya nggak jelas. satu kebohongan akan menjurus kearah kebohongan lainnya. 3 habis habisin waktu, kalau sudah cathing sering lupa waktu, 4 melalaikan tugas, karena keasyikan mein-main tugas utamanya terabaikan. 5.bikin nggak kreatif.. kayaknya internet bisanya cuma itu thok aja... malu-maluin.

oke, memang ada chat yang bagus untuk keperluan tertentu, tapi kelihatannya jarang sekali yang ini... kebanyakan ya itu...

cari hiburan lain yang lebih bagus banyak sekali artinya hiburan yang bermanfaat. Kalau kita mengarahkannya dan membiasakan diri kita pada hiburan yang bermanfaat maka terbiasalah kita kan manfaatnya

lalu apa manfaatnya blog
saya meliriknya karena sebelumnya saya banyak mengambil manfaat dari blog-blog atau situs atau portal-portal yang lain, dari situlah saya tertarik untuk bikin blog sendiri, supaya lebih intensive komunikasinya dengan mereka-mereka yang lebih luas ilmunya.
Catatannya saya betul-betul cari yang bermanfaat (nanti saya beri tips menghindari yang kurang bermanfaat dari ngne't)
karena itu juga segera saya bahas disini, supaya virus yang tersebar semoga dan harapan saya serta akan terus saya jaga adalah virus yang baik... karena tahu sendirikan virus itu kalau sudah menjangkit...

lagi, kenapa blog?
pertama minim penyelewengan...
sebab blog itu sangat jantan, jelas sekali pembuatnya, profilnya dan ada aturan mainnya
link dari blog itu nanti sejak awal akan kita setting ke link-link yang bermanfaat
tujuan utama saya ngeblog memang tuk ngelink blog-blog dan kenalan yang hebat-hebat supaya bisa dibaca dan bisa membuka wawasan teman-teman lain, supaya jangan tahunya cuma ( hai.. /leh nal... /sy cw 17 thn kesepian../ lk2 bujang lg kasmaran) dsb yang saya kira tai kucing saja itu...

lagi, blog itu bikin lebih kreatif
belajar nulis, belajar bearkomunilas, belajar berekspresi dan belajar bergaul dengan benar. Karena blog kita akan dikenal dan dibaca banyak orang, bahkan seluruh duniapun bisa, kita akan diapresiasi banak orang, akan belajar bersama-sama orang sedunia, kalau salah diingatkan, kalau ada yang positif diuji ulang, didiskusikan, lalu disebarkan.

Mulailah bersenang-senang
Belajarlah memulai hal-hal baru (yang positif) yang bikin orang lain ikut senang juga.
belajarlah jadi pelopor (pemula) yang memulai hal-hal yang baik pula
jangan hanya suka jadi pengekor (sudah ngekor, yang jelek pula yang diikuti)
kalau nggak bisa, minimal jadilah pengekor hal-hal yang baik...
menyenangkan orang lain atau membuat orang lain senang dalam konstruksi yang positif itu barokah. Barokah akan membuat hidup kita semakin indah.

hati-hati dengan kebiasaan kita yang berhubungan dengan kesenangan, kalau sampai diikuti orang lain ya kalau itu baik... kalau jelek...
kita juga akan ikut nerima...

tertulis dalam Blognya Pengeran yang suci, yang artinya: "Barang siapa melakukan sedikit saja perbuatan baik maka setimpal kebaikannya akan diperolehnya, demikian juga perbuatan buruk akan setimpal juga diperolehnya"

salam semangat selalu...

Kamis, 14 Februari 2008

Take Action

kita harus bersyukur sekali diberikan dua hal yang paling berharga dan takterbatas nilainya...
satu pikiran dua waktu.
kalau kita bisa mendayagunakannya sebaik mungkin, tidak ada namanya kesulitan modal dan kekurangan ilmu atau tidak punya pengalaman yang selama ini dikeluhkan banyak orang.
sehingga membuat mereka lemah dan cenderung tidak mau berusaha.
Waktu tak terbatas, coba hitung berapa waktu kita yang terpakai efektif dalam sehari...
kedua pikiran... coba dipakai apa saja, kita pakai olah fikir atau cenderung kita manjakan untuk berpikir yang ringan-ringan atau malah kita manjakan dengan bualan dan hiburan yang tiap hari seakan jadi komsumsi wajib.
Satu manajemen waktu...
kedua kekuatan daya kreatifitas...
kata kuncinya mau
Waktu yang tak terbatas itu bagaimana cara mendayagunakannya
terkadang saking sibuknya kita seakan-akan waktu itu sempit padahal ternyata kita nggak dapat apa-apa.
sebaliknya terkadang bingung mau ngapain... lolak lolok gak karuan sehingga larinya kearah pekerjaan yang gak efektif atau malah cari hiburan yang berujung pada tumpulnya mental juang dan lemahnya kreatifitas kita karena sering dimanjakan itu...
Kalau saya perhatikan gaya aktifitasnya crew SMS Batu ini... jujur saja bisa dibilang nggak matching...
baru mulai On.. eee tiba-tiba saja udah ketundung usermau main net nagalah dulu ya...

Rabu, 13 Februari 2008

kembali ke titik nOl

Mulai lagi... memulai lagi...
ide jalan terus
lumayan sambil belajar blog ini saya anggap sebagai harddisk untuk menyimpan semua unek-unek, kejadian, rencana dan cerita dan macem-mecem, sebab situasi yang rupanya agak sulit di SMS Batu.
Kadang-kadang bingung karena sudah nggak punya posisi, baik posisi dalam arti harfiah ataupaun maknawi.. maksudnya posisi tempat duduk&meja di kantor sms yang mini sudah penuh, demikian juga posisi pekerjaan juga mulai ringan... artinya sistem yang dibangun mulai berjalan....
sehingga ketika nggak ada posisi jadi bingung... mau selesaikan pekerjaan dimana??
jadilah ngumpet di KBU nya Warnet... tak jarang ngenet sampai jenuh...
jeleknya kalau mengerjakan sesuatu datanya nggak pernah bisa kesimpen, computer warnet ada deep frezznya... atau kalau trraffik internet lagi penuh sering ketundung user yang masuk, jadinya pekerjaan mutung atau naggung, belum jadi seratus persen udah hilang lagi...
lalu timbullah ide membuat Blog ini,
lumayan untuk nyimpen data dan kata-kata,
enaknya, bisa nulis di computer manasaja di mana saja pake' komputernya siapa saja... sebab nyimpennya di internet yang tahu sendirikan bisa diakses dimana dan kapanpun bisa.
Tank's tuk Sang Maha Pencipta yang menciptakan segalanya semakin mudah, tinggal kita saja bagaimana memanfaatkannya.
Ujian bagi kita tuk mensyukurinya atau malah membuat kita terlena...
Ya Allah Ya Rab...
Hubungan kita kok makin indah saja...
Makin mantap dan segar...




belum selesai saya nulis diatas, adik saya datang, duduk disamping saya dan...
saya belingsatan dengan wajah bersemu...
saya jadi malu...
seperti orang remaja yang lagi kasmaran ketahuan nulis surat cinta...
he..he...
ya emang..
kenapa emangnya? apa kita nggak boleh mengekspesikan diri?
Tiba-tiba saja kata-kata hati itu muncul dan tiba-tiba saja terefleksikan dalam bentuk postingan...
Setelah dari masjid kota tadi... sholat magrib... susananya sendu sekali.. hujan tik rintik.. jadi agak kerasan dalam masjid...
nggak tahu, saya sangat menikmati sholat saya... sampai-sampai saya dikagetkan jama'ah lain disamping saya yang hendak bersalaman... (dikiranya saya sudah selesai), karena terganggu dan kaget terpaksa saya akhiri sholat saya. Salam kiri kanan dan ... kembali lagi pada konsentrasi sebelumnya larut pada komunikasi dengan kekasih saya... suasanaya sangat mendukung sih, masjid megah yang baru selesai dibangun, kota yang sedang berhenti aktifitasnya... dan hati saya yang sedang santai...
karena...
e.... e... sbentar, ada user login bentar lagi tak lanjutkan..

reportase repot...ae

mulai utak utek... ganti templet, warna, font, dll...

Senin, 11 Februari 2008

mulai posting

ini adalah psting pertama saya, he he. tadi mau masuk posting aja satu setengah jam gak bisa masuk-masuk, lupa passwordnya, jadi harus ke imel dulu, minta verifikasi, terus di link lagi, di link lagi, di link lagi. pokoe nurut ae, akhirnya berakhir dengan sukses. sukses login, dan ini sukses posting.
ayoo, applaus dong buat sayaa.
he he he, ndesit sekali, posting sekali aja udah dipamer-pamerkan.

ya namanya juga usaha.....

satu lagi rekreasi yang bisa didapatkan dari saking banyaknya belajar.... payah dan bosan baca blog orang terus... ada keasyikan tersendiri ketika kita bikin sendiri... dan, apalagi kalo bisa mbuat payah orang baca blog kita....