Senin, 26 Januari 2009


Selasa, 27 Januari 2009 ]
Si Jangkung Imlek
Aneka ria cara merayakan Imlek. Di pusat perbelanjaan di Hongkong, kemarin (26/1) tampil sosok jangkung berpernik khas Tiongkok. Dengan senyum dia menyapa setiap pengunjung. Sesekali jabatan tangan dengan mereka. Jabatan tangan itu ringan saja. Sebab kalau sampai ditarik si jangkung bisa ''patah'', karena dia ''jangkung sambungan''.(roy)

Dahlan Iskan : Tionghoa, Dulu dan Sekarang (2-Habis)
Tionghoa Bersambut, Bagaimana Yin Ni Hua Ren?

Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi ''tumbal'' untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal ''zaman baru'' bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama ''totok, peranakan, dan Hollands spreken'' sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. Kawin-mawin antartiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali. Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren?

Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin?

Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti ''orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia''. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan ''nonpri'' atau ''cina''.

Saya sebagai ''juawa ren'' (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut ''cina'' tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina.

Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata ''cina''. Mengapa harus diubah-ubah?

Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa ''menyudutkan'' dan ''menghinakan''. Mereka akan selalu bilang bahwa ''kami tidak merasa seperti itu''. Atau, mereka akan mengatakan ''Ah, itu mengada-ada''. Bahkan, ada yang bilang, ''Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan''.

Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu. Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata ''cina'' bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk ''menyudutkan'' ras tersebut. Yakni, untuk ''mencina-cinakan'' mereka dalam konotasi yang semuanya jelek.

Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil ''cina'' juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan orang ''cina'' yang dulunya berasal dari luar wilayah itu? Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti ''cina''? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti?

Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: ''Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya''.

Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang ''cina'' yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa. Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil ''cina''. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil?

Mengapa kita harus memanggil ''si gendut'' untuk orang gemuk atau ''si botak'' terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan ''si kerbau'' meski dia memang terbukti bodoh?

Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima.

Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih ''women zhong guo ren''? Atau ''hua ren''? Atau ''Yin Ni Hua Ren''? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan ''guo nei''? (*)
Senin, 26 Januari 2009 ]
Dahlan Iskan : Tionghoa, Dulu dan Sekarang (1)
Hollands Spreken, Peranakan, dan Totok
Waktu itu belum ada negara yang disebut Indonesia, atau Malaysia, atau Singapura. Tiga negara itu masih jadi satu kesatuan wilayah ekonomi dan budaya. Kalau ada orang dari Tiongkok yang mau merantau ke wilayah itu, apa istilahnya? Tentu tidak ada istilah "mau pergi ke Indonesia". Atau "mau pergi ke Malaysia". Mereka menyebutkan dengan satu istilah dalam bahasa Mandarin: xia nan yang. Artinya, kurang lebih, turun ke laut selatan.

Wilayah yang disebut "nan yang" itu bukan satu kesatuan dan bukan pula satu tempat tertentu. Kalau ditanya xia nan yang-nya ke mana? Barulah ditunjuk satu nama tempat yang lebih spesifik. Misalnya, akan ke Ji Gang (maksudnya Palembang). Mereka tidak tahu nama Palembang, tapi nama Ji Gang terkenalnya bukan main. Maklum, Ji Gang adalah salah kota terpenting yang harus didatangi misi Laksamana Cheng He (Cheng Ho). Ji Gang (artinya pelabuhan besar) memang jadi tempat tujuan utama siapa pun yang xia nan yang.

Kalau tidak ke Ji Gang, mereka memilih ke San Bao Long. Maksudnya: Semarang. Atau ke San Guo Yang, maksudnya Singkawang. Atau ke Ye Chen, maksudnya Jakarta. Atau Wan Long, maksudnya, Bandung. Mereka tidak tahu nama-nama kota di wilayah nan yang seperti nama yang dikenal sekarang. Semua kota dan tempat yang mereka tuju bernama Mandarin.

Gelombang xia nan yang itu sudah terjadi entah berapa ratus tahun lalu, bahkan ribu tahun lalu. Bahkan, saya tidak tahu mana nama yang digunakan lebih dulu: Palembang atau Ji Gang. Pontianak atau Kun Tian. Surabaya atau Si Shui. Banjarmasin atau Ma Chen. Migrasi itu berlangsung terus, sehingga ada orang Tionghoa yang sudah ratusan tahun di wilayah nan yang, ada juga yang baru puluhan tahun. Waktu kedatangan mereka yang tidak sama itulah salah satu yang membedakan antara satu orang Tionghoa dan Tionghoa lainnya.

Maka, masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana. Lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang. Yang disebut peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia. Sedangkan yang hollands spreken adalah yang -di mana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok..

Yang peranakan umumnya bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Mereka berbahasa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, dan bahasa di mana mereka tinggal. Mereka menyekolahkan anaknya juga tidak harus di sekolah Tionghoa.

Saya pernah menghadiri peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung di Hongkong yang diselenggarakan masyarakat Hongkong kelahiran Bandung. Meski sudah puluhan tahun bukan lagi WNI, tapi di pertemuan itu hampir semua bicara dalam bahasa Sunda.

Yang hollands spreken umumnya menjadi direktur dan manajer perusahaan besar yang waktu itu semuanya memang milik Belanda. Atau jadi pengacara, notaris, akuntan, dan profesi sejenis itu yang umumnya memang memerlukan keterampilan bahasa Belanda. Ini karena mereka harus melayani keperluan dalam sistem hukum yang berbahasa Belanda dengan aparatur yang juga orang Belanda.

Sedang yang totok, umumnya menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong. Lalu jadi pemilik bengkel kecil. Lama-kelamaan mereka inilah yang memiliki pabrik-pabrik.

Karena kesulitan berbahasa (Belanda, Indonesia, maupun bahasa daerah) golongan totok menjadi "tersingkir" dari pergaulan formal yang umumnya menggunakan tiga bahasa itu.

Sebagai golongan yang terpinggirkan, orang totok harus bekerja amat keras untuk bisa bertahan hidup. Pada mulanya mereka tidak bisa bekerja di pabrik karena tidak "nyambung" dengan bahasa di pabrik. Mereka juga tidak bisa bertani karena untuk bertani memerlukan hak atas tanah. Mereka hanya bisa berdagang kelontong dari satu kampung ke kampung lain dan dari satu gang ke gang yang lain. Kalau toh mencari uang dari pabrik, bukan secara langsung namun hanya bisa berjualan di luar pagarnya: menunggu karyawan pabrik bubaran kerja.

Golongan peranakan lebih kaya, tapi status sosialnya masih kelas dua. Status sosial tertinggi adalah golongan hollands spreken. Sedangkan status sosial terendah adalah totok. Anak-anak golongan hollands spreken umumnya harus kawin dengan yang hollands spreken. Yang peranakan dengan peranakan. Demikian pula yang totok dengan totok. "Kalau kamu kawin sama anak totok, nanti kamu makan pakai sumpit," kata-kata orang tua si hollands spreken. "Kalau kawin dengan peranakan, nanti kamu makan pakai tangan."

Sedangkan orang totok biasa menghalangi anaknya kawin dengan hollands spreken dengan kata-kata, "Kamu nanti jadi orang yang tidak tahu adat." Atau, "tidak mau lagi menghormati leluhur."

Yang hollands spreken umumnya menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa Belanda. Atau mengirim anak mereka ke Holland atau Jerman. Yang peranakan mengirim anaknya ke sekolah terdekat, termasuk tidak masalah kalau harus ke sekolah negeri. Yang totok menyekolahkan anaknya ke sekolah berbahasa Tionghoa. Semua itu terjadi dulu.

Bagaimana sekarang? (bersambung)

Selasa, 20 Januari 2009


Menjelang Merdeka
Momen apa yang paling membahagiakan bagi orang utan selain dilepas ke utan. Ini foto pelepasan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, Oktober tahun lalu, yang baru dirilis AP. Diperkirakan populasi orang utan di alam bebas tinggal 60 ribu. Mereka terdesak oleh ''orang kota'' yang membabati hutan setara 300 lapangan bola setiap jam. Salah satu orang utan betina bernama Tami diambil fotonya sebelum dilepas. Wuih, gayanya boleh juga. Siapa tahu hasilnya akan tampak seperti Luna Maya? (roy)

Rabu, 07 Januari 2009

KRISIS keuangan yang amat dahsyat ini akhirnya mampir juga ke ranah Tuhan. Yakni, ketika tersiar berita begitu banyak lembaga sosial dan keagamaan Yahudi yang menjadi korban investasi model Ponzi yang dilakukan Bernard Madoff (Bernie) itu.

Seperti diatur saja, praktis semua rumah ibadah Yahudi menjadikan kasus penipuan terbesar di dunia tersebut sebagai tema khotbah Hari Sabtu (yaumus Sabbath) mereka. Ini tidak lain karena yang dituduh sebagai penipu terbesar dalam sejarah umat manusia itu adalah tokoh Yahudi dan yang banyak tertipu juga umat Yahudi.

Begitu kerasnya kecaman yang disampaikan para khotib di mimbar Sabtuan itu, sampai-sampai ada pengkhotbah yang kali ini terpaksa meminta maaf kepada jemaatnya. Yakni, karena si pengkhotbah terpaksa harus mencela nama seseorang di mimbar yang suci itu.

’’Selama ini kami tidak mau menjadikan soal bisnis dan politik menjadi tema khotbah,’’ ujar seorang rabi konservatif di New York. ’’Tapi, dalam kasus ini terlalu banyak korban, sehingga sulit untuk tidak dibicarakan,’’ tambahnya.

Dana yang tersedot ke bisnis model piramida yang dilakukan Bernie tersebut memang mencapai USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Beberapa hari setelah Bernie ditangkap, ratusan orang Yahudi yang uangnya lenyap di situ mendatangi rumah Bernie yang seharga Rp 600 miliar itu di New York.

Bernie, 70 tahun, memang tokoh terkemuka Yahudi. Dia dikenal sangat dermawan dan juga memimpin berbagai lembaga sosial masyarakat Yahudi. Karena itu, kasus tersebut dianggap memalukan Yahudi. Baik Yahudi sebagai masyarakat maupun Yahudi sebagai agama. ’’Inilah hillul hashim yang keterlaluan,’’ ujar seorang pengkhotbah sebagaimana dikutip penerbitan Yahudi terkemuka di New York. Hillul hashim adalah istilah dalam agama Yahudi untuk menyebut perbuatan penistaan kepada Tuhan.

Istilah-istilah agama terpaksa begitu banyak dipakai kali ini untuk mengungkapkan kejengkelan kepada Bernie. ’’Dia itu sudah seperti Esau,’’ kata pengkhotbah yang lain. Orang yang bernama Esau, dalam kitab agama Yahudi, adalah lambang kebohongan nomor satu di jagat raya. Di antara semua ciptaan Tuhan (termasuk malaikat, manusia, binatang, pohon, dan batu), Esau-lah pembohong terbesar.

Kitab Yahudi menceritakan bahwa Esau adalah kakak Yakub. Mereka adalah anak Ishak, melalui istrinya Rebekah. Berarti, keduanya adalah cucu Abraham (Rasul Ibrahim). Esau dan Yakub sebenarnya anak kembar. Yakub lahir belakangan, tapi nyaris beriringan. Begitu dekatnya kelahiran Yakub dari kakaknya, sehingga dalam kelahiran itu digambarkan posisi Yakub masih memegangi tumit Esau, kakaknya itu.

Tapi, Tuhan tidak memilih anak sulung tersebut sebagai pewaris sang bapak dan sang kakek. Ishak-lah yang jadi rasul. Ishak itu pula yang dipercaya kemudian menurunkan umat Yahudi sekarang ini. Golongan masyarakat Yahudi yang baik kemudian disebut golongan Yakob (berarti Israel). Sedangkan golongan yang ’’rusak’’ disebut golongan Esau.(*)
[ Rabu, 07 Januari 2009 ]
Dahlan Iskan : Seberapa Luaskah Wilayah Gaza Itu?
Tidak lebih dari 500 kilometer persegi. Lebarnya hanya sekitar 10 kilometer dan panjangnya 50 kilometer. Kalau di Jatim, kira-kira hanya sama dengan dari Bangil ke Probolinggo. Lebarnya hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji. Atau sama dengan dari Tanjung Kodok ke Tuban.

Wilayah itu berbukit, tapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke Laut Tengah itu dikuasai Israel. Bandaranya juga dikuasai Israel. Satu-satunya batas yang bukan Israel adalah bagian selatannya sepanjang 12 kilometer: berbatasan dengan Mesir.

Meski Gaza ini bagian dari wilayah negara Palestina, kalau mau ke ibu kota harus melalui daratan Israel sejauh kira-kira 40 kilometer. Ini berarti orang Palestina di wilayah Gaza kalau mau ke wilayah Palestina yang lain di Tepi Barat harus mengantongi paspor dan harus mendapat izin Israel. Luas wilayah Palestina yang di timur (disebut Tepi Barat, karena letaknya di tepi barat Sungai Jordan) itu sekitar lima kali lebih besar dari Gaza. Di wilayah Tepi Barat ini penduduknya sekitar 2,5 juta orang. Dengan demikian, kalau Gaza dan Tepi Barat dijumlah, penduduk Palestina 4 juta orang (wilayah Gaza berpenduduk 1,5 juta).

Israel memang berjanji menyerahkan wilayah Palestina kepada orang Palestina secara bertahap. Mula-mula hanya Jericho, satu kota sebesar Kecamatan Tulangan (Sidoarjo, Jatim) di timur Jerusalem. Lalu sebagian lagi wilayah di utara Jerusalem. Lalu bagian lain Tepi Barat. Tiga tahun lalu barulah wilayah Gaza yang diserahkan. Masih banyak lagi yang mestinya diserahkan, tapi diragukan apakah Israel masih mau menyerahkan sisanya. Termasuk Dataran Tinggi Golan yang harus dikembalikan ke Syiria.

Sejak diserahkan ke Palestina tiga tahun lalu, status Gaza tidak jelas. Bukan provinsi, bukan juga negara bagian. Bahkan, antara Gaza dan Tepi Barat hampir tidak ada hubungan sama sekali. Baik hubungan transportasi maupun hubungan politik. Gaza seperti tidak ada hubungan apa-apa dengan pemerintah pusat di wilayah Tepi Barat.

Di wilayah Gaza hampir 100 persen penduduknya pengikut Hamas. Yakni, aliran yang tidak mau menggunakan jalan diplomasi dalam merebut semua wilayah Palestina. Hamas tidak percaya Israel mau secara suka rela mengembalikan wilayah Palestina, termasuk Jerusalem. Hamas pernah minta agar seluruh wilayah Palestina dan Israel itu jadi satu negara saja: Negara Palestina. Bahwa sebagian besar penduduk negara "baru" itu beragama Yahudi, tidak apa-apa. Demokrasi yang akan mengatasi hubungan mayoritas-minoritas itu (Yahudi 7 juta, Palestina 4 juta). Israel menolak, karena khawatir lama-lama penduduk Arab (Palestina) akan mayoritas.

Kalau di Gaza penduduknya adalah pengikut Hamas, di Palestina wilayah timur (Tepi Barat) penduduknya mayoritas pengikut kelompok Fatah. Yakni, kelompok yang juga berjuang mengembalikan seluruh wilayah Palestina, tapi melalui jalan perundingan. Dua kelompok ini sering terlibat dalam perang bersenjata secara terbuka dan menelan banyak korban. Dengan demikian, meski Negara Palestina itu satu, pemerintahannya sebenarnya ada dua. Pemerintahan di Tepi Barat dipegang Fatah dan pemerintahan di Gaza dipegang Hamas.

Israel memang kelihatan tidak mau kehilangan kontrol. Wilayah timur (Tepi Barat) itu diserahkan ke Palestina tidak secara utuh. Wilayah Jericho, ibarat satu pulau kecil di tengah-tengah Israel. Wilayah utara juga seperti pulau besar di tengah-tengah Israel. Wilayah selatan juga berada di tengah-tengah wilayah Israel. Wilayah utara yang agak luas pun, bentuknya lucu karena banyak wilayah Israel yang menjorok ke wilayah Palestina di sana-sini.

Jadi, Palestina yang sekarang sebenarnya bukan terbagi dua wilayah (Gaza dan Tepi Barat), tapi terbagi empat atau lima wilayah yang tersebar di tengah-tengah negara Yahudi. (dis)

Jumat, 02 Januari 2009

Kawinan Beruang Kutub Renang
Jan dan Gerhard Pyper bergembira. Keduanya merayakan perkawinan bersamaan dengan momen Renang Beruang Kutub di Teluk Inggris, Vancouver, Kanada, pada tahun baru (1/1) lalu. Renang Beruang Kutub ini merupakan hura-hura banyak orang adu tahan merenangi laut yang nyaris beku. Tentu, keduanya tak berharap suasana renang duuiiiiingin ini tak terbawa ketika keduanya ''berenang'' di malam pertama.(roy



Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris (3-Habis)
Juru Masak Harus Pandai-Pandai Rekayasa Menu

Krisis bukan hanya memukul industri retail, tapi juga bisnis wisata dan hospitality seperti restoran. Mereka tertantang untuk menemukan kiat mengatasi kelesuan akibat warga Inggris yang lebih senang memilih tinggal di rumah.

NURANI SUSILO, London

LIBURAN Natal dan tahun baru kali ini terasa beda bagi warga Inggris. Kalau dulu mereka dikenal sebagai pelancong yang banyak memenuhi tempat-tempat wisata terbaik di dunia, krisis membuat mereka memilih tinggal di rumah. Bahkan, baru saat terjadi credit crunch sekarang ini ada istilah yang populer di kalangan masyarakat; staycation.

Dengan staycation, warga memilih -kalau pun mau ber-vacation atau berlibur- tetap di Inggris dan tidak ke luar negeri. Bahkan, dalam bentuk yang ekstrem, tetap tinggal (stay) di kota atau di rumah. Karena itu, meski travel agents (agen-agen wisata) memberikan iming-iming dengan menurunkan harga paket wisata ke luar negeri, warga tetap bergeming.

Di London, saat ini, Somerset House yang berada di pusat kota London menjadi tempat yang ramai dikunjungi warga kota. Anak-anak dan remaja mengisi liburan Natal dan tahun baru dengan bermain seluncur es di lapangan terbuka bangunan abad ke-18 yang pernah ditempati para raja-ratu Inggris. Kali ini, warga Inggris harus melupakan liburan ke tempat-tempat yang hangat saat negeri mereka didera musim dingin menggigil.

Seperti yang dilihat Jawa Pos, beberapa kantor agen wisata terlihat sepi. Poster-poster dengan huruf berukuran besar berbunyi "January Sale" untuk wisata luar negeri tetap tidak membantu. Wisata ke Australia selama 17 hari yang sudah dibanting menjadi "hanya" 1.199 poundsterling atau sekitar Rp 19,5 juta, misalnya, sepi peminat.

Fenomena itu termasuk hal yang tidak biasa. Sebab, selama ini warga Inggris menganggap liburan minimal sekali dalam setahun bukan sebuah kemewahan. Ini sebagai keniscayaan atas kerja keras mereka mencari nafkah.

"Anda bisa hidup tanpa membeli mobil baru atau lemari es paling modern. Tapi, liburan bukanlah kemewahan. Bahkan, itu menjadi hal terakhir untuk dicoret saat krisis ekonomi," kata Malcolm Bell, direktur South West Tourism, sebuah kawasan wisata paling ramai di Inggris, kepada The Times.

Malcolm Bell adalah salah seorang yang getol mengajak warga Inggris untuk tetap berwisata, terutama staycation alias menjadi wisatawan domestik di negeri sendiri.

Selain memilih staycation, warga Inggris saat ini juga mengurangi makan di luar (restoran) dan lebih sering memasak sendiri di rumah. Bahkan, acara-acara keluar rumah, seperti nonton bareng di bioskop atau pergi ke bar, diganti dengan mengundang teman makan bersama di rumah. Hiburannya, main game bersama atau nonton DVD.

Sebuah survei oleh Halifax, perusahaan asuransi rumah, menyimpulkan bahwa credit crunch membuat 60 persen warga Inggris memilih tidak keluar rumah pada saat malam Minggu. "Mereka menghitung biaya transpor, makan, minum, hiburan, dan pengeluaran lain saat bermalam Minggu di luar rumah cukup tinggi sehingga warga memilih untuk stay in. (Sebagai gantinya) mereka mengundang teman atau tetangga ke rumah," kata juru bicara Halifax.

Saat krisis ini membuat orang-orang Inggris tidak lagi royal membelanjakan uangnya. Hasil survei Halifax, 84 persen responden mengaku sekarang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang dibanding sebelum krisis, serta 73 persen memilih membeli barang saat ada potongan harga. Bahkan, 15 persen responden memilih janjian pergi berbelanja bareng untuk menghemat BBM kendaraan.

Saat rakyat Inggris prihatin sehingga mengencangkan ikat pinggang seperti saat ini, para pejabat Inggris juga menjadi ekstra hati-hati. Mereka tak ingin dikesankan bermewah-mewah saat rakyatnya menderita. Karena itu, mereka pun memilih berlibur di dalam negeri alias staycation.

David Cameron, ketua Partai Konservatif di Inggris, misalnya, pada liburan lalu memilih berjalan-jalan tanpa sepatu di sepanjang Pantai Harlyn Bay, dekat Padstow, Cornwall, salah satu kawasan pantai terkenal di Inggris. Mengenakan celana pendek hitam dan T shirt berwarna biru, dia tampak menggandeng tangan istrinya, Samantha.

Penampilan tokoh partai oposisi itu dinilai unggul dalam apa yang disebut di satu media Inggris sebagai the battle of the beaches atau pertarungan citra di pantai. Sebab, pada saat yang sama, lawannya, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown yang juga ketua Partai Buruh, dianggap kurang "merakyat". Sebab, dia terlihat mengenakan jas (meski tanpa dasi) saat berlibur di Southwlod, Suffolk, pantai timur Inggris.

Seperti halnya selebriti, di Inggris segala aktivitas para politisi terus dipantau warga. Bukan hanya kebijakan atau pandangan politiknya, tapi sampai pada masalah pribadi, istri, dan anaknya. Misalnya, di mana anaknya sekolah, tempat mereka berlibur, hingga merek baju yang dikenakan.

Bedanya dengan selebriti, opini publik kepada politisinya itu kemudian diukur dalam survei (poll) sebagai prediksi popularitas di depan pemilih saat pemilu dilakukan. Dan pada musim liburan panas beberapa waktu lalu, arena pertarungan dua politisi itu berpindah dari Westminster (gedung Parlemen Inggris) ke pantai tempat mereka berlibur.

Penampilan santai David Cameron saat berlibur di Cornwall memang mendongkrak popularitasnya menjadi 20 persen. Namun, keunggulan itu tidak berlangsung lama. Sebab, setelah itu, dia melakukan kesalahan fatal, menikmati luxury holiday dengan menyewa kapal seharga 21 ribu poundsterling per minggu di sebuah pantai di Turki.

Tidak berhenti di Turki, David Cameron juga melanjutkan liburannya ke Georgia dengan menyewa jet pribadi. Meski pakai uang pribadi, politikus dari keluarga kaya itu dianggap hanya berpura-pura menampakkan kesederhanaan dalam liburan sebelumnya di Cornwall.

Anggota parlemen dari Partai Buruh, Denis MacShane, menganggap tindakan Cameron sebagai tidak pantas. "Ketika sebagian besar warga Inggris melakukan penghematan besar-besaran, dia malah dua kali berlibur," katanya kepada Daily Mirror.

Dampak begitu ketatnya warga Inggris menyimpan dompet itu membuat banyak industri terpukul. Gaya hidup baru yang menyebut staying in is new going out (tinggal di rumah adalah pilihan baru pergi ke luar) membuat para pengusaha restoran ketir-ketir. Sebab, kelangsungan industri restoran atau hospitality industry itu sangat penting bagi ekonomi Inggris. Sebab, industri jasa bernilai 75 miliar poundsterling dan mampu menyerap hampir 2 juta tenaga kerja.

Berbagai kiat dilakukan. Misalnya, pemilik restoran meminta para juru masak melakukan "menu-engineering" alias mengakali menu agar bisa menekan pengeluaran sehingga harga jual bisa turun atau setidaknya tetap.

Pekerjaan rekayasa menu di restoran itu tidak gampang. Sebab, salah satu dampak krisis ekonomi tersebut adalah naiknya bahan-bahan makanan yang cukup signifikan. "Harga ikan naik 35 persen per kilogram. Demikian pula daging. Harga 1 kilogram beras sudah 5,5 pound, bahkan bawang merah naik 400 persen,'' kata Duncan Ackery, direktur utama Searcy, jaringan restoran yang besar di London. Restoran ini memiliki cabang di Galeri Tate, Barbican, Royal Opera House, Bath Pump Rooms, dan Gherkin.

Sadar atau tidak, kini pelanggan Searcy yang pesan steak, misalnya, dapat potongan yang lebih kecil daripada sebelum krisis. Seperti yang diakui Dunkan Ackery, juru masak mengurangi porsi makanan di restorannya untuk menekan harga. Selain itu, juga mengganti menu dengan bahan-bahan alternatif yang lebih murah untuk tetap bisa bertahan. (el)

Seri perjalanan religi

Tinggalkan Rock, Sekarang Hanya Dengar Musik Religi
Di era 1970-1980-an, grup SAS banyak disebut orang sebagai number one rock group in Indonesia. Lengkingan gitar yang dimainkan oleh Soenatha Tanjung merupakan salah satu alasan mengapa SAS mendapat predikat bergengsi itu. Perjalanan spiritual membawa sang gitaris legendaris tersebut sekarang benar-benar "lepas" dari musik cadas.

---

PARA penggemar rock Indonesia generasi 1970-an pasti mengenal Soenatha Tanjung, gitaris SAS. Maklum saja, Soenatha merupakan salah seorang dewa gitar Indonesia pada zamannya. Namanya dapat disejajarkan dengan para gitaris papan atas Indonesia saat itu. Antara lain, Ian Antono (God Bless). Menyebut sejarah musik rock Indonesia pun rasanya tak lengkap bila belum menyertakan nama Soenatha Tanjung.

Uniknya, di masa tuanya, Soenatha justru mengaku tak terlalu mengikuti perkembangan musik tanah air. ''Boleh dibilang, saya tak pernah mendengarkan musik lain, selain musik religi saat ini. Termasuk, musik rock sekalipun,'' tuturnya.

Makanya, Soenatha menyatakan tak bisa dan tak tertarik bicara tentang perkembangan musik tanah air belakangan ini. Satu-satunya yang diikutinya adalah perkembangan gitar, alat musik yang begitu dikuasainya. "Zaman semakin maju, gitar menjadi lebih canggih dan penggunaannya makin bervariasi," ujarnya.

Tentu saja, petikan gitarnya kini tak lagi meraung seperti saat menjadi gitaris grup cadas, namun lebih akustik dan religius. Karir Soenatha sendiri di bidang musik rock dimulai pada 1968. Ketika itu, Soenatha bergabung dengan AKA (Apotek Kali Asin), sebuah grup rock Surabaya yang dipandegani Ucok AKA Harahap. ''Saya masuk menggantikan Jerry Souisa yang mengundurkan diri,'' katanya. Sebelumnya, Soenatha memperkuat grup band Arista Birawa.

Pada 9 September 1974, AKA bubar. Pasalnya, sang frontman AKA, Ucok Harahap, mendirikan duo Kribo -sebuah duet vokalis bersama Achmad Albar. Namun, bubarnya AKA tak membuat Soenatha berhenti berkiprah di musik cadas. Akhir 1975, bersama Arthur Kaunang dan Syech Abidin, Soenatha membentuk grup baru bernama SAS. Tentu saja, SAS merupakan singkatan nama ketiganya.

Berbeda dengan AKA, SAS lebih banyak berkiblat pada jenis musik rock progresif ala ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Pengaruh band-band rock Inggris, khususnya Led Zeppelin dan Deep Purple, masih cukup kuat. Perbedaan lainnya, SAS tidak lagi menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sensasional yang menjadi salah satu cap dagang utama AKA. Meski begitu, dari segi musik, SAS justru lebih gahar. ''Kami (SAS) merasa lebih bebas mengeksplorasi musik rock,'' tandasnya.

SAS juga termasuk di deretan grup rock lokal yang amat produktif. Sampai 1993, SAS menghasilkan lebih dari sepuluh album. Agak berbeda dengan grup-grup lain, dalam empat album terakhirnya, grafik kualitas permainan musik SAS justru tampak semakin meningkat dan matang. Album Metal Baja, misalnya, kendati tampak kalah ''pamor'' daripada Baby Rock atau Bad Shock, sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu puncak karya SAS.

Namun, setelah peristiwa kesetrum itu, minat Soenatha pun mulai beralih ke hal-hal religius. Dia memang tidak secara langsung berhenti total dari jenis musik yang membesarkan namanya tersebut. Sebab, pada 1993, tiga tahun setelah Soenatha mendapat mukjizat kesembuhan, SAS masih mengeluarkan album Metal Baja. "Itu jadi album terakhir saya bersama SAS," tuturnya.

Setelah sepenuhnya mengabdikan diri pada dunia religi, Soenatha menyebut masih sempat beberapa kali bertemu dengan teman-teman satu grupnya dulu. Yang paling sering dengan Arthur Kaunang, pria yang kini juga banyak menghabiskan hidup untuk kehidupan agama. Dia menambahkan, yang dilakukannya dan Arthur saat ini bukan suatu kesepakatan bersama. "Ini semua adalah kerja Tuhan. Kalau bukan kehendak-Nya, sulit orang bersedia melayani Tuhan," tuturnya. (dio/ayi)

Kamis, 01 Januari 2009





Jum'at, 02 Januari 2009 ]
Raja tanpa Kuasa di Indonesia
Di Indonesia, hingga kini tercatat sedikitnya ada 150 kerajaan. Meski ada, sebagian besar rajanya tak lagi punya kekuasaan. Inilah beberapa di antara mereka.

------------

Salah satu dari raja tersebut adalah Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Berkunjung ke istananya di Griya Keraton, Jl Terpedo Palembang, dan bertemu dengan dia, jauh dari kesan formal. Raja berusia 42 tahun itu hidupnya terkesan bebas, tanpa aturan keraton yang kaku.

Para tamu leluasa keluar masuk istananya. Di sana tak ada pengawalan khusus atau tentara keraton yang berjaga-jaga. Tamu yang datang bisa langsung duduk di ruang tamu griya yang luasnya mencapai 1.200 meter persegi itu. Masuk pintu utama, mata akan tertuju ke singgasana Sultan yang disampingnya terdapat foto Sultan dengan pakaian kebesaran khas Palembang.

Sehari-hari Sultan seperti rakyat biasa. Pakai kaus oblong dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai sebahu. Plus jenggot tipis menghiasi wajahnya. "Ayo, silakan masuk. Wah, griya lagi berantakan. Ada beberapa bagian yang sedang direnovasi," kata Sultan yang lahir di Palembang, 23 Februari 1966, ketika ditemui Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group) di istananya.

Dalam daftar penguasa di Kesultanan Palembang, Iskandar masuk dalam urutan ke-22. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan RH M. Harun dan Hj Nyayu Rogayah itu mengaku sebagai keturunan dari tiga sultan yang pernah berkuasa di Palembang. Tiga sultan itu adalah Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminim Sayyidul Imam, Sultan Muhammad Mansyur Jaya Ing Lago, dan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Sehari-hari Sultan memilih sebagai pengusaha ketimbang profesi lain. Dia adalah direktur utama tiga perusahaan: PT Kelantan Sakti, PT Adi Pratama, dan PT Gerindro Utama Mandiri. Selain itu, dia menjadi komisaris di PT Mercury Pratama.

Istrinya, Ratu Anita Soviah, membuka butik pakaian hasil rancangan sendiri. Pasangan Sultan-Ratu Anita dikaruniai empat anak. Mereka adalah M. Arga Bayu, 18; RA Siti Delima Ananda Putri, 14; RA Sahidah Damara Venesia, 11; dan RM Galih Rio Purboyo, 6.

Kehidupan keluarga Sultan sangat harmonis. Dia juga tidak pernah terlibat dalam hiruk-pikuk politik. Ketika ada pemilihan gubernur beberapa waktu lalu, Sultan berhasil menjaga jarak dengan para kandidat. Dia memilih netral. Sultan juga mengaku sempat ditawari DPP Partai Golkar menjadi caleg untuk DPR. Tapi, dia menolaknya secara halus.

"Saya hanya ingin fokus memikirkan kemajuan rakyat Palembang. Melestarikan budaya wong kito dan memperkenalkannya hingga ke luar negeri," kata Sultan bersemangat.

Selain memimpin perusahaan, dalam keseharian Sultan disibukkan dengan menjadi narasumber seminar, mulai pendidikan, membedah buku, hingga mengupas sejarah Kerajaan Palembang Darussalam. Dia juga rajin berkunjung ke daerah dalam upaya meningkatkan ekonomi para petani.

Iskandar tak pernah mempersoalkan mana wilayah kerajaan yang dia pimpin. "Bagi saya Sultan tidak bisa bikin KTP. Kita hanya mitra pemerintah dalam memfilter pengaruh-pengaruh budaya asing. Tapi, harus diingat, keberadaan Sultan di Palembang sangat penting," katanya diplomatis.

Iskandar adalah ketua umum Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan ketua Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia. Dia diangkat berdasarkan musyawarah mufakat oleh 11 zuriat sultan di Palembang beserta zuriat Melayu di Sumsel (Sumatera Selatan) pada 19 November 2006 di halaman dalem Plaza Benteng Kuto Besak.

Kesultanan Iskandar juga direstui oleh ahli nasab Kesultanan Palembang Darussalam, RM Yusuf Prabu Tenaya, yang merupakan zuriat dari Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu bin Sultan Mahmud Badaruddin II. "Jadi, saya bukan diangkat berdasarkan wangsit," kata Iskandar.

***

Meski keturunan raja, kehidupan Iskandar di masa muda sempat terseok-seok. Dia pernah menjadi pengamen, berkeliling dari satu kafe ke kafe lain untuk membiayai kuliah. "Itu terjadi sekitar 15 tahun lalu," ungkap Sultan yang menamatkan kuliah di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi di Universitas Muhammadiyah Palembang pada 1989 ini.

Dari hasil mengamennya itu, Iskandar berhasil membiayai semua kehidupannya sendiri. "Ayah saya waktu itu usahanya kolaps. Jadi, saya harus mandiri mencari biaya sendiri," katanya. "Gara-gara mengamen, saya sempat menjadi juara festival band," tambahnya.

Sebetulnya, hobi menyanyi Sultan berlanjut hingga sekarang. Hanya, dia tidak lagi menyalurkannya di kafe. "Kalau lagi ada acara, saya sering didaulat nyanyi," katanya lantas tersenyum.

Menurut Sultan, darah seni yang mengalir dalam dirinya menyebabkan dia terobsesi untuk terus melestarikan budaya dan adat istiadat Kesultanan Palembang. Salah satunya masalah bahasa. "Sebagai salah satu keturunan penguasa di Palembang, saya melihat 70 persen adat istiadat di Palembang mulai pudar. Ini yang harus terus dibangkitkan lagi," tandasnya.(kemas/jpnn/kum)

Balapan Mobil Kotak Sabun
MAD Club punya cara sendiri untuk merayakan datangnya tahun baru. Seperti namanya, kegiatan mereka agak "gila". Yakni, balapan menuruni jalan sejauh 1,25 mil di pedesaan Inggris dengan mobil "kotak sabun" . Sekitar 30 mobil hasil rancangan sendiri ikut dalam even tahunan yang kali ini sudah memasuki tahun kelima itu. Dari kegiatan ini, tahun lalu MAD Club bisa menyumbang Rumah Sakit Anak di Birmingham sebesar 78 ribu poundsterling atau hampir Rp 1,3 miliar. Ternyata pikiran MAD Club sangat waras. (el)
Jum'at, 02 Januari 2009 ]
Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris (2)
Kacaukan Pasar dengan Jual Seperseratus Harga Pesaing

Banyak brand terkenal yang selama ini mengambil margin keuntungan terlalu tinggi kelabakan setelah adanya krisis. Produk mereka disaingi pendatang baru yang menerapkan konsep produk masal, ngetren, dan ambil margin rendah sehingga bisa jual dengan harga super murah.

NURANI SUSILO, London

BERLOKASI di ujung Oxford Street, tidak jauh dari gedung Kedutaan Besar RI di London, toko pakaian itu tidak pernah sepi dari pegunjung. Setiap saat, pada jam operasi, konsumen berjubel di gedung tiga lantai yang luas itu. Mereka sibuk mencoba koleksi pakaian, kaus, sepatu, tas, serta beragam aksesori yang lain.

Di kasir, antrean selalu panjang dengan masing-masing pembeli menenteng paling tidak satu keranjang barang belanjaan. Selamat datang di Primark, toko high street yang fenomenal di Inggris. Di sana, baju dijual dengan harga yang sama, bahkan di bawah biaya sekali makan siang di London.

Oleh para pemerhati fashion namanya sering dipelesetkan menjadi Prada-Mark. Bahkan, selebriti terkenal seperti Coleen McLoughlin, istri bintang sepakbola Wayne Rooney, tanpa risih menenteng tas belanjaan Primark bersama tas bermerek Cloe atau Balenciaga. Ketenaran produk itu juga terlihat dari produk keluarannya yang ditampilkan majalah elite Vogue dan Instyle. Satu model baju bisa terjual hingga puluhan bahkan ratusan ribu potong.

Di Inggris yang kini terkena dampak krisis global (credit crunch), merek paling "in" saat ini bukan lagi Prada, Louis Vuitton, Gucci, Versace, atau merek desainer terkenal lain, tapi Primark. Sampai-sampai judul film terkenal tentang dunia fashion, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, The Devil Wears Prada pun diubah dengan nada guyon menjadi The Devils (now) Wears Primark.

Ketika Primark membuka cabang terbesarnya di Oxford Street, jantung perbelanjaan di London tahun lalu, peristiwa itu dijuluki sebagai cultural event dengan ribuan pembeli antre sepanjang jalan. Mereka masuk berdesakan, saling injak dan dorong, sehingga hampir terjadi kerusuhan. Di tengah ekonomi yang mendung saat ini, saat produk desainer terkenal dan high street (istilah di Inggris untuk industri retail) lain turun penjualannya, Primark justru makin bersinar terang.

Berdiri kali pertama di Dublin, Irlandia, pada 1969, penjualan Primark kali ini naik 25 persen atau senilai GBP 899 juta (899 juta poundsterling). Dengan prestasi tersebut, Primark menjadi toko pakaian terbesar kedua di Inggris. Penjualannya mencapai 10 persen dari total industri pakaian di sana atau selisih sedikit di bawah Marks & Spencer (12 persen).

Kunci sukses Primark sangat sederhana. Yakni, harga yang sangat murah, tapi dengan model yang tidak kalah dengan produk desainer terkenal. Pada saat krisis (credit crunch) seperti sekarang, Primark "tick all the boxes", begitu komentar umum di Inggris: bagus, gaya, modelnya selalu baru, dan murah!

Sebagai contoh tas merek Cloe yang dipakai Coleen McLoughlin harganya GBP 700 (sekitar Rp 11,3 juta). Namun, tas serupa versi Primark kurang dari seperseratus harga itu alias hanya GBP 5 (sekitar Rp 81 ribu). Jaket kulit Primark dijual GBP 12 sangat mirip dengan jaket kulit merek Gucci seharga GBP 3.000. Begitu pula sepatu. Harga sepasang merek Christian Louboutin adalah GBP 385, model sepatu serupa dijual hanya GBP 15 di Primark .

Sebagai gambaran murahnya harga-harga di Primark, pengeluaran untuk sekali makan siang di pusat kota London yang terdiri atas sandwich atau salad, crisps (keripik kentang), pisang atau apel, serta sebotol air mineral atau minuman ringan rata-rata GBP 10 atau sekitar Rp 162 ribu.

Awalnya Primark hanya digemari pelajar dan mahasiswa, kalangan yang memperhatikan penampilan, tetapi dengan bujet yang tipis. Di sana mereka bisa mendapatkan jins model terbaru dengan harga GBP 12, sementara paling murah di toko lain adalah GBP 40. Namun, sekarang pekerja kantoran serta fashionista yang berkantong tebal pun berburu di Primark.

"Saya mendapati editor fashion di Milan (Italia) pun membicarakan produk keluaran Primark," kata Paula Reed, editor majalah Grazia kepada BBC Money Program.

Primark beberapa kali menghasilkan produk "ikon" yang diburu warga biasa hingga selebriti. Tren ini diawali ketika Primark menjual jaket ala militer mirip yang sering dipakai Michael Jackson saat penyanyi itu tengah berjaya. Jaket itu kembali populer setelah Kate Moss, model paling terkenal Inggris, sering memakainya. Jaket serupa buatan Primark yang tersedia dalam 12 warna dengan harga GBP 18 (sekitar Rp 292 ribu) laris manis, terjual lebih dari 250 ribu buah.

Setelah jaket, pada musim panas lalu Primark kembali menjadi incaran. Hal ini terjadi ketika jaringan yang kini punya 123 cabang itu mengeluarkan polka-dot dress. Dijual dengan harga GBP 12 per potong, baju terusan kota-kotak berbagai warna dengan kancing di depan itu terjual hampir 100 ribu buah.

Belum lama ini sequin dress warna emas seharga GBP 18 sold out di seluruh toko dalam waktu singkat setelah majalah-majalah mode memujinya. Begitu dicarinya baju itu, melalui situs lelang internet Ebay beberapa pemilik menjualnya kembali dengan harga berlipat hingga GBP 85.

Primark bisa menjual baju dengan harga murah karena produknya dibuat di Tiongkok, India, atau Eropa Timur. Selain menekan biaya produksi, Primark mengambil margin keuntungan yang kecil untuk setiap produknya. Selain harga, Primark memastikan produknya mengikuti tren, ditampilkan dalam peragaan busana para desainer terkenal, atau dipakai para selebriti. Strategi kunci lainnya adalah kecepatan. Dari konsep hingga sampai di toko, Primark hanya perlu waktu maksimal enam minggu.

"Modelnya baru, warnanya bagus-bagus dan lucu-lucu. Model dan warna yang belum ada di Jakarta," kata Isnaeni Priyantini, wanita asal Bekasi, Jawa Barat, saat ditemui Jawa Pos di London. "Bahkan, dibanding di Jakarta, harganya masih jauh lebih murah," tambah ibu lima anak yang memborong tas dan sepatu Primark untuk oleh-oleh.

Isnaeni tidak sendiri. Kini, para turis mancanegara yang datang ke Inggris yang biasanya mengeluhkan mahalnya barang dan biaya hidup seperti menemukan oasis. Memang Harrods, pertokoan paling mewah di Inggris milik Mohamad Al Fayed, masih ramai. Namun, biasanya di sana mereka hanya cuci mata (window shopping) dan berfoto di monumen Puteri Diana-Dodi Al Fayed yang berada di lantai dasar. Tapi, giliran mau transaksi belanja, mereka berpindah tempat ke gerai Primark. (el)