Rabu, 31 Desember 2008

He...He...


Sumo di Tahun Baru
Hakuho, juara agung sumo, sedang pemanasan. Gayanya seperti sedang serius menghadapi lawan berat. Padahal, kali ini raksasa dari Mongolia itu hanya bertugas menumbuk nasi di sasana Miyagino di Tokyo, Selasa (30/12). Dia harus menghaluskan nasi dengan ''palu'' bambu. Inilah prosesi membuat mochi, kue tahun baru khas Jepang. Melihat semangat tingginya menghadapi nasi, pantas kalau Hakuho begitu gembrot!(roy)
[ Kamis, 01 Januari 2009 ]
Dahlan Iskan : Kisah Man of The Year yang Sebenarnya (2-Habis)
Tsunami Akhir Tahun dari Gedung Lipstik

Tahun baru ini babak baru pula bagi Bernard Lawrence "Bernie" Madoff. Konglomerat yang dituduh sebagai "penipu perorangan terbesar dalam sejarah manusia" itu segera diadili. Di sinilah akan terbuka lebih lebar apa yang sebenarnya terjadi dengan model bisnis Ponzi-nya itu.

Juga seberapa besar kelas penipuan yang dituduhkan kepadanya, yang sampai USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun itu. Termasuk kita akan tahu berapa skala Richter gempa bumi yang dia buat itu. Bagaimana tokoh-tokoh terkemuka Yahudi sekelas Carl J. Shapiro, konglomerat Hollywood Jeffrey Katzenberg, sutradara terbaik dunia Steven Spielberg, gubernur New York (saat itu) Eliot Spitzer, dan ribuan tokoh lain bisa teperdaya. Juga bagaimana sebenarnya kerja akuntan yang memeriksa perusahaan Bernie itu.

Orang juga segera tahu, mengapa broker kelas dunia seperti Thierry de la Villehuchet sampai bunuh diri. Seberapa besar sebenarnya dana yang lenyap di tangan Bernie sehingga dia tidak bisa menanggung beban batinnya. Maklum, dana itu milik orang-orang superkaya di Prancis yang dipercayakan kepadanya. Salah satunya dana milik Liliane Bettencourt, seorang wanita berumur 86 tahun yang juga dikenal sebagai orang terkaya nomor 17 di dunia. Liliane juga dikenal sebagai anak pendiri dan pemilik industri kosmetik L'Oreal.

Demikian juga bagaimana sebenarnya peran akuntan. Akuntan memang akan menjadi tokoh sentral di persidangan minggu depan. Menurut laporan polisi, perusahaan Bernie selalu diaudit oleh Friehling@Horowitz. Di bawah laporan keuangan itu, sebagaimana waktu tutup buku 31 Oktober 2006, ada nama dan tanda tangan David Friehler. Tapi, tidak bisa terungkap lebih jauh karena Friehler tutup mulut rapat-rapat kepada pers.

Kemutlakan sistem kapitalisme kembali dapat pelajaran. Lima tahun lalu, Amerika Serikat baru saja belajar bagaimana mengawasi akuntan. Yakni setelah terbongkar mega-skandal secara beruntun: Enron dan Worldcom. Sejak 2003 itu salah satu praktik prinsip kapitalisme "bisnis mengawasi dirinya sendiri", harus dikoreksi. Sejak saat itu kantor akuntan harus menjalani pemeriksaan otoritas moneter. Yakni, melihat apakah kantor akuntan itu masih menjalankan praktik akuntansi yang baik atau tidak. Sebelumnya, pemeriksaan itu juga ada, tapi oleh diri sendiri. Lalu terbongkar mega-skandal keuangan Enron dan Worldcom: akuntan ternyata justru jadi bagian dari skandal itu.

Mengapa masih juga bobol dalam kasus Bernie?

Ceritanya lain lagi. Peraturan di atas hanya untuk akuntan publik. Padahal, di AS, sebagaimana juga di banyak negara, termasuk Indonesia, banyak juga akuntan nonpublik. Untuk jenis ini, pemeriksaan (peer review) masih tetap dilakukan hanya oleh organisasi profesi mereka.

Lalu, apa kata organisasi akuntan nonpublik itu terhadap Friehling? Ternyata sangat mengejutkan. Sudah 15 tahun lamanya Friehling@Horowitz tidak mengikuti peer review. Dan, yang berlaku seperti Friehling ini ternyata banyak. Dari 350.000 anggotanya, hanya 33.000 yang masih mengikuti peer review. Jadi? Ya yalah. Terjadilah semua itu.

Negara bagian New York, salah satu dari enam negara bagian yang memang tidak memiliki aturan untuk akuntan nonpublik itu, ikut kelabakan. Pemerintah New York buru-buru merencanakan untuk segera membuat peraturan di bidang itu. Maka, di masa depan, kasus Enron, Worldcom, dan Bernie tidak akan terulang -hopefully.

Sebagai perusahaan yang sangat efisien (baca: kikir), tentu Bernie tidak perlu merekrut akuntan terkenal. Nama Friehling@Horowitz bukan nama besar. Kantornya pun di sebuah ruang 5 x 6 meter di pinggiran New York. Menurut para tetangganya, sebagaimana dilaporkan media setempat, dia bekerja sendirian. Setiap datang ke kantor selalu naik mobil Lexus RX. Namun, rata-rata hanya 10 sampai 15 menit dia berada di kantor. Lalu pergi lagi. Yang membuat namanya agak dikenal justru karena dia aktif sebagai pengurus persatuan masyarakat Yahudi di Kabupaten Rockland, tempat tinggalnya.

Jarak kantornya dengan kantor Bernie sekitar 50 kilometer. Sebab, kantor Bernie berada di Manhattan, pusat kota New York. Tapi, kantor ini juga sangat efisien, terutama kalau dilihat dari skala usahanya yang mencapai Rp 600 triliun. Karyawan dan staf yang bekerja di kantor itu hanya 24 orang. Padahal, perusahaan ini menempati satu lantai, di lantai 17 dari sebuah gedung yang megah.

Gedung itu sendiri kini amat terkenal. Semua media menampilkannya. Jadilah gedung ini sama terkenalnya dengan Bernie. Maka kalau Anda di New York dan bertanya di mana kantor Bernie, semua orang tahu: di Gedung Lipstik.

Gedung Lipstik ini letaknya di Third Avenue, persis di seberang gedung pusat Citigroup. Bangunannya relatif baru untuk kota lama seperti New York (dibangun pada 1986) dan karena itu masih kelihatan kinclong. Lobinya setingi sembilan meter, sehingga meski hanya 34 lantai, tinggi keseluruhan gedung sampai 134 meter. Eksteriornya berupa kaca dan alukubon yang kalau terkena cahaya menjadi sangat cemerlang. Di siang hari, bayangan gedung-gedung tinggi di sekitarnya terpantul di dindingnya. Bentuk gedung ini memang menyerupai tabung lipstik dan penanda antarlantainya dipilihkan warna merah -merahnya lipstik.

Tentu Bernie hanya menyewa di gedung ini. Pemiliknya sendiri baru saja berpindah tangan. Tahun lalu, dua perusahaan dari Israel, Tao Tsuot dan Financial Levers, secara bersama-sama membeli Gedung Lipstik seharga USD 650 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun: 8 persen dibayar tunai, sisanya dari pinjaman jangka pendek dan jangka panjang.

Kini lantai 17 gedung itu lebih sepi lagi. Kecuali di luarnya, tempat banyak wartawan sering bergerombol di situ. Tapi, tanda-tanda bahwa perusahaan di lantai 17 itu sudah kekurangan darah terlihat sejak 2005. Yakni, sejak pasar uang mulai ketat. Sejak itu sebenarnya Bernie sudah harus diinfus lebih sering. Lalu kian berat di tahun-tahun berikutnya. Bangkrutnya Lehman Brothers dan Bear Stern September lalu membuat Bernie seperti orang yang berdiri di bibir jurang. Dalam posisi gawat seperti itu seseorang datang dan membentaknya dari belakang: Bernie pun jatuh ke jurang.

Orang itu sebenarnya tidak membentak. Dia hanya berteriak karena panik. Uang orang itu habis baru saja ditelan krisis. Dia panik. Dia ingin cepat-cepat mencairkan uangnya yang masih tersisa. Yakni, yang ada di Bernie. Jumlahnya USD 7 miliar atau sekitar Rp 90 triliun. Dari sinilah ketahuan: uang itu sudah tidak ada juga. Maka skandal ini terbongkar. Dunia kaget. Tsunami akibat krisis belum hilang, sudah terjadi gempa susulan. Bernie angkat tangan.

Tsunami seperti harus terjadi di akhir tahun. Tsunami terbesar di Italia pada 1908 terjadi 28 Desember persis 100 tahun lalu. Tsunami Aceh terjadi di sekitar tanggal itu. Dan tsunami New York juga tak jauh-jauh amat.

Tsunami Bernie ini juga menimpa orang-orang miskin. Di puncak musim dingin seperti ini, orang-orang superkaya Yahudi biasa berkumpul di lapangan golf Palm Beach Miami. Yakni, lapangan golf berikut pervilaan eksklusif untuk orang-orang terbatas. Mereka berlibur di situ, main golf di situ, dan mengumpulkan dana sosial di situ.

Karena itu, yayasan-yayasan masyarakat Yahudi biasa mengartikan akhir tahun juga sebagai datangnya panen raya. Kali ini rezeki nomplok itu tidak ada lagi. Bahkan, banyak yayasan sosial yang harus mengumumkan menghentikan pengabdian mereka. (*)

Selasa, 30 Desember 2008

KEBO Gudel Tahun Baru


Welcome Tahun Kerbau
Singa laut bernama Jackie ikut merayakan tahun baru. Dia membuat atraksi di akuarium Surga Laut Hakkejima di Yokohama, Jepang, kemarin (30/12). Dengan mulut menggigit kuas, dia menuliskan chou atau tahun kerbau dalam bahasa Tiongkok. Selamat datang Tahun Kerbau! Tapi, di tahun politik 2009 ini jangan sampai memilih ''kerbau'' dalam karung...(roy)

Pecut
Money politics ancaman terbesar pemilu.

Ada yang lebih besar, habis terima duit terus golput!

Gus Dur: Bangsa ini tak menghargai perbedaan.

Termasuk perbedaan kubu parpol...

Popularitas calon pemimpin muda masih dibawah tokoh tua.

Ternyata, kaum jadul masih laku juga.

Gudang pustaka bisnis

Dahlan Iskan : Kisah Man of The Year yang Sebenarnya (1)
Pribadi Lengkap ala Hoping Ciak Kuping

Siapa "Man of The Year" pilihan saya?

Pasti ini: Bernard Lawrence Madoff. Panggilan akrabnya Bernie. Pernah disindir dengan nama "Madman" (orang gila), gara-gara ada kata "mad" di nama belakangnya. Padahal, Madoff itu sebenarnya harus dibaca "Maydoff".

Bukan saja karena dia telah mendapat gelar sebagai "penipu perorangan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia" dengan nilai Rp 600 triliun. Tapi, juga karena pribadinya yang lengkap.

Dialah yang dalam 70 tahun sejak kelahirannya di New York memberi contoh sempurna dalam kehidupan nyata di dunia. Pernah sangat miskin (jadi penjaga pantai), pernah sangat kaya (rumah-rumahnya bernilai sekitar Rp 600 miliar). Pernah sangat baik, pernah sangat jahat. Pernah sangat dermawan, pernah sangat kikir. Pernah memberikan keuntungan besar (ada kliennya yang sambil tidur saja dapat untung Rp 20 miliar per tahun), pernah membuat kerugian besar (seorang klien kehilangan uang Rp 5 triliun). Pernah hidup dengan kebebasan (begitu banyak rumahnya, termasuk yang menghadap lautan bebas), pernah dalam tahanan (sekarang).

Pernah membuat orang yang mestinya mati itu bisa mempertahankan hidup (dia banyak membantu rumah sakit) , pernah pula membuat orang bunuh diri (seorang kliennya bunuh diri minggu lalu karena tidak tahan kehilangan uang besar). Dia pernah bohong (bagaimana sebenarnya dia menjalankan bisnis ini), tapi dia juga pernah sangat jujur (sebelum ditahan dia membisikkan kata-kata jujur kepada stafnya mengenai bisnis jenis apa yang sebenarnya yang dilakukan itu, lewat kata-katanya "Ini model Ponzi dengan skala besar". Berkat kejujurannya ini, tanpa penjelasan yang berbelit, orang langsung tahu: oh, bisnis dana piramid).

Obama memang pantas jadi Man of the Year (dinobatkan majalah Time sebagai Person of the Year 2008). Tapi, terlalu sempurna kecemerlangannya. Bush juga pantas jadi Man of the Year. Tapi, terlalu jelek kelakuan kepemimpinannya. Shang Ren, tokoh puncak Buddha Suczi dari Taiwan itu juga pantas. Tapi, kedermawanannya untuk orang miskin "berlebihan". Cassano dari AIG itu, yang menjadi orang nomor satu dalam daftar penyebab krisis global ini, juga pantas. Tapi terlalu rakus dalam merampok orang kaya.

Sedangkan Bernie bisa memerankan semua perilaku Obama, Bush, Shang Ren, dan Cassano. Hebatnya lagi, teman terbaiknya adalah sekaligus korban terbesarnya.

Carl J. Shapirro, sama sekali tidak menyangka kalau Bernie bisa melakukan -untuk meminjam istilah teman-teman Tionghoa asal Fujian- "hoping ciak kuping". Istilah ini terkenal ketika petinju Mike Tyson menggigit sampai putus telinga (kuping) lawan tandingnya, Hollyfield. Ketika mulut Tyson mendekat ke telinga Hollyfield, dikira akan membisikkan kata-kata perdamaian. Tak tahunya kuping temannya itu diciak sampai darah berceceran.

Begitu akrabnya persahabatan itu sampai-sampai Shapiro sudah dianggap keluarga sendiri. Ketika Shapiro merayakan ulang tahun ke-95 awal tahun ini, Bernie duduk di meja utama keluarga. Ini sama artinya bahwa Bernie sudah dianggap keluarga -satu hubungan yang sangat istimewa. Sebagai sesama tokoh Yahudi kaya-raya, keduanya juga sering jalan-jalan bersama dan bepergian bersama. Bahkan, keduanya juga sudah biasa pergi sama-sama membawa cucu, sehingga hubungan keluarga ini sudah menyatu dalam tiga generasi.

Baru pagi 11 Desember lalu, Shapiro seperti mati duduk. Saat itu, menantunya, Robert Jaffe, meneleponnya. "Buka TV! Lihat berita!" ujar Jaffe yang juga konglomerat kaya raya. Berita itu, seperti diakuinya kepada harian lokal Palm Beach Post, "Seperti pisau tajam yang langsung menghunjam ke jantung". Itulah berita menangkapan Bernie dengan tuduhan melakukan penipuan USD 50 miliar. Tidak seharusnya jantung orang berumur 95 tahun menerima telepon seperti itu.

Kekagetannya menjadi sempurna karena dia langsung sadar bahwa di antara USD 50 miliar yang lenyap itu adalah uangnya. Nilainya USD 400 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jadilah Shapiro menjadi korban perorangan terbesar dalam bisnis Bernie. Sedangkan korban terbesar untuk kelas perusahaan adalah Walter Noel dengan nilai USD 7,5 miliar atau sekitar Rp 90 triliun.

Perhopengan Shapiro dan Bernie memang sudah lama. Keduanya sudah berteman sejak 45 tahun lalu. Ketika beranjak tua dan sudah waktunya pensiun, Shapiro menjual perusahaan tekstilnya. Yakni, jaringan merek terkemuka Kay Windsor. Hasil penjualan itu dititipkan ke Bernie dengan bunga 13 persen per tahun. Dengan cara ini, tanpa kerja apa pun Shapiro akan mendapat bunga Rp 20 miliar setahun.

Sang menantu yang meneleponnya tadi, Robert Jaffe, juga kena. Yayasan sosial Yahudi di Florida yang dia pimpin menempatkan dana yang tidak kecil: USD 90 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Dana ini juga ikut lenyap dan Jaffe langsung mengundurkan diri sebagai ketua yayasan. "Saya benar-benar tidak tahu sisi gelap Bernie," komentarnya di koran lokal itu.

Para sahabat itu, meski umumnya tinggal di New York atau Boston atau kota besar lain, sama-sama bertengga di vila mereka di dekat Miami, Florida. Saat musim dingin seperti Desember-Januari ini, memang banyak orang kaya berlibur ke wilayah selatan yang hangat. Kebiasaan ini juga ditangkap sebagai peluang bisnis yang besar. Maka dibangunlah di suatu tempat di Miami yang terpilih sebuah lapangan golf 18 hole. Lalu ada perumahan di sekitarnya.

Lokasi itu menghadap ke pantai lautan lepas Atlantik, tapi tidak terlalu terbuka karena berada di balik gunung. Perumahan umumnya dalam posisi terbaik menurut ilmu hongsui: bersandar ke gunung, menghadap ke laut. Tapi, para penghuni perumahan eksklusif itu kini hanya bisa bersandar ke nasib. Termasuk nasib harus meninggalkan rumah itu.

Salah seorang penghuninya sudah menghubungi perusahaan penjual rumah untuk pindah sewa apartemen saja. Begitu uangnya hilang, penghuni itu harus mencari sumber untuk hidup. Bahkan, harian setempat menulis cerita yang hampir tidak bisa dipercaya: banyak penghuni yang menjual meubel, pakaian, dan benda antik yang tentu semuanya mahal. Juga bukan cerita sedih karena yang dijual itu bisa jadi bajunya yang ke 100 atau tasnya yang ke-50. Sebab banyak barang itu, sebagaimana dikisahkan harian tadi, masih ada labelnya. Ini pertanda belum pernah dipakai. Atau kalau toh sudah tidak berlabel, barangkali baru dipakai sekali. Dan harga salah satu baju yang ditawarkan adalah USD 5.000 atau sekitar Rp 60 juta. Maklum, sebagian penghuni kompleks itu menempatkan semua dananya di Bernie. Begitu semua rekening diblokir, toh harus tetap punya uang cash untuk bayar listrik, air, dan fee lapangan golf. Fee-nya saja USD 300.000 atau sekitar Rp 4 miliar.

Yang boleh tinggal di kompleks ini memang orang-orang terpilih. Kaya saja tidak cukup. Harus kaya, dermawan, dan punya reputasi baik. Istilahnya harus in good standing. Kriteria "reputasi baik" itu adalah mau menunjukkan bukti kekayaan yang sebenarnya. Bahkan, harus menyertakan daftar riwayat hidup khusus: yakni riwayat kedermawanan. Harus dilihat dulu, sudah berapa tahun calon penghuni itu jadi dermawan, ke mana kedemawanannya itu disalurkan dan berapa besarnya. Masih ada lagi syarat lain: kesanggupan tetap jadi dermawan, minimal, dalam setahun, lebih besar dari fee untuk keanggotaan di lapangan golf itu. Dan yayasan sosial yang akan dibiayai kedermawanan ini praktis yayasan sosial milik komunitas Yahudi.

Dengan syarat seperti itu bisa dibayangkan siapa yang bisa bermain golf di situ dan sekaligus membeli rumah di sekitarnya. Apalagi jumlah rumahnya memang sangat terbatas. Hanya sekitar 100 rumah. Dengan kriteria seperti itu, pasti peminatnya adalah orang yang super kaya, dermawan dan kemungkinan besar Yahudi seperti Shapiro, Jaffe, dan Bernie. Rumah Jaffe yang seharga sekitar Rp 200 miliar, hanya kurang dari 500 meter dari rumah Bernie yang seharga Rp 120 miliar. (Sebenarnya itu juga tidak terlalu wah. Sebab, di Jakarta, saya perkirakan tidak kurang dari 200 rumah yang harganya di atas Rp 100 miliar).

Meski sudah beberapa kali ke Miami, saya tidak bisa ke situ. Bukan saja tidak memenuhi syarat, tapi juga tidak bisa bermain golf. Apalagi setelah ganti hati ini saya dilarang berada di bawah terik matahari yang lama. Sedangkan bagi orang-orang superkaya itu, lapangan golf bisa menambah kekayaan mereka. Mereka biasa bermain bersama, saling menawarkan peluang yang besar, saling bernegosiasi dan ketika permainan sudah sampai tee ke-6, biasanya sudah sampai tahap jabat tangan: deal! Tee-tee selanjutnya, sampai permainan 18 hole itu selesai, tinggal hiburannya. Yang tidak tahu, apakah Bernie juga selalu men-ciak hoping-nya di tee nomor 6 itu. (*)

Kamis, 25 Desember 2008



Pelampiasan Krisis
Krisis membuat kian prospektif bisnis ini. Perusahaan Venting Place menyediakan layanan pelampiasan stres di Akihabara, kawasan bisnis elektronik nan sibuk di Tokyo. Di dalam gerai berupa sebuah truk, seorang konsumen stres membanting mangkuk ke dinding pada Sabtu (20/12) lalu. Persis jurus klasik ''piring terbang'' dalam pertengkaran rumah tangga. Setelah lega mendengar prang...prang... prang, kasir akan menghitung berapa banyak barang yang dihancurkan. Apa tidak stres lagi melihat kuitansi tagihan?
[ Jum'at, 26 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Empat Contoh Pilihan setelah Krisis
Inilah empat contoh pertumbuhan ekonomi yang saya ambil dari orang-orang dekat saya:

Contoh I:

Dia insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang begitu lulus melamar menjadi wartawan Jawa Pos. Prestasinya baik, sedikit di atas rata-rata. Karir terakhirnya sebagai jurnalis adalah redaktur ekonomi. Dia mampu membeli rumah, mobil, menyekolahkan anak di universitas swasta terbaik, dan akhirnya punya menantu orang Jerman. Rumahnya, meski tidak besar, empat unit. Tersebar di berbagai lokasi di Surabaya.

Hidup sehari-harinya sangat tertib. Mobil pertamanya, bekas, kelas 1000 cc dirawat dengan sangat baik: bersih, mulus, dan kalau parkir tidak pernah mencong sedikit pun. Baju yang dikenakannya tidak mahal, tapi selalu rapi. Wajahnya penuh senyuman. Tidak pernah terlihat merokok atau ikut hura-hura. Tidak punya bon di kantor dan tidak juga senang utang ke teman-teman kerjanya. Hampir tidak pernah sakit sehingga asuransi kesehatannya sering kembali menjadi tabungannya.

Kalaupun dia punya beberapa rumah, bukan karena gajinya sangat besar. Tapi, dia sangat menghitung sistem keuangan rumah tangganya. Ketika kali pertama beli rumah (cicilan), dia pilih lokasi yang masa depan lokasi itu harganya terus naik. Dia memang wartawan ekonomi yang kritis terhadap perhitungan keuangan. Ketika rumah di lokasi itu sudah sangat mahal, dia jual rumah itu. Sebagian untuk melunasi cicilan, sisanya dia jadikan uang muka untuk dua rumah: gajinya yang baru sudah cukup untuk mencicil dua rumah yang harganya masih murah.

Dua rumah itu juga dia pilih yang lokasinya baik sehingga harga masa depannya terus naik. Beberapa tahun kemudian harga rumah itu sudah sangat tinggi. Lalu, dia jual lagi. Hasilnya untuk melunasi cicilan dan jadi uang muka untuk empat rumah. Kini semuanya sudah lunas. Dia termasuk orang yang berpikiran jauh ketika membeli rumah. Selain untuk tempat tinggal, itu juga untuk investasi. Bukan seperti saya, ketika pertama beli rumah dulu: beli rumah dengan pikiran sangat tradisional, hanya untuk tempat tinggal. Waktu itu saya tidak pilih-pilih lokasi. Yang penting terjangkau. Sampai sekarang, setelah 30 tahun pun, harganya tidak seberapa naik. Maklum, sering kebanjiran.

Kini dia menjadi direktur utama di salah satu anak perusahaan Jawa Pos.

Kalau saya renungkan, pertumbuhan ekonomi orang seperti dia kira-kira 15 persen setahun. Berarti jauh di atas pertumbuhan ekonomi negara yang sekitar 6 persen setahun itu.

Tapi, orang seperti dia adalah orang yang sedikit ikut menikmati bubble (gelembung) ekonomi. Dia ikut menikmati kenaikan harga tanah yang panas bukan karena sinar matahari, tapi karena digoreng. Dia ikut mencicipi gorengan itu. Maka bisa dibayangkan berapa persen pertumbuhan ekonomi dari orang yang menggoreng.

Tanpa ada penggorengan, orang seperti dia juga tidak akan ikut menikmati. Jadi, kalau ada pertanyaan ke mana larinya uang-uang hasil penggelembungan ekonomi yang menyebabkan krisis itu, salah satu di antaranya jatuh kepada orang seperti anak buah saya itu. Tapi, dia hanya ikut menikmati sangat sedikit. Yang banyak adalah yang menggoreng itu. Penggorengan akan sangat sukses kalau dilakukan di kota besar. Kian besar sebuah kota, kian dahsyat penggorengannya. Kian banyak juga hasil gorengan yang dinikmati. Kian kecil sebuah kota, kian sedikit ikut menikmati.

Apakah orang seperti anak buah saya itu sudah tergolong rakus yang kemudian menyebabkan krisis ini?

***

Contoh II

Kemarin malam, jam 03.00 pagi, saya ke percetakan Jawa Pos. Melihat proses pengiriman koran kepada agen-agen. Kali ini bukan karena saya harus bekerja keras, melainkan kangen saja pada apa yang saya lakukan 20-25 tahun lalu. Saya ngobrol dengan orang yang kerjanya mengangkut koran.

Dia sudah bekerja sebagai pengangkut koran sejak 1986, sejak masih bujang dan sejak kantor Jawa Pos masih di Jalan Kembang Jepun. Waktu itu dia sopir bemo. Bemonya milik orang lain, dia kerja setoran. Dini hari bemonya untuk mengangkut koran, siangnya untuk angkut penumpang. Lima tahun kemudian dia bisa membeli mobil bekas, Hijet 1000. Dia mulai mengangkut koran dengan mobil milik sendiri.

Sepuluh tahun kerja angkut koran, dia bisa beli mobil lagi. Kali ini mobil baru, cicilan, Mitsubishi T1200. Maka dia mulai bisa menyewakan dua mobil untuk mengangkut koran. Hasil dua mobilnya itu bisa untuk membeli rumah, menghidupi rumah tangga, membeli sepeda motor, dan membeli sepeda pancal untuk anaknya yang sekolah di SMP.

Sepuluh tahun terakhir ini dia tidak bisa menambah armada. Hingga kemarin, Hijet 1000-nya yang sudah berumur 25 tahun itu masih beroperasi. Memang, bodinya sudah tidak asli lagi. Tapi, sebagai mobil, Hijet itu masih berjalan. Dia belum punya gambaran kapan bisa membeli mobil yang ketiga. Bahkan, sepeda motornya harus dijual untuk membantu adiknya berobat. Beban rumah tangga, naiknya beban hidup, dan adiknya yang sakit menyebabkan perjalanan 10 tahun terakhirnya tidak sebaik 10 tahun pertamanya.

Kalau saya perkirakan, pertumbuhan ekonomi rekan pengangkut koran ini mula-mula 6 persen setahun, kemudian menjadi 4 persen setahun. Kalau dirata-rata dalam 20 tahun kehidupannya, pertumbuhan rata-rata ekonominya adalah 5 persen setahun. Hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi negara.

Dia termasuk yang tidak ikut menikmati ekonomi bubble atau ekonomi gorengan. Tapi, dia bisa ikut menikmati pertumbuhan ekonomi negara berkat kerja kerasnya. Meski pelan-pelan, ekonomi tetap naik. Sudah tentu tidak secepat yang dekat-dekat wajan penggorengan.

***

Contoh III

Saya punya seorang teman, yang mulai berusaha di Surabaya bersamaan dengan saya mulai memimpin Jawa Pos pada 1982. Dalam 25 tahun kemudian, kemajuan teman saya itu empat sampai delapan kali lipat kemajuan Jawa Pos.

Saya sering memikirkan mengapa perbedaan kemajuan itu bisa seperti bumi dan sumur. Tapi, saya tetap bersyukur bahwa perkembangan Jawa Pos bisa mencapai sekitar 30 persen per tahun, tanpa harus menjadi tukang goreng. Saya juga sering memuji teman saya itu sebagai pengusaha yang sangat sukses karena memang kerjanya luar biasa keras. Saya justru lebih sering iri kepada kemampuan kerja kerasnya daripada kemampuan meningkatkan kebesaran perusahaannya.

***

Contoh IV

Saya terkagum-kagum dengan teman saya yang lain. Sama-sama memulai usaha pada 1980-an, dalam waktu 10 tahun perkembangan perusahaannya luar biasa. Dialah yang paling hebat di antara teman-teman saya yang hebat. Bisnisnya tidak hanya tumbuh puluhan persen, tapi ribuan persen.

Saya lihat, dalam kehidupan sehari-harinya dia tidak pernah berhenti mikir bagaimana cara membesarkan perusahannya. Mulai taksi hingga oksigen. Mulai tanah sampai bank miliknya. Dia juga sangat rajin berolahraga, terutama renang. Saya pernah berutang nyawa kepadanya. Yakni, saat saya berenang di laut Pulau Lombok. Saya hampir tenggelam. Dia yang membawa saya ke pantai.

Tapi, dia hanya 10 tahun menikmati hasil kerjanya itu. Suatu saat ditemukan ada kanker di pangkreasnya. Dia down luar biasa. Lalu meninggal dunia, 15 tahun lalu. Dia tidak sempat menyaksikan krisis Asia pada 1997/1998 maupun krisis dunia 2007/2008.

***

Setelah krisis dunia berakhir nanti, model-model pilihan hidup berikutnya tidak juga jauh dari empat contoh tadi. (*)

Rabu, 24 Desember 2008

[ Kamis, 25 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Membayangkan Hidup setelah Krisis Global
Anggap saja krisis keuangan dunia ini akan selesai akhir tahun depan. Bagaimanakah gambaran hidup setelah itu?

Skenario pokoknya ada tiga. Pertama, keserakahan akan kembali lagi karena segala penderitaan akibat krisis sudah dilupakan. Berarti, kapan-kapan akan terjadi krisis lagi.

Kedua, dunia begitu takut akan terulangnya krisis seperti ini, sehingga dibuatlah berbagai aturan yang melarang terjadinya kerakusan. Ketiga, dan ini saya tidak bisa membayangkan penerapannya: tetap boleh rakus, tapi satu bentuk kerakusan yang tidak akan menimbulkan krisis.

Anggap saja kemungkinan pertama itu model ''sengsara membawa nikmat''. Kemungkinan kedua ''nikmat membawa sengsara''. Kemungkinan ketiga adalah ''ejakulasi dua kali: nikmat membawa nikmat''. Saya yakin semua orang akan memilih yang ketiga: ketika muda dimanja, jadi tua kaya raya, dan ketika mati masuk surga.

Sudah barang tentu terlalu dini membayangkan bagaimana ''hidup setelah krisis'' nanti. Bukankah krisis ini begitu hebatnya, sehingga belum tentu kita semua tetap hidup?

Dua hari lalu, seorang fund manager terkemuka sudah bunuh diri di rumahnya yang besar di kawasan elite New York, Madison Avenue. Dia adalah Thierry de la Villehuchet, yang dari namanya sudah bisa diketahui berdarah Prancis. Villehuchet adalah fund manager sukses yang mengatur uang milik orang-orang kaya Prancis. Uang itu ditempatkan di investment fund milik Bernard ''Bernie'' Madoff yang ternyata model investment uang berantai (lihat harian ini edisi 19 dan 20 Desember 2008).

Dana yang dikelola Villehuchet -senilai USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 23 triliun-- ikut jadi bagian dari uang Rp 600 triliun yang lenyap di tangan Bernie. Dua hari lalu, dia minta pembantu di rumahnya untuk pulang agak awal. Malam itu dia bilang akan lembur. Besoknya, ketika si pembantu datang, rumah tersebut terkunci. Dia ditemukan tewas dalam posisi duduk di kursi kerjanya yang mahal. Obat-obat yang mematikan terserak di mejanya.

Mungkin akan banyak yang mati seperti itu atau setengah mati.

Keadaan dunia Barat (dunia kapitalis) sekarang ini sebenarnya ibarat masa akhir kehidupan Pak Harto. Yakni, ketika presiden kedua Indonesia itu berada di RS Pusat Pertamina. Beliau memang hidup, tapi sebenarnya sangat bergantung pada alat yang disebut ''life support''. Kalau alat itu dicabut, kehidupan langsung berakhir.

Begitu juga dengan dunia kapitalis Barat sekarang ini. Masih hidup, tapi sebenarnya bergantung ''life support''. Kapan-kapan ''life support'' itu dicabut, langsung ambruk seketika. Kalau life support-nya Pak Harto waktu itu adalah ''mesin bantuan pernapasan'', life support-nya dunia kapitalisme sekarang ini berbentuk slang dana yang dikucurkan dari Federal Reserve (bank sentral) masing-masing. Anggap saja Pak Harto ketika itu bergantung pada mesin bantuan pernapasan, dunia kapitalisme sekarang bergantung pada mesin transfusi darah.

Bayangkan kalau slang transfusi dari federal reserve itu dicabut: dunia kapitalisme sekarang langsung ambruk. Lalu, entah apa yang akan terjadi setelah itu. Dunia Arab sekalipun akan ikut ambruk. Terlalu banyak dana Arab yang terputar di pusaran kapitalisme tersebut.

Sekarang ini saya jadi kepingin ke Dubai untuk melihat seberapa parah akibat krisis di Amerika itu menimpa salah satu negeri di Uni Emirat Arab tersebut. Saya hanya baca di berbagai media Barat bahwa Dubai kini juga sudah sangat terpukul.

Maka, sebelum membayangkan bagaimana hidup setelah masa krisis, sebaiknya memang berdoa agar slang life support transfusi darah itu tidak putus atau tidak dicabut. Dengan demikian, dunia kapitalisme punya waktu untuk memperbaiki organ-organ rusak dalam tubuhnya. Masa untuk perbaikan organ-organ itu pasti amat panjang karena yang rusak adalah jantung-paru-hati-ginjal sekaligus. Bahkan juga otaknya.

Dalam proses penyembuhan itu, Asia dianggap sebagai sumber donor ''darah'' yang meski kecil-kecil tapi banyak dan tersedia. Di Barat memang banyak darah, tapi tidak bisa didonorkan. Masing-masing memerlukan untuk dirinya sendiri-sendiri. Sekarang ini, lembaga-lembaga keuangan dunia sangat aktif mencari uang-uang kecil ke Asia. Termasuk ke Indonesia.

Orang seperti saya ini dikejar-kejar oleh banyak lembaga keuangan yang menawarkan berbagai fasilitas yang menggiurkan. Sudah tak terhitung pihak yang menawari kartu kredit dengan plafon Rp 250 juta tanpa saya harus bayar iuran sama sekali.

Terlihat benar bahwa mereka memang perlu darah segar dari Asia. Di Indonesia, jumlah orang seperti saya ini bisa mencapai 20 juta orang. Ini data yang mereka pegang. Tahun lalu, saya pribadi membayar pajak pribadi (belum termasuk pajak perusahaan) sebesar Rp 3 miliar setahun. Berarti, kekuatan ekonomi dari sejumlah orang Indonesia seperti saya ini sudah sama dengan kekuatan ekonomi satu negara Australia.

Masih banyak lagi bentuk daya tarik yang mereka tawarkan. Mereka terus mengejar agar kita harus membelanjakan atau menyimpan uang di mereka. Saya kagum pada kegigihan, usaha keras, dan keahlian mereka di bidang ini.

Dengan uang-uang segar itu, tubuh kapitalisme yang lagi bergantung pada life support lama-lama bisa memiliki darah sendiri. Lama-lama organ-organ tubuh mereka menjadi sehat kembali. Setelah tahap itu tercapai, life support bisa dicabut pelan-pelan. Dunia kapitalisme bisa kembali hidup normal.

Sebaiknya, setelah kehidupan menjadi normal, barulah bicara bagaimana gambaran hidup setelah krisis. Saya membayangkan tiga skenario itu, tapi masih terlalu dini untuk mengemukakan uraian detailnya. Kita belum tahu berapa lama proses yang diperlukan untuk tidak bergantung pada life support itu. (*)

Sabtu, 20 Desember 2008

[ Jum'at, 19 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Rekor si Pendosa Beralih ke Bernie
SIAPA saja yang baru kehilangan uang miliaran rupiah di Lehman Brothers (via Citibank Jakarta dan kantor-kantor cabangnya) atau Bank Century (via direkturnya yang cantik itu), sebaiknya mulai tersenyum: banyak orang yang jauh lebih bodoh dari kita semua. Mereka adalah orang-orang Amerika dan Eropa. Mereka baru saja kehilangan triliunan rupiah.

Karena kasus ini baru terungkap pekan lalu, pelakunya belum sempat masuk daftar 10 pendosa terbesar di dunia yang mengakibatkan krisis gobal ini. Joseph Cassano (urutan pertama pendosa terbesar itu, lihat harian ini edisi 18 November 2008) pun seharusnya segera menyerahkan gelarnya itu kepada Bernard Lawrence Madoff yang biasa dipanggil Bernie.

Di tangan satu orang Bernie ini telah hilang uang USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Uang itu milik ribuan orang dan lembaga keuangan. Mulai bank sebesar HSBC sampai uang milik yayasan-yayasan sosial. Selama ini mereka memang percaya penuh kepada Bernie. Lewat perusahaan milik keluarga Bernie, Madoff Investment Securities LLC, uang mereka memang dijanjikan bisa beranak pinak lebih cepat.

Selama 13 tahun janji itu selalu menjadi kenyataan. Uang yang ditempatkan di Bernie selalu mendapat bunga lebih besar dari bentuk investasi apa pun: deposito, obligasi, reksadana, equity, dan seterusnya. Ini karena Bernie melakukan bisnis perdagangan over the counter (OTC). Inilah bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, convertible bonds, dan seterusnya) dengan biaya murah.

Istilah over the counter sendiri, menurut Wikipedia, diambil dari istilah perdagangan obat. Yakni, jual beli obat yang pembelinya tidak perlu membawa resep dan bahkan tidak perlu ke dokter dulu. Penjualnya juga tidak perlu bertanya apakah pembelinya membawa resep atau tidak. Dengan demikian, seharusnya, obat bisa dijual lebih murah: tidak perlu ada unsur biaya ke dokter dan tidak perlu ada biaya pengganti kertas resep (komisi dokter). Tapi, bisa mendapat obat yang sama, asal tahu nama dan kegunaannya.

Untuk melakukan perdagangan over the counter itulah Bernie perlu modal besar. Modal bisa didapat dari siapa saja yang mau memercayakan uangnya ke dia, dengan imbalan return yang lebih menarik. Bunga lebih tinggi bisa dijanjikan karena Bernie tidak harus mengeluarkan banyak biaya untuk transaksi-transaksi itu. Ibaratnya, tidak perlu biaya notaris, biaya legal, biaya meterai, biaya konsultan, biaya asuransi, dan seterusnya. Semua penghematan biaya itu bisa dikompensasikan sebagai bunga yang lebih tinggi.

Dengan cara itu nama Bernie semakin top di mata para pemilik uang. Bahkan, banyak yang memberinya gelar "Bernie yang berhati Santa Claus" karena bisa memberikan uang lebih banyak daripada siapa pun. Kian banyak uang masuk, kian banyak aktivitas over the counter yang dilakukan. Lalu Bernie berkembang ke bisnis yang orientasinya juga hebat: market maker, off exchange, dan after hour trading.

Maka pada dasarnya Bernie mirip apa yang dilakukan orang di Wenzhou, Provinsi Zhejiang: uang tidak harus berlalu lalang lewat lembaga-lembaga resmi. Sebelum atau setelah perdagangan saham dilakukan secara resmi di bursa saham pun Bernie terus bisa melayani kebutuhan orang untuk transaksi itu. Dia ibaratnya bisa jadi bursa di saat bursa belum buka atau setelah bursa sudah tutup. Dia juga bisa jadi sarana pertukaran (instrumen keuangan) di luar sarana yang ada. Bahkan, dengan prosedur khusus yang lebih efisien. Bernie dikenal sebagai penawar yang tangguh. Kalau Anda menjual uang atau saham lewat dia, dia pandai menawarkan dengan harga terbaik. Kalau Anda mau membeli saham/uang lewat dia, dia akan membantu Anda menawar lebih hebat.

Masih ada yang membuat perusahaannya sangat efisien sehingga bisa memberikan jasa lebih baik kepada nasabah: semua keluarganyalah yang mengendalikan usaha itu. Mulai anak-anak, adik-adik, sampai ponakan-ponakannya. Meski begitu, semua transaksi sangat profesional: kalau ada satu saja yang tidak setuju, transaksi tidak dilakukan.

Bernie mendirikan perusahaan itu dengan modal hanya USD 5.000 hasil upahnya sebagai penjaga pantai di Rockaway Beach, New York. Usaha ini ditekuni dengan tingkat kehematan, ketekunan, kerja keras yang khas Yahudi. Saat itu hanya istrinyalah yang jadi pegawai. Yakni yang memegang buku. Ketika anak-anaknya sudah lulus kuliah, satu per satu mulai bergabung. Ini seiring dengan semakin besarnya perusahaan. Lalu adik-adiknya dan ponakan-ponakannya.

Perusahaan ini kemudian sukses besar. Bahkan, berhasil menjadi salah satu perusahaan terbesar dalam kancah Wall Street. Modalnya menjadi USD 300 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Bernie kemudian memang terkenal sebagai salah satu tokoh pengusaha Yahudi yang sukses. Banyak sekali yayasan sosial Yahudi yang dipercayakan kepadanya, termasuk menjadi chairman universitas Yahudi, Yeshiva University. Kalau memberikan sumbangan, Bernie terkenal dengan angka-angka yang setara puluhan miliar rupiah.

Minggu lalu dia ditangkap dengan dakwaan menggelapkan uang ribuan orang senilai Rp 600 triliun. Kini Bernie ditahan luar karena menaruh uang jaminan USD 10 juta atau sekitar Rp 110 miliar. Sebelum berangkat meninggalkan kantornya, Bernie sempat bicara dengan salah seorang direkturnya, apa yang sebenarnya terjadi. "Ini semua sebenarnya Ponzi Scheme," katanya sebagaimana dikutip sebuah media di Amerika.

Apa itu "Model Ponzi?" Benarkah dia sebenarnya tidak sekadar melakukan over the counter, off exchange, dan after hour trading, melainkan juga terutama melakukan praktik bisnis "Model Ponzi?"

Nama "Model Ponzi" diambil dari nama orang, Charles Ponzi. Dia orang Italia yang lahir pada 1903 yang kemudian bermigrasi ke Amerika. Pada 1920 Ponzi ditangkap karena melakukan bisnis aneh -yang waktu itu tidak ada namanya. Ponzi-lah yang menemukan teknik bisnis itu. Bisnis tersebut sekarang biasa dikenal dengan nama sistem piramid atau sistem berantai.

Saat ini semua orang sudah tahu apa yang dimaksud: Anda menaruh uang di situ. Lalu harus ada orang lain setelah Anda yang juga menaruh uang di situ. Maka, Anda akan dapat bunga sangat menarik. Bahayanya, semua orang juga sudah tahu: kalau suatu saat tidak ada lagi orang yang mau ikut di sistem itu, runtuhlah piramid itu. Lama-lama banyak sekali variasi atau modifikasi model ini. Bernie juga tidak sepenuhnya melakukan apa yang dilakukan Ponzi. "Ini model Ponzi dalam ukuran raksasa," ujar Bernie saat memberikan penjelasan pendek kepada direksinya saat ditangkap.

Apakah tidak ada lagi orang yang menaruh uang di Bernie sehingga modelnya ini runtuh? Begitulah. Karena ada krisis, semua orang perlu uang. Lalu ada yang mendadak menjual uangnya yang ada di Bernie ke hedge funds. Nilainya sangat besar, USD 100 juta. Maka ketika dana ini dicairkan, mulailah keruntuhan Bernie. Pihak yang sinis mengatakan, "bisnis model ini adalah bisnis rampok-merampok". "Untuk bisa membayar perampok harus merampok. Begitu seterusnya."

Krisis ternyata masih melahirkan krisis. Rangkaian ini masih belum diketahui di mana ujungnya. Minggu lalu pun, ketika orang sudah mulai membicarakan bahwa krisis mungkin berakhir tahun depan, tiba-tiba dunia dikejutkan oleh munculnya kasus Bernie ini. Entah ada kejutan apa lagi bulan depan. (*)

[ Sabtu, 20 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Kiat Bernie, Padukan Bunga dan Romantisme
Selama menjalani tahanan luar, Bernard Lawrence Madoff (lebih akrab dipanggil Bernie) tinggal di rumah utamanya seharga USD 50 juta atau sekitar Rp 600 miliar di New York. Terdakwa dalam kasus penipuan terbesar dalam sejarah dunia yang dilakukan oleh hanya satu orang (senilai Rp 600 triliun) itu memang masih punya rumah lain seharga Rp 100 miliar di Paris, rumah besar di Florida, serta berbagai aset mahal lainnya.

Namun, belum tentu harta-harta itu bisa disita untuk mengembalikan uang nasabah -biarpun hanya sebagian kecil. Secara hukum, Bernie kelihatannya bisa mempertanggungjawabkan praktik bisnisnya tersebut.

Kalaupun kelak dia dinyatakan bersalah, tidak tahu bagaimana kira-kira menghukumnya. Kalau pencuri ayam dihukum tiga bulan, seharusnya dia dihukum satu juta tahun. Padahal, dia sudah berumur 70 tahun. Bernie pasti punya alasan kuat untuk menghindari hukuman.

Misalnya ini: kalau saja tidak terjadi krisis yang begitu hebat, praktik bisnisnya itu akan aman-aman saja. Apalagi, hubungan Bernie dengan nasabahnya (hubungan hukum maupun emosional) sangat khusus. Praktik bisnis ''Model Ponzi'' yang dia lakukan (lihat tulisan saya di harian ini kemarin) memang luar biasa canggih dan rumitnya.

Sebenarnya, lebih dari 95 persen orang yang menempatkan uangnya di situ tidak mengerti bagaimana perhitungan yang dilakukan Bernie dalam memutar uang mereka, tulis sebuah media di AS. Itu sama dengan para korban bisnis derivatif yang dilakukan Lehman Brothers di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Mereka pada dasarnya tidak paham benar apa itu over the counter, margin trading, dual currency, credit default swaps, dan ratusan istilah lainnya lagi. Mereka hanya percaya pada para penyelenggaranya: Lehman Brothers, Citibank, dan lain-lain.

Di Hongkong lebih tragis lagi. Kalau di Indonesia korbannya orang-orang kaya, di sana ratusan ribu orang miskin ikut menderita. Di Hongkong ada produk yang bernama minibond. Yang menjual juga bank-bank terkemuka. Dalam brosurnya juga tertulis nama-nama besar seperti Lehman Brothers, DBS Bank, Standard Chartered, dan seterusnya. Semua mengira uang mereka aman. Pasti nama-nama besar tersebut akan memberikan jaminan.

Di antara korban itu adalah seorang wanita berumur 70 tahun yang hidup sendirian. Dia tergiur sales yang mendatanginya yang menawarkan bunga 2 persen lebih tinggi dari bunga bank. Semua uangnya dibelikan minibond. Nenek itu tidak lagi punya sumber penghasilan lain. Bunga tabungan tersebut satu-satunya harapan mempertahankan hidup. Karena itu, selisih 2 persen dia perhitungkan.

Dia sebenarnya punya satu anak, tapi justru menjadi tanggungannya. Anak itu, karena lemah mental, tidak punya jodoh dan penghasilan apa-apa. Ketika krisis terjadi, uangnya lenyap. Ada 30.000 orang di Hongkong yang tergiur minibond seperti nenek itu.

Minibond memang terjangkau masyarakat kecil. Tidak seperti perdagangan saham yang membelinya harus minimal satu lot. Mereka mengira minibond adalah bond dalam ukuran kecil, untuk orang kecil. Ternyata, minibond itu hanya nama perusahaan. Yakni, PT Minibond.

Perusahaan tersebut tidak bisa ditelusuri alamatnya karena didirikan di Cayman Island, sebuah pulau mini bebas pajak nun di Kepulauan Karibia sana. Inilah model perusahaan yang disebut ''perusahaan dua dolar''. Artinya, untuk mendirikan perusahaan seperti itu, modalnya cukup dua dolar.

Uang yang terkumpul dari orang-orang kecil tersebut ternyata diputar untuk membeli produk lain yang bunganya lebih tinggi. Yakni, produk subprime mortgage yang bermasalah itu. Para nasabah tidak tahu itu. Umumnya mereka hanya percaya pada nama besar Lehman Brothers serta bank-bank terkemuka di Hongkong dan Singapura.

Dalam kasus Bernie pun, mereka umumnya hanya percaya pada kebesaran nama Bernie. Juga percaya pada reputasinya. Sudah lebih dari 13 tahun Bernie selalu membayar bunga sampai lima kali lipat lebih besar dari bunga deposito. Yakni, sebesar 13,5 persen. Padahal, bunga deposito di AS saat itu hanya sekitar 2-3 persen.

Banyak kasus seperti itu awalnya memang semata-mata tergiur soal besarnya bunga. Tapi, dalam hal Bernie, kelihatannya unsur bunga tersebut masih ditambah unsur emosionalnya. Yakni, romantisme Yahudi.

Bernie memang seorang Yahudi, menjadi tokoh Yahudi, dan menjadi simbol kedermawanan Yahudi di seluruh dunia. Maka, sebagian besar korbannya adalah juga komunitas Yahudi. Ratusan yayasan sosial milik komunitas Yahudi menempatkan dana yayasannya di Bernie. Uang mereka itulah yang kini ikut lenyap. Ratusan triliun rupiah jumlahnya.

Sebuah rumah sakit Yahudi di New York, Long Island Jewish Medical Centre, bisa-bisa kehilangan uang USD 110 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Meski itu hanya 10 persen dari dana yang dimiliki yayasan tersebut, kehilangan Rp 1,4 triliun cukup menghebohkan. Yayasan kesehatan Yahudi lainnya kehilangan dana Rp 60 miliar.

Yayasan Federasi Yahudi Washington kehilangan Rp 120-an miliar. Orang seperti sutradara film terkemuka Steven Spielberg yang kebetulan juga seorang Yahudi yang juga punya yayasan termasuk yang menempatkan uangnya di sana.

Begitu banyaknya komunitas Yahudi yang menernakkan dananya di sana, sampai-sampai lembaga keuangan milik Bernie tersebut dapat nama panggilan ''Jewish T. Bill''. Itu mencerminkan betapa ada kesan di kalangan komunitas Yahudi bahwa menyimpan dan menernakkan uang di situ sama aman dan menguntungkannya dengan membeli T-Bill (Treasury Bill)-nya pemerintah AS.

Dengan kata lain, komunitas Yahudi sendiri mengakui kecerdikan dan kecemerlangan Bernie dalam mengatur uang. ''Sebuah cara rumit yang tidak mungkin bisa dilakukan orang lain''. Kecuali oleh pemerintah AS melalui T-Bill-nya.

Tanpa kepercayaan penuh seperti itu, tidak mungkin Bernie bisa berkembang demikian hebatnya. Begitu tepercayanya, sampai-sampai akal sehat tidak akan memercayainya. Terutama akal sehat keuangan. Semua uang yang diserahkan ke Bernie itu praktis sepenuhnya ''terserah'' Bernie seorang. Sesuatu yang tidak lazim dalam dunia keuangan yang mestinya punya prinsip ''semua orang tidak bisa dipercaya''.

Lihatlah kenyataan ini: Aset-aset nasabah itu pada dasarnya sudah dipegangkan kepada Bernie, hak memperdagangkannya juga sudah sepenuhnya terserah Bernie, dan bahkan hak mencatatkannya atau membukukannya juga sudah terserah pada Bernie. Jadi, bentuk pencatatannya bagaimana, tidak ada yang mempersoalkan. Itu berarti tiga fungsi keuangan/aset seperti sudah berada di satu orang yang sama. Sebuah tingkat kepercayaan yang tiada tandingannya.

Bandingkan, misalnya, kalau kita ikut program derivatif sekalipun. Tetap ada perincian ke mana uang kita, dibelikan apa, hasilnya bagaimana. Tiap periode kita bisa tahu: lagi untung atau lagi buntung. Bahkan, ketika uang kita tiba-tiba lenyap seperti yang dialami para nasabah Citibank/Lehman Brothers dan Bank Century, kita tetap saja bisa mendapatkan perinciannya. Yakni, perincian bahwa uang kita sudah menjadi nol rupiah (Rp 0).

Tapi, di Bernie, nasabah bahkan tidak perlu punya perincian account-nya. Tahunya tiap tahun dapat bunga 13,5 persen dan uangnya bertambah terus. Setelah kejadian dana-dana itu lenyap, barulah orang bicara perlunya audit oleh auditor tepercaya. Masalahnya, bukankah lembaga seperti Lehman Brothers juga diaudit oleh auditor tepercaya? Bahkan pakai pemeringkatan segala?

Kini semua sudah terjadi. Banyak yayasan sosial Yahudi yang mulai Januari nanti menghentikan kegiatan sosialnya. Krisis akhirnya mengenai juga lapisan yang paling miskin, yang biasanya menerima santunan dari berbagai yayasan itu.

Siapa bilang krisis kali ini hanya menimpa orang kaya? (*)

Senin, 15 Desember 2008

Senin, 15 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Sebuah Jalan Enak Menuju Bangkrut


Kalau sudah merasa sumpek yang sampai tidak tertahankan, perusahaan di Amerika Serikat biasanya langsung saja datang ke pengadilan setempat untuk mengajukan permintaan ini: minta dibangkrutkan.

Sejak krisis keuangan September lalu, tiap bulan hampir 100.000 perusahaan yang memilih bangkrut di sana. Beberapa di antaranya bukan perusahaan sembarangan: lembaga keuangan terbesar di dunia, Lehman Brothers; salah satu koran terbesar di dunia, Chicago Tribune; dan mungkin sebentar lagi disusul oleh perusahaan mobil terbesar di dunia, General Motors. Juga salah satu perusahaan judi terbesar di dunia: Las Vegas Sands.

Minta bangkrut adalah sesuatu yang sangat biasa di Amerika Serikat. Apalagi dalam situasi krisis seperti ini. Pada zaman normal saja, kabar tentang perusahaan bangkrut sudah dianggap menu harian. Bukan lagi berita di koran. Kalau toh di surat kabar sering ditemui kabar kebangkrutan, masuknya biasanya sudah di kolom iklan jitu. Yang bakrut bukan saja perusahaan, tapi juga perseorangan. Di zaman normal pun hampir setiap hari ada iklan mini yang menyebutkan siapa bangkrut hari itu.

Sistem hukum dagang di AS memang memungkinkan itu. Seseorang yang kepingin bangkrut langsung saja datang ke pengadilan distrik. Yakni pengadilan tingkat paling bawah. Keputusan pengadilan itu bersifat final. Tidak ruwet harus naik banding dan kasasi. Apalagi pakai peninjauan kembali (PK) segala. Untuk urusan pidana pun, upaya hukum di AS berhenti di pengadilan tinggi di negara bagian. Tidak bisa kasasi sampai mahkamah agung tingkat pusat.

Sesampai di pengadilan distrik itu, seseorang atau sebuah perusahaan bisa langsung mengajukan permintaan sendiri: mau dibangkrutkan sesuai dengan peraturan nomor XI (Chapter Eleven) atau minta bangkrut sesuai dengan peraturan nomor VII (Chapter Seven).

Pilihan itu sesuai dengan tingkat keperluan perusahaan. Misalnya saja, Anda yakin bahwa perusahaan Anda sebenarnya masih baik. Pasar produk Anda masih bisa bersaing. Kesulitan Anda hanyalah bahwa utang perusahaan Anda terlalu besar. Tidak kuat bayar pokok atau bunga. Lalu, aset perusahaan Anda sudah lebih kecil daripada utang itu. Para penagih sudah mulai mengancam Anda, misalnya akan menyita aset Anda. Maka, agar tidak "dikeroyok" kreditor, sebaiknya Anda langsung datang ke pengadilan distrik dan minta dibangkrutkan dengan cara menggunakan Chapter XI.

Di situ Anda harus menjelaskan: benarkah kalau saja para kreditor bisa lebih sabar dan memberikan berapa keringanan, perusahaan Anda masih baik dan pada gilirannya bisa memenuhi kembali seluruh kewajiban itu. Lalu, kepada hakim, Anda mengajukan permintaan apa: potongan bunga, penundaan bunga, tenggang waktu mencicil, mengolor jangka pinjaman, minta membayar ringan di depan meski agak berat di belakang, minta potongan pokok, dan seterusnya. Anda bisa hanya minta salah satu atau beberapa atau semua kemungkinan di atas.

Hakim di pengadilan itulah yang akan menilai proposal Anda itu masuk akal atau tidak, perusahaan Anda itu masih punya prospek atau tidak. Proposal Anda itu juga akan diberikan kepada semua pihak yang punya tagihan kepada Anda. Termasuk kepada para pemasok bahan baku, kontraktor, dan pihak perpajakan. Lalu, para pihak yang punya tagihan ke perusahaan Anda itu juga akan menilai proposal Anda itu masuk akal atau tidak. Lalu, keterangan Anda (juga para pemilik tagihan) didengar oleh hakim. Hakimlah yang memutuskan (final) untuk memenuhi permintaan Anda atau tidak. Kalau dipenuhi, pemenuhannya hanya sebagian, separo, atau seluruhnya.

Kalau hakim memenuhi permintaan Anda, maka meski sudah berstatus bangkrut, perusahaan Anda bisa terus berjalan seperti biasa. Operasi perusahaan bisa lebih lancar karena tidak terbebani kewajiban yang di luar kemampuan perusahaan. Bisa jadi, perusahaan Anda sangat maju lagi dan pada gilirannya mampu memenuhi seluruh kewajiban. Lalu, perusahaan Anda dikeluarkan dari daftar bankrut.

Dalam sistem itu, logikanya adalah:

1) tidak membunuh perusahaan, 2) terjadi keadilan di antara kreditor, 3) kreditor juga harus ikut bertanggung jawab karena besarnya utang di sebuah perusahaan itu, antara lain, juga akibat kesalahan kreditor: mengapa mau memberikan pinjaman.

Tapi, bisa jadi, hakim memutuskan bahwa perusahaan Anda tidak bisa diteruskan. Proposal Anda tidak masuk akal. Kalau sudah demikian, perusahaan Anda akan diserahkan kepada likuidator untuk diapakan. Bisa jadi, dilelang dan hasilnya yang tidak seberapa itu dibagi secara adil kepada seluruh kreditor. Atau perusahaan Anda dipecah-pecah. Unit yang masih bisa jalan akan diserahkan kepada salah satu atau beberapa kreditor untuk terus dijalankan. Unit-unit lain beserta asetnya dilelang.

Dalam hal penerbit Chicago Tribune, kelihatannya agak khas. Persoalan terbesarnya bukan di perusahaan koran itu, tapi di perusahaan induk atau holding-nya. (Besok pagi, di ruang ini, saya akan menguraikan bagaimana perusahaan surat kabar yang begitu gagah itu tiba-tiba saja harus bangkrut dan bagaimana masa depannya).

Penyebab permintaan untuk bangkrut sebenarnya bukan hanya tidak kuat membayar utang. Bisa juga oleh penyebab lain. Dalam kasus General Motors nanti, kalau sampai dilakukan, bisa jadi persoalannya juga di serikat buruh. Meski mungkin juga karena tidak kuat membayar kewajiban utang dan bunga.

Selama ini General Motor selalu mengeluhkan beratnya beban buruh. Ini akibat perjanjiannya yang berat dengan serikat buruh. Karena itu, kalau saja beban utang, cicilan dan bunga diperingan, belum tentu persoalan bisa selesai. Beratnya beban buruh di situ dinilai membuat perusahaan tidak kompetitif lagi.

Maka, dengan status bangkrut sesuai dengan Chapter XI, semua perjanjian yang pernah dibuat perusahaan itu batal dengan sendirinya. Bukan saja perjanjian utang-piutang, tapi juga perjanjian dengan serikat buruh. Ini tentu bisa dipakai sebagai bekal perusahan untuk bangkit lagi dengan memulai babak barunya.

Jadi, bangkrut (di Indonesia) dan bangkrut (di Amerika) itu berbeda. Kalau mendengar sebuah perusahaan di AS mengajukan permintaan untuk bangkrut, bisa jadi tidak berarti perusahaan itu tutup. Bangkrut tetap saja tidak enak. Tapi, beda negara beda akibatnya. (*) diambil dari jawapos langsung digunakan untuk keperluan data base dan referensi.

Pustaka.

Selasa, 16 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Demi Mutu Saham, Korbankan Mutu Koran


Koran memang diramalkan akan mati. Tidak lama lagi. Bangkrutnya perusahaan koran terkemuka Chicago Tribune pekan lalu seolah memperkuat ramalan itu. Apalagi, koran besar lainnya seperti Washington Post dan New York Times juga disebut-sebut punya persoalan yang mirip.

Apakah harian Chicago Tribune sudah tidak terbit lagi?

Bukan begitu.

Koran itu masih tetap jaya. Perkiraan saya, Chicago Tribune, sebagai koran, masih sangat menguntungkan. Los Angeles Times pun, anak perusahaan yang lebih besar dari Chicago Tribune, masih hebat. Berbagai koran lainnya yang juga dimilikinya masih baik-baik saja. Demikian juga anak-anak perusahaan yang berupa stasiun TV lokal.

Yang bangkrut itu adalah perusahaan induknya (holding). Kebangkrutan tersebut dikarenakan utang perusahaan induk itu mencapai (tarik napas dulu!): USD 13 miliar. Atau sekitar Rp 140 triliun. Sembilan kali dari nilai asetnya. Parah.

Mengapa sebuah perusahaan koran sampai punya utang sebesar gajah bengkak yang ditiup? Jawabnya agak rumit. Intinya adalah: gara-gara koran itu masuk bursa. Setidaknya semangat bursa itulah yang mendorongnya ke sana.

Jelekkah koran go public? Saya pernah merenungkannya lama. Yakni, sejak oplah koran-koran di AS secara konstan terus menurun sejak 10 tahun lalu. Sebuah data yang kemudian mendukung ramalan bahwa koran tersebut segera mati.

Saya pun berkesimpulan bahwa sebaiknya perusahaan tertentu seperti koran, universitas, dan rumah sakit jangan masuk pasar modal. (Itulah sebabnya, Jawa Pos yang sudah siap go public sejak 10 tahun lalu menunda terus pelaksanaannya. Lalu, memilih obligasi yang saya anggap sudah setengah go public. Obligasi Jawa Pos yang jatuh tempo tanggal 10 Desember kemarin sudah dilunasi sepenuhnya tanpa cacat sedikit pun. Dari pengalaman obligasi itu, Jawa Pos memperoleh banyak pelajaran sebagai perusahaan ''setengah'' publik).

Saya memperhatikan, dengan go public, terjadilah pertentangan dua arus yang berlawanan keras: idealisme dan komersialisme. Kalau mau tetap idealis, performance korannya di pasar modal tidak sukses. Harga sahamnya tidak akan bisa segemilang perusahaan yang bisa jungkir balik sebebas-bebasnya.

Tapi, kalau hanya ingin mengejar kecemerlangan di pasar modal, bisa jadi koran itu jadi korban. Langsung atau tidak langsung. Korannya hanya akan dipakai sebagai alat dongkrak harga saham.

Tentu saya tidak menuduh harian Chicago Tribune tidak punya idealisme. Atau idealisme Chicago Tribune dinomorduakan. Saya melihat profesionalisme Chicago Tribune terpuji di panggung dunia. Demikian juga Los Angeles Times. Luar biasa hebatnya.

Tapi, karena induk perusahaan koran itu go public, bisa jadi kehebatan Chicago Tribune justru dipakai alat untuk terus memompa performance perusahaan induknya tersebut. Chicago Tribune, juga Los Angeles Times, tampil sebagai ''bintang'' yang bisa ''dijual'' oleh induk perusahaan tersebut.

Itulah yang umumnya terjadi di perusahaan publik. Anak perusahaan yang mengkilap selalu jadi tumpuan. Contohnya, anggap saja, seandainya Jawa Pos itu perusahaan publik:

Sebagai perusahaan publik, Jawa Pos tentu harus menjaga agar harga sahamnya terus naik. Tidak boleh berhenti, apalagi turun. Kalau bisa, tiap tahun naiknya minimal harus 20 persen.

Kalau ada kalanya harga sahamnya tidak bisa naik, omzetnya harus terus naik. Juga asetnya. Pokoknya, di dunia ini, tidak boleh ada yang turun.

Bagaimana kalau suatu saat oplah Jawa Pos turun dan pendapatan iklannya juga turun? Bukankah penghasilannya akan turun dan labanya juga turun?

Iklim di pasar modal tidak mau tahu itu. Pokoknya harus naik. Direksi koran itu sendiri tidak mau terjadi penurunan: bonusnya bisa turun. Bahkan, bisa jadi, direksi koran itu sendiri yang ngotot untuk naik karena tergiur oleh bonus yang gila-gilaan.

Maka, kalau suatu saat terjadi penurunan kinerja perusahaan, jalan yang dipakai untuk mengatasinya adalah ''jalan pasar modal'': lebih cepat dan lebih mudah. Bukan jalan ''tradisional'' yang sulit dan lama.

Kalau masih jalan tradisional yang ditempuh, untuk mengatasi menurunnya kinerja koran, langkah yang diambil adalah memarahi wartawan: mengapa bikin berita tidak menarik. Atau memarahi bagian pemasaran: mengapa penjualan korannya turun. Atau memarahi bagian iklan: tidak becus cari iklan. Atau menyalahkan Tuhan: mengapa menurunkan hujan pagi-pagi yang hanya akan mengganggu peredaran koran. Setidaknya memaki gubernur Jakarta: setiap Jakarta banjir, oplah koran turun drastis!

Membina wartawan, mendidik orang-orang marketing, dan seterusnya adalah pekerjaan yang sulit serta memerlukan waktu lama. Apalagi kalau direksi perusahaan koran tersebut tidak mengerti berita yang baik itu yang bagaimana.

Maka, untuk mengatasi stagnannya performance perusahaan, sang direksi akan cenderung mengambil jalan pintas. Apalagi, jalan itu disediakan oleh sistem kapitalisme pasar modal.

Kalau (seandainya) Jawa Pos sebagai (seandainya) perusahaan publik mengalami situasi (seandainya) kesulitan seperti itu, bisa jadi direksinya mengambil ''jalan kapitalisme'' normal berikut ini:

Untuk menaikkan omzet dan aset, langsung saja beli perusahaan lain. Katakanlah beli saja Rakyat Merdeka. Tiga bulan lagi beli Riau Pos. Lalu beli Sumut Pos. Beli lagi Radar Lampung. Beli lagi Pontianak Post dan seterusnya.

Perusahaan yang dibeli tidak harus yang sudah untung. Yang penting, menurut perkiraan, akan bisa untung. Bahwa kenyataannya nanti tidak untung, jangan dipikirkan benar. Akan ada jalan yang lain lagi.

Untuk membeli-membeli itu juga tidak perlu punya uang. Cukup dengan utang. Jaminannya saham Jawa Pos. Bagaimana kalau nilai saham Jawa Pos tidak cukup besar untuk menjamin utang itu? Jangan takut. Meski kekayaan Jawa Pos Rp 4 triliun, berani saja utang sampai Rp 16 triliun.

Dengan membeli-membeli tadi, kekayaan Jawa Pos yang Rp 4 triliun itu bisa jadi langsung naik menjadi lebih dari Rp 16 triliun. Bukan karena koran-koran yang dibeli tersebut memang hebat, melainkan dengan membeli-membeli tadi, harga saham Jawa Pos sendiri naik drastis. Dengan kenaikan harga saham tersebut, kekayaannya berarti juga naik. Bahwa omzet dan labanya sebenarnya tidak terlalu naik, tidak ada hubungannya.

Yang penting, angka-angkanya sudah naik. Bahwa mutu berita yang dimuat koran-koran tersebut sebenarnya tetap tidak menarik, tidak akan pernah dipersoalkan. Untuk apa mempersoalkan yang kecil-kecil begitu, kalau sudah bisa diatasi dengan cara mudah.

Memperbaiki mutu redaksi adalah cara yang sulit: harus memperhatikan sampai soal titik, koma, detik, menit. Hasilnya juga tidak bisa segera diketahui. Memperbaiki pemasaran juga sulit: tiap pukul 03.00 harus sudah keliling agen-agen. Tidak ada alasan hujan atau banjir. Intinya bagaimana agar koran bisa benar-benar terjual dan tidak sekadar jadi tempat duduk agen.

Sedangkan menaikkan kekayaan lewat pasar modal jauh lebih gampang. Bisa dilakukan di depan komputer di sebuah kafe atau lobi hotel atau ruang rapat yang ber-AC.

Kalau tahun depan harga saham harus naik lagi, tempuh saja cara yang sama: beli lagi koran lain. Atau beli stasiun TV milik orang lain. Atau beli stasiun radio sebanyak-banyaknya. Utang lagi. Lebih kaya lagi.

Kalau ada perusahaan koran yang tidak dijual, paksa saja agar dijual: iming-imingilah ahli warisnya dengan harga yang mahalnya tidak terbayangkan. Mengapa mau membeli kelewat mahal? Lho, mengapa tidak? Toh, uang tersedia dengan mudah untuk dipinjam?

Bahkan, kalau yang mau dibeli itu perusahaan koran yang juga sudah go public, lebih mudah lagi: lakukan hostile take over (pengambilalihan secara kasar di bursa saham). Ini sah. Tidak melanggar hukum. Beberapa tahun lalu, sebuah koran yang sangat hebat di Amerika, Los Angeles Times, merasakan itu.

Waktu terjadinya pun akhir Desember seperti sekarang ini. Waktu itu, semua orang sudah tidak terlalu mikir perusahaan. Sudah sibuk mempersiapkan liburan Natal dan Tahun Baru. Hanya satu orang yang terus sibuk: direktur keuangan. Dia seperti tidak mau libur.

Ternyata, dia punya misi rahasia: mengatur agar dalam waktu sekejap Los Angeles Times di-hostile take over oleh seseorang. Tentu semua transaksi nakal tersebut harus terjadi dalam waktu sangat cepat: selama orang-orang liburan Natal.

Maka, dipikirkanlah caranya. Dokumen apa saja yang harus disiapkan. Bagaimana model transaksinya. Bagaimana menentukan harga belinya. Di mana tanda tangan harus dilakukan. Luar biasa banyaknya pekerjaan yang harus disiapkan. Maklum, yang mau diambil alih ini perusahaan raksasa. Apalagi, semua itu harus dilakukan secara diam-diam, rahasia, dan teliti. Tidak boleh menimbulkan gugatan di belakang hari.

Tibalah hari libur. Semua orang berlibur. Termasuk pemilik koran itu. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Begitu perayaan tahun baru selesai, pada hari kerja pertama tahun baru tersebut, keluarlah pengumuman di pasar modal: Los Angeles Times sudah dibeli Chicago Tribune! Pemilik aslinya sendiri baru tahu dari pengumuman itu!

Lalu, bagaimana nasib pemilik Los Angeles Times yang sudah memiliki koran itu sejak didirikan kakeknya lebih dari seratus tahun lalu? Tentu tidak bisa apa-apa. Pulang liburan, tiba-tiba saja dirinya sudah bukan pemilik koran itu lagi! Tiba-tiba saja di pagi hari di tahun baru itu dia kehilangan perusahaannya!

Memang, dia masih mendapat uang banyak. Sahamnya yang masih tersisa dihargai sangat mahal. Tapi, dia sangat marah. Apalagi ketika dia tahu bahwa otak pengambilalihan secara kasar tersebut adalah direktur keuangannya sendiri. Tapi, sang pemilik tidak bisa apa-apa. Semua transaksi itu sah adanya.

Sejak saat itu, banyak orang yang tidak bisa tenang ketika menjalani liburan Natal. Jangan-jangan ketika ditinggal libur, perusahaannya hilang.

Tapi, zaman berputar lagi. Kini, pemilik Chicago Tribune pun menyerah. Minta dibangkrutkan. Utangnya Rp 140 triliun. Tidak mampu membayar lagi.

Meski begitu, saya yakin harian Chicago Tribune dan Los Angeles Times sebagai anak-anak perusahaan masih sangat menguntungkan.

Saya khawatir, perusahaan koran yang go public, atau yang induknya go public, hanya akan mengandalkan mutu sahamnya, bukan mutu korannya. Saya menduga, mulai dari sinilah mengapa mutu koran tidak bisa mengimbangi mutu kehidupan manusia. Dari sini pula bermula mengapa oplah koran terus menurun.

Lalu, apakah Jawa Pos (bukan seandainya) tetap akan go public? Mungkin... ya! Tapi, untuk tujuan yang berbeda.