Tinggalkan Rock, Sekarang Hanya Dengar Musik Religi
Di era 1970-1980-an, grup SAS banyak disebut orang sebagai number one rock group in Indonesia. Lengkingan gitar yang dimainkan oleh Soenatha Tanjung merupakan salah satu alasan mengapa SAS mendapat predikat bergengsi itu. Perjalanan spiritual membawa sang gitaris legendaris tersebut sekarang benar-benar "lepas" dari musik cadas.
---
PARA penggemar rock Indonesia generasi 1970-an pasti mengenal Soenatha Tanjung, gitaris SAS. Maklum saja, Soenatha merupakan salah seorang dewa gitar Indonesia pada zamannya. Namanya dapat disejajarkan dengan para gitaris papan atas Indonesia saat itu. Antara lain, Ian Antono (God Bless). Menyebut sejarah musik rock Indonesia pun rasanya tak lengkap bila belum menyertakan nama Soenatha Tanjung.
Uniknya, di masa tuanya, Soenatha justru mengaku tak terlalu mengikuti perkembangan musik tanah air. ''Boleh dibilang, saya tak pernah mendengarkan musik lain, selain musik religi saat ini. Termasuk, musik rock sekalipun,'' tuturnya.
Makanya, Soenatha menyatakan tak bisa dan tak tertarik bicara tentang perkembangan musik tanah air belakangan ini. Satu-satunya yang diikutinya adalah perkembangan gitar, alat musik yang begitu dikuasainya. "Zaman semakin maju, gitar menjadi lebih canggih dan penggunaannya makin bervariasi," ujarnya.
Tentu saja, petikan gitarnya kini tak lagi meraung seperti saat menjadi gitaris grup cadas, namun lebih akustik dan religius. Karir Soenatha sendiri di bidang musik rock dimulai pada 1968. Ketika itu, Soenatha bergabung dengan AKA (Apotek Kali Asin), sebuah grup rock Surabaya yang dipandegani Ucok AKA Harahap. ''Saya masuk menggantikan Jerry Souisa yang mengundurkan diri,'' katanya. Sebelumnya, Soenatha memperkuat grup band Arista Birawa.
Pada 9 September 1974, AKA bubar. Pasalnya, sang frontman AKA, Ucok Harahap, mendirikan duo Kribo -sebuah duet vokalis bersama Achmad Albar. Namun, bubarnya AKA tak membuat Soenatha berhenti berkiprah di musik cadas. Akhir 1975, bersama Arthur Kaunang dan Syech Abidin, Soenatha membentuk grup baru bernama SAS. Tentu saja, SAS merupakan singkatan nama ketiganya.
Berbeda dengan AKA, SAS lebih banyak berkiblat pada jenis musik rock progresif ala ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Pengaruh band-band rock Inggris, khususnya Led Zeppelin dan Deep Purple, masih cukup kuat. Perbedaan lainnya, SAS tidak lagi menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sensasional yang menjadi salah satu cap dagang utama AKA. Meski begitu, dari segi musik, SAS justru lebih gahar. ''Kami (SAS) merasa lebih bebas mengeksplorasi musik rock,'' tandasnya.
SAS juga termasuk di deretan grup rock lokal yang amat produktif. Sampai 1993, SAS menghasilkan lebih dari sepuluh album. Agak berbeda dengan grup-grup lain, dalam empat album terakhirnya, grafik kualitas permainan musik SAS justru tampak semakin meningkat dan matang. Album Metal Baja, misalnya, kendati tampak kalah ''pamor'' daripada Baby Rock atau Bad Shock, sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu puncak karya SAS.
Namun, setelah peristiwa kesetrum itu, minat Soenatha pun mulai beralih ke hal-hal religius. Dia memang tidak secara langsung berhenti total dari jenis musik yang membesarkan namanya tersebut. Sebab, pada 1993, tiga tahun setelah Soenatha mendapat mukjizat kesembuhan, SAS masih mengeluarkan album Metal Baja. "Itu jadi album terakhir saya bersama SAS," tuturnya.
Setelah sepenuhnya mengabdikan diri pada dunia religi, Soenatha menyebut masih sempat beberapa kali bertemu dengan teman-teman satu grupnya dulu. Yang paling sering dengan Arthur Kaunang, pria yang kini juga banyak menghabiskan hidup untuk kehidupan agama. Dia menambahkan, yang dilakukannya dan Arthur saat ini bukan suatu kesepakatan bersama. "Ini semua adalah kerja Tuhan. Kalau bukan kehendak-Nya, sulit orang bersedia melayani Tuhan," tuturnya. (dio/ayi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar