[ Jum'at, 19 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Rekor si Pendosa Beralih ke Bernie
SIAPA saja yang baru kehilangan uang miliaran rupiah di Lehman Brothers (via Citibank Jakarta dan kantor-kantor cabangnya) atau Bank Century (via direkturnya yang cantik itu), sebaiknya mulai tersenyum: banyak orang yang jauh lebih bodoh dari kita semua. Mereka adalah orang-orang Amerika dan Eropa. Mereka baru saja kehilangan triliunan rupiah.
Karena kasus ini baru terungkap pekan lalu, pelakunya belum sempat masuk daftar 10 pendosa terbesar di dunia yang mengakibatkan krisis gobal ini. Joseph Cassano (urutan pertama pendosa terbesar itu, lihat harian ini edisi 18 November 2008) pun seharusnya segera menyerahkan gelarnya itu kepada Bernard Lawrence Madoff yang biasa dipanggil Bernie.
Di tangan satu orang Bernie ini telah hilang uang USD 50 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Uang itu milik ribuan orang dan lembaga keuangan. Mulai bank sebesar HSBC sampai uang milik yayasan-yayasan sosial. Selama ini mereka memang percaya penuh kepada Bernie. Lewat perusahaan milik keluarga Bernie, Madoff Investment Securities LLC, uang mereka memang dijanjikan bisa beranak pinak lebih cepat.
Selama 13 tahun janji itu selalu menjadi kenyataan. Uang yang ditempatkan di Bernie selalu mendapat bunga lebih besar dari bentuk investasi apa pun: deposito, obligasi, reksadana, equity, dan seterusnya. Ini karena Bernie melakukan bisnis perdagangan over the counter (OTC). Inilah bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, convertible bonds, dan seterusnya) dengan biaya murah.
Istilah over the counter sendiri, menurut Wikipedia, diambil dari istilah perdagangan obat. Yakni, jual beli obat yang pembelinya tidak perlu membawa resep dan bahkan tidak perlu ke dokter dulu. Penjualnya juga tidak perlu bertanya apakah pembelinya membawa resep atau tidak. Dengan demikian, seharusnya, obat bisa dijual lebih murah: tidak perlu ada unsur biaya ke dokter dan tidak perlu ada biaya pengganti kertas resep (komisi dokter). Tapi, bisa mendapat obat yang sama, asal tahu nama dan kegunaannya.
Untuk melakukan perdagangan over the counter itulah Bernie perlu modal besar. Modal bisa didapat dari siapa saja yang mau memercayakan uangnya ke dia, dengan imbalan return yang lebih menarik. Bunga lebih tinggi bisa dijanjikan karena Bernie tidak harus mengeluarkan banyak biaya untuk transaksi-transaksi itu. Ibaratnya, tidak perlu biaya notaris, biaya legal, biaya meterai, biaya konsultan, biaya asuransi, dan seterusnya. Semua penghematan biaya itu bisa dikompensasikan sebagai bunga yang lebih tinggi.
Dengan cara itu nama Bernie semakin top di mata para pemilik uang. Bahkan, banyak yang memberinya gelar "Bernie yang berhati Santa Claus" karena bisa memberikan uang lebih banyak daripada siapa pun. Kian banyak uang masuk, kian banyak aktivitas over the counter yang dilakukan. Lalu Bernie berkembang ke bisnis yang orientasinya juga hebat: market maker, off exchange, dan after hour trading.
Maka pada dasarnya Bernie mirip apa yang dilakukan orang di Wenzhou, Provinsi Zhejiang: uang tidak harus berlalu lalang lewat lembaga-lembaga resmi. Sebelum atau setelah perdagangan saham dilakukan secara resmi di bursa saham pun Bernie terus bisa melayani kebutuhan orang untuk transaksi itu. Dia ibaratnya bisa jadi bursa di saat bursa belum buka atau setelah bursa sudah tutup. Dia juga bisa jadi sarana pertukaran (instrumen keuangan) di luar sarana yang ada. Bahkan, dengan prosedur khusus yang lebih efisien. Bernie dikenal sebagai penawar yang tangguh. Kalau Anda menjual uang atau saham lewat dia, dia pandai menawarkan dengan harga terbaik. Kalau Anda mau membeli saham/uang lewat dia, dia akan membantu Anda menawar lebih hebat.
Masih ada yang membuat perusahaannya sangat efisien sehingga bisa memberikan jasa lebih baik kepada nasabah: semua keluarganyalah yang mengendalikan usaha itu. Mulai anak-anak, adik-adik, sampai ponakan-ponakannya. Meski begitu, semua transaksi sangat profesional: kalau ada satu saja yang tidak setuju, transaksi tidak dilakukan.
Bernie mendirikan perusahaan itu dengan modal hanya USD 5.000 hasil upahnya sebagai penjaga pantai di Rockaway Beach, New York. Usaha ini ditekuni dengan tingkat kehematan, ketekunan, kerja keras yang khas Yahudi. Saat itu hanya istrinyalah yang jadi pegawai. Yakni yang memegang buku. Ketika anak-anaknya sudah lulus kuliah, satu per satu mulai bergabung. Ini seiring dengan semakin besarnya perusahaan. Lalu adik-adiknya dan ponakan-ponakannya.
Perusahaan ini kemudian sukses besar. Bahkan, berhasil menjadi salah satu perusahaan terbesar dalam kancah Wall Street. Modalnya menjadi USD 300 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Bernie kemudian memang terkenal sebagai salah satu tokoh pengusaha Yahudi yang sukses. Banyak sekali yayasan sosial Yahudi yang dipercayakan kepadanya, termasuk menjadi chairman universitas Yahudi, Yeshiva University. Kalau memberikan sumbangan, Bernie terkenal dengan angka-angka yang setara puluhan miliar rupiah.
Minggu lalu dia ditangkap dengan dakwaan menggelapkan uang ribuan orang senilai Rp 600 triliun. Kini Bernie ditahan luar karena menaruh uang jaminan USD 10 juta atau sekitar Rp 110 miliar. Sebelum berangkat meninggalkan kantornya, Bernie sempat bicara dengan salah seorang direkturnya, apa yang sebenarnya terjadi. "Ini semua sebenarnya Ponzi Scheme," katanya sebagaimana dikutip sebuah media di Amerika.
Apa itu "Model Ponzi?" Benarkah dia sebenarnya tidak sekadar melakukan over the counter, off exchange, dan after hour trading, melainkan juga terutama melakukan praktik bisnis "Model Ponzi?"
Nama "Model Ponzi" diambil dari nama orang, Charles Ponzi. Dia orang Italia yang lahir pada 1903 yang kemudian bermigrasi ke Amerika. Pada 1920 Ponzi ditangkap karena melakukan bisnis aneh -yang waktu itu tidak ada namanya. Ponzi-lah yang menemukan teknik bisnis itu. Bisnis tersebut sekarang biasa dikenal dengan nama sistem piramid atau sistem berantai.
Saat ini semua orang sudah tahu apa yang dimaksud: Anda menaruh uang di situ. Lalu harus ada orang lain setelah Anda yang juga menaruh uang di situ. Maka, Anda akan dapat bunga sangat menarik. Bahayanya, semua orang juga sudah tahu: kalau suatu saat tidak ada lagi orang yang mau ikut di sistem itu, runtuhlah piramid itu. Lama-lama banyak sekali variasi atau modifikasi model ini. Bernie juga tidak sepenuhnya melakukan apa yang dilakukan Ponzi. "Ini model Ponzi dalam ukuran raksasa," ujar Bernie saat memberikan penjelasan pendek kepada direksinya saat ditangkap.
Apakah tidak ada lagi orang yang menaruh uang di Bernie sehingga modelnya ini runtuh? Begitulah. Karena ada krisis, semua orang perlu uang. Lalu ada yang mendadak menjual uangnya yang ada di Bernie ke hedge funds. Nilainya sangat besar, USD 100 juta. Maka ketika dana ini dicairkan, mulailah keruntuhan Bernie. Pihak yang sinis mengatakan, "bisnis model ini adalah bisnis rampok-merampok". "Untuk bisa membayar perampok harus merampok. Begitu seterusnya."
Krisis ternyata masih melahirkan krisis. Rangkaian ini masih belum diketahui di mana ujungnya. Minggu lalu pun, ketika orang sudah mulai membicarakan bahwa krisis mungkin berakhir tahun depan, tiba-tiba dunia dikejutkan oleh munculnya kasus Bernie ini. Entah ada kejutan apa lagi bulan depan. (*)
[ Sabtu, 20 Desember 2008 ]
Dahlan Iskan : Kiat Bernie, Padukan Bunga dan Romantisme
Selama menjalani tahanan luar, Bernard Lawrence Madoff (lebih akrab dipanggil Bernie) tinggal di rumah utamanya seharga USD 50 juta atau sekitar Rp 600 miliar di New York. Terdakwa dalam kasus penipuan terbesar dalam sejarah dunia yang dilakukan oleh hanya satu orang (senilai Rp 600 triliun) itu memang masih punya rumah lain seharga Rp 100 miliar di Paris, rumah besar di Florida, serta berbagai aset mahal lainnya.
Namun, belum tentu harta-harta itu bisa disita untuk mengembalikan uang nasabah -biarpun hanya sebagian kecil. Secara hukum, Bernie kelihatannya bisa mempertanggungjawabkan praktik bisnisnya tersebut.
Kalaupun kelak dia dinyatakan bersalah, tidak tahu bagaimana kira-kira menghukumnya. Kalau pencuri ayam dihukum tiga bulan, seharusnya dia dihukum satu juta tahun. Padahal, dia sudah berumur 70 tahun. Bernie pasti punya alasan kuat untuk menghindari hukuman.
Misalnya ini: kalau saja tidak terjadi krisis yang begitu hebat, praktik bisnisnya itu akan aman-aman saja. Apalagi, hubungan Bernie dengan nasabahnya (hubungan hukum maupun emosional) sangat khusus. Praktik bisnis ''Model Ponzi'' yang dia lakukan (lihat tulisan saya di harian ini kemarin) memang luar biasa canggih dan rumitnya.
Sebenarnya, lebih dari 95 persen orang yang menempatkan uangnya di situ tidak mengerti bagaimana perhitungan yang dilakukan Bernie dalam memutar uang mereka, tulis sebuah media di AS. Itu sama dengan para korban bisnis derivatif yang dilakukan Lehman Brothers di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Mereka pada dasarnya tidak paham benar apa itu over the counter, margin trading, dual currency, credit default swaps, dan ratusan istilah lainnya lagi. Mereka hanya percaya pada para penyelenggaranya: Lehman Brothers, Citibank, dan lain-lain.
Di Hongkong lebih tragis lagi. Kalau di Indonesia korbannya orang-orang kaya, di sana ratusan ribu orang miskin ikut menderita. Di Hongkong ada produk yang bernama minibond. Yang menjual juga bank-bank terkemuka. Dalam brosurnya juga tertulis nama-nama besar seperti Lehman Brothers, DBS Bank, Standard Chartered, dan seterusnya. Semua mengira uang mereka aman. Pasti nama-nama besar tersebut akan memberikan jaminan.
Di antara korban itu adalah seorang wanita berumur 70 tahun yang hidup sendirian. Dia tergiur sales yang mendatanginya yang menawarkan bunga 2 persen lebih tinggi dari bunga bank. Semua uangnya dibelikan minibond. Nenek itu tidak lagi punya sumber penghasilan lain. Bunga tabungan tersebut satu-satunya harapan mempertahankan hidup. Karena itu, selisih 2 persen dia perhitungkan.
Dia sebenarnya punya satu anak, tapi justru menjadi tanggungannya. Anak itu, karena lemah mental, tidak punya jodoh dan penghasilan apa-apa. Ketika krisis terjadi, uangnya lenyap. Ada 30.000 orang di Hongkong yang tergiur minibond seperti nenek itu.
Minibond memang terjangkau masyarakat kecil. Tidak seperti perdagangan saham yang membelinya harus minimal satu lot. Mereka mengira minibond adalah bond dalam ukuran kecil, untuk orang kecil. Ternyata, minibond itu hanya nama perusahaan. Yakni, PT Minibond.
Perusahaan tersebut tidak bisa ditelusuri alamatnya karena didirikan di Cayman Island, sebuah pulau mini bebas pajak nun di Kepulauan Karibia sana. Inilah model perusahaan yang disebut ''perusahaan dua dolar''. Artinya, untuk mendirikan perusahaan seperti itu, modalnya cukup dua dolar.
Uang yang terkumpul dari orang-orang kecil tersebut ternyata diputar untuk membeli produk lain yang bunganya lebih tinggi. Yakni, produk subprime mortgage yang bermasalah itu. Para nasabah tidak tahu itu. Umumnya mereka hanya percaya pada nama besar Lehman Brothers serta bank-bank terkemuka di Hongkong dan Singapura.
Dalam kasus Bernie pun, mereka umumnya hanya percaya pada kebesaran nama Bernie. Juga percaya pada reputasinya. Sudah lebih dari 13 tahun Bernie selalu membayar bunga sampai lima kali lipat lebih besar dari bunga deposito. Yakni, sebesar 13,5 persen. Padahal, bunga deposito di AS saat itu hanya sekitar 2-3 persen.
Banyak kasus seperti itu awalnya memang semata-mata tergiur soal besarnya bunga. Tapi, dalam hal Bernie, kelihatannya unsur bunga tersebut masih ditambah unsur emosionalnya. Yakni, romantisme Yahudi.
Bernie memang seorang Yahudi, menjadi tokoh Yahudi, dan menjadi simbol kedermawanan Yahudi di seluruh dunia. Maka, sebagian besar korbannya adalah juga komunitas Yahudi. Ratusan yayasan sosial milik komunitas Yahudi menempatkan dana yayasannya di Bernie. Uang mereka itulah yang kini ikut lenyap. Ratusan triliun rupiah jumlahnya.
Sebuah rumah sakit Yahudi di New York, Long Island Jewish Medical Centre, bisa-bisa kehilangan uang USD 110 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Meski itu hanya 10 persen dari dana yang dimiliki yayasan tersebut, kehilangan Rp 1,4 triliun cukup menghebohkan. Yayasan kesehatan Yahudi lainnya kehilangan dana Rp 60 miliar.
Yayasan Federasi Yahudi Washington kehilangan Rp 120-an miliar. Orang seperti sutradara film terkemuka Steven Spielberg yang kebetulan juga seorang Yahudi yang juga punya yayasan termasuk yang menempatkan uangnya di sana.
Begitu banyaknya komunitas Yahudi yang menernakkan dananya di sana, sampai-sampai lembaga keuangan milik Bernie tersebut dapat nama panggilan ''Jewish T. Bill''. Itu mencerminkan betapa ada kesan di kalangan komunitas Yahudi bahwa menyimpan dan menernakkan uang di situ sama aman dan menguntungkannya dengan membeli T-Bill (Treasury Bill)-nya pemerintah AS.
Dengan kata lain, komunitas Yahudi sendiri mengakui kecerdikan dan kecemerlangan Bernie dalam mengatur uang. ''Sebuah cara rumit yang tidak mungkin bisa dilakukan orang lain''. Kecuali oleh pemerintah AS melalui T-Bill-nya.
Tanpa kepercayaan penuh seperti itu, tidak mungkin Bernie bisa berkembang demikian hebatnya. Begitu tepercayanya, sampai-sampai akal sehat tidak akan memercayainya. Terutama akal sehat keuangan. Semua uang yang diserahkan ke Bernie itu praktis sepenuhnya ''terserah'' Bernie seorang. Sesuatu yang tidak lazim dalam dunia keuangan yang mestinya punya prinsip ''semua orang tidak bisa dipercaya''.
Lihatlah kenyataan ini: Aset-aset nasabah itu pada dasarnya sudah dipegangkan kepada Bernie, hak memperdagangkannya juga sudah sepenuhnya terserah Bernie, dan bahkan hak mencatatkannya atau membukukannya juga sudah terserah pada Bernie. Jadi, bentuk pencatatannya bagaimana, tidak ada yang mempersoalkan. Itu berarti tiga fungsi keuangan/aset seperti sudah berada di satu orang yang sama. Sebuah tingkat kepercayaan yang tiada tandingannya.
Bandingkan, misalnya, kalau kita ikut program derivatif sekalipun. Tetap ada perincian ke mana uang kita, dibelikan apa, hasilnya bagaimana. Tiap periode kita bisa tahu: lagi untung atau lagi buntung. Bahkan, ketika uang kita tiba-tiba lenyap seperti yang dialami para nasabah Citibank/Lehman Brothers dan Bank Century, kita tetap saja bisa mendapatkan perinciannya. Yakni, perincian bahwa uang kita sudah menjadi nol rupiah (Rp 0).
Tapi, di Bernie, nasabah bahkan tidak perlu punya perincian account-nya. Tahunya tiap tahun dapat bunga 13,5 persen dan uangnya bertambah terus. Setelah kejadian dana-dana itu lenyap, barulah orang bicara perlunya audit oleh auditor tepercaya. Masalahnya, bukankah lembaga seperti Lehman Brothers juga diaudit oleh auditor tepercaya? Bahkan pakai pemeringkatan segala?
Kini semua sudah terjadi. Banyak yayasan sosial Yahudi yang mulai Januari nanti menghentikan kegiatan sosialnya. Krisis akhirnya mengenai juga lapisan yang paling miskin, yang biasanya menerima santunan dari berbagai yayasan itu.
Siapa bilang krisis kali ini hanya menimpa orang kaya? (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar